Beranda > Keheningan > LAHIR KEMBALI (rebirth)

LAHIR KEMBALI (rebirth)

Di Bali ada sebuah upacara yang disebut Dwijati ataupun Diksa. Upacara ini pada intinya adalah untuk membunuh atau membinasakan semua sifat-sifat buruk, angkara-murka (ahamkara) dalam diri manusia. Upacara ini dilakukan bagi mereka yang akan menjadi Pendeta (sulinggih). Dengan upacara ini diharapkan bahwa nantinya setelah menjadi Pendeta segala sifat buruk, ahamkara itu sudah hilang dari dalam diri atau batinnya. Dapatkah upacara yang hanyalah simbol ini sungguh-sungguh membersihkan batin manusia? Yang paling tahu hal ini tentulah para Pendeta, karena beliaulah yang telah melaksanakan upacara ini, bukan?

Dwijati atau Diksa ini dapat dikatakan adalah meditasi. Seorang meditator yang telah memasuki alam meditasi adalah sama dengan masuk kembali pada alam ketika pertama dia dilahirkan. Bayi yang baru terlahir adalah dalam keadaan suci, murni, ning-nirmala. Inilah sesungguhnya makna yang terkandung dalam upacara Dwijati ataupun Diksa itu. Bagaikan kembali lahir, seperti bayi yang murni, hening dan suci. Bagaimana dengan kita umat umumnya? Walaupun kita tidak melaksanakan upacara Dwijati itu; namun semestinya kitapun dapat mencapai kemurnian, keheningan diri ini lewat meditasi.

Diantara kita tentu telah banyak yang tahu ataupun telah melakukan meditasi itu. Kita tak perlu membahas apa itu meditasi. Kita mesti menemukan sendiri, bagi diri kita sendiri, apa ITU meditasi? Karena selama ini telah banyak diulas secara panjang lebar, tehnik, metode tentang bermeditasi. Masing-masing orang mestilah mencermati dan melihat bagi dirinya. Jika kita sungguh cermat mengamati, pastilah akan melihat hal itu terjadi dalam diri kita, bukan? Maka itu, sebanyak apapun ulasan dari kata-kata, tak’an mampu mendefinisikan apalagi mewujudkan meditasi itu dalam diri kita.

Sepulang dari Brahma Vihara….. hari larut, mungkin jam 24.00 lebih. Tiada apapun terlintas dalam benak. Ketika duduk dalam pengamatan yang hening…. tiba-tiba tubuh tersentak, bagaikan sengatan halus dari listrik. Kristal-kristal kubus es berwarna gelap kehitaman berkilauan, bergerak berlawanan arah jarum jam, dengan suara gemeresek, pletak-pletok memenuhi tempurung kepala. Kristal-krital ini meluas dalam ruang tak terbatas, dan dari dalamnya tersembul sekuntum bunga hitam menyerupai teratai. Bunga inipun berkilauan lebih terang dan dari sela-sela daun mahkotanya tersembul sulur-sulur warna-warni bagaikan lidah-lidah warna yang menjulang. SESUATU berkata ini adalah PINTU KEMATIAN. Yang berkata ini bukanlah pikiran, karena pada saat ini terjadi pikiran tak berdaya. Maka itu yang dikatakannya bukanlah kata-kata. (INI TAK DAPAT DIJELASKAN).

Kejadian ini terjadi begitu saja tanpa ada upacara Dwijati atau Diksa apapun. Bila kita membayangkan bahwa diri kita mengalami hal seperti itu, barangkali kita akan merasa bangga, mantap dan semakin yakin. Namun bila orang sungguh mengalami, dia bagaikan seorang yang habis nyemplung kedalam air jernih yang sejuk. Otaknya telah dibersihkan dari segala rasa. Dia melihat kemurnian, keheningan itu ada disitu. Orang yang sungguh melihat, mengalami hal ini, tak’an lagi terjerat dalam segala kepercayaan, segala ritual atau upacara apapun. Karena DIA melihat ini semua hanyalah simbol-simbol kosong yang tak ada nilainya.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: