Beranda > Keheningan > KEPERCAYAAN, HARAPAN DAN RASA TAKUT

KEPERCAYAAN, HARAPAN DAN RASA TAKUT

Telah berulang-ulang kali hal ini kita ungkap bersama-sama, namun demikian masih sangat banyak diantara kita yang belum dapat memahami. Dimanakah letak permasalahannya? Kenapa hal ini sedemikian sulitnya dimengerti, dipahami?   Kepercayaan adalah wujud tersembunyi dari RASA TAKUT yang mendambakan HARAPAN. Dapatkah kita melihat, menyimak hal ini?

Pertama-tama dapatkah kita melepaskan semua pandangan, pendapat, segala ide atau doktrin-doktrin yang selama ini kita pegang, yang kita yakini. Hal ini penting agar kita dapat menyimak tanpa bias dari kecendrungan-kecendrungan diri kita. Disamping itu kita mestilah sungguh-sungguh berminat, dan menaruh perhatian, mengamati sedalam-dalamnya untuk menyimak. Kepercayaan, rasa takut dan harapan ini ada didalam diri kita; cobalah kita gali, bongkar sampai keakar-akarnya, sehingga kita dapat melihat keseluruhan rupa, wujud seutuhnya dari kepercayaan, rasa takut maupun harapan ini.

Kepercayaan bukan hanya wujud rasa takut, namun kepercayaan adalah juga ketidak-tahuan. Bila orang terjerat dalam kepercayaan, maka dia terjerat dalam ketakutan dan sekaligus terjerat oleh KETIDAK-TAHUAN (avidya). Bila kita menghayati SANATANA DHARMA (eternal cosmic law), kitapun melihat hidup ini sepasti matematika. Seumpama kita masuk ruang ujian matematika; kita akan merasa takut apabila tak paham 2×2=2+2. Dan kita akan mempercayai siapapun yang memberi kita jawaban; apakah jawaban itu benar ataupun salah. Hanya orang-orang dungulah yang terjerat dalam percaya dan tidak percaya. Apabila orang sungguh paham 2×2=2+2, diapun telah melihat jawabannya, maka tiadalah berguna untuk mempercayai apapun, siapapun. Perlukah orang percaya bahwa dirinya hidup? Hanya orang yang tidak memahami dirinya, merasa perlu percaya bahwa dia hidup dan akhirnya TERJERAT dalam KEPERCAYAAN. Bila orang sungguh-sungguh paham, termasuk segala masalah yang terjadi dalam DIRINYA, dalam kehidupan ini; maka dia berhenti mempercayai apapun; termasuk omongan para pakar, para pemimpin, para pendeta, para guru dan tuhan sekalipun. Karena dia melihat apa adanya senyatanya. Ini bagaikan melihat sekuntum bunga dihalaman rumah kita; demikianlah adanya, kita tak perlu berdebat, mempercayai bahwa itu adalah bunga atau itu adalah buah. Dan kita tidak mesti takut bahwa bunga itu akan murka bila kita tidak mempercayainya; bila kita tidak memuja, bersujud kepadanya, bukan….?

Ambilah suatu contoh. Dengan kepercayaanKu yang solid, maka aku terus melapal nama-nama tuhan. Menyanyikan lagu pujian dan syukur, ‘berjapa’ atau mengucap mantram, wirid dan berzikir. Aku melakukan ini semua dengan rasa mantap, rasa yakin yang amat sangat kuat, karena aku percaya. Aku berbuat ini terus-menerus dengan khusyuk; dari pagi hingga sore dan dari sore hingga pagi nonstop. Selang beberapa lama tubuhku lemas, karena tak makan dan tak minum, energiku-pun terkuras. Selama aku melakukan ini, bolehlah semua masalahKu terlupakan, karena aku menggiring otakKu untuk berkonsentrasi pada mantram, wirid atau zikir apapun. Namun, dapatkah semua ini membebaskan batinKu dari masalah dirinya? Justru kepercayaan dengan segala konsep, metode, ritual, tradisinya hanyalah akan memperkuat kecemasan, ketakutan, harapan, kebingungan dan masalah-masalah lain diriku (sang-DIRI). Dapat aku melihat hal ini bahwa KEPERCAYAAN tiada manfaatnya, bukan?

Bagaimana kepercayaan ini bermula dalam diri manusia? Cobalah kita amati; kenapa ada kepercayaan dalam diri kita; kenapa kita percaya? Kenapa kita percaya TUHAN, atau apapun kita menyebutnya? Tanyakan pertanyaan ini dengan sungguh kepada diri kita……!!  Ketika pertama kali kita hadir di Bumi ini, diri kita dalam keadaan kosong, murni, tak ada kepercayaan apapun. Secara bertahap, ketika kita bertumbuh, otak kita mulai diisi, dicekoki oleh segala macam pengaruh dari lingkungan dimana kita hidup. Bila kita tumbuh dalam keluarga muslim, maka otak kita dibeban-pengaruhi oleh segala doktrin dan tradisi islam. Demikianlah keterkondisian otak kita berbeda-beda sesuai dengan beban-pengaruh lingkungan dimana kita dilahirkan. Inilah awal terbentuknya kepercayaan kita, yang merupakan bagian melekat dari siEgo. Semakin kuat kita mempercayai, semakin terjerat kita disana, dan batin kita semakin tertutup, dengan demikian kita tak’an dapat terbuka bagi ruang kehidupan yang maha luas yang tak terbatas ini. Dapatkah kita melihat hal ini? Bukankah ini adalah fakta kehidupan, yang terjadi pada diri kita….?

Dalam proses PENERIMAAN kepercayaan ini, tanpa disadari terbentuklah jaring-jaring rasa tersamar yang halus, rumit dan alot yang menjadikan permasalahan hidup bertambah komplek. Maka hal ini menjadi bertambah sulit dipahami, dan kebanyakan dari kita semakin terjerat dan berakhir disini. Permasalahan hidup yang komplek ini bagaikah benang kusut; manusia berkubang, terjerat dan berputar-putar terus didalam kepercayaan, harapan, dan ketakutannya. Marilah kita amati secara perlahan dan seksama. Ambilah suatu contoh; aku hidup dalam kepercayaanku Hindu. Dalam perjalanan hidupku, aku terjerat dalam banyak bentuk kesenangan. Untuk memuaskan diri dalam kesenangan-kesenangan ini, aku mestilah banyak uang. Karena dengan uang aku akan dapat membeli banyak sekali kenikmatan. Semakin aku memuaskan keinginanku, semakin bergeloralah nafsuku, demikianlah aku menjadi sangat serakah. Dan untuk memperoleh banyak uang, aku mau tak mau akan berbuat apapun, termasuk mencuri, korupsi dan sebagainya. Untuk dapat mempertahankan dan meraih lebih banyak kenikmatan yang telah kulekati, maka akupun berdoa, memohon kepada dewa-dewaKu, agar aku diberi lebih banyak rejeki dan lebih banyak kesehatan. Karena hanya dengan kesehatan dan uang yang banyaklah aku akan dapat meraup dan merengguk lebih banyak kenikmatan. Bila suatu saat aku gagal dalam meraih apapun; atau ada berita bahwa akan terjadi musibah, bencana tsunami; atau kesehatan diriku terganggu, maka aku merasa cemas dan takut. Dari ketakutan diriku, aku pun lebih banyak berdoa dan memohon kepada dewa-dewaKu dengan penuh harap dan juga rasa cemas kalau harapanku tak menjadi kenyataan. Demikianlah kepercayaanKu semakin kuat, atas dorongan dari harapanKu yang selalu merasa takut kehilangan kenikmatan, kesehatan dan rejeki. Semua proses ini terjadi dalam ruang batinku yang dipicu oleh si-Diri atau pikiranKu yang menginginkan, yang penuh ambisi, penuh harapan, dan sekaligus ketakutan.

Hal inilah yang terus-menerus beroperasi dalam diriku. Aku akan puas dan bangga bila aku berhasil, dan merasa kecewa bila aku gagal. Diantara rasa puas dan kecewa ini selalu ada harapan dan ketakutan. Dari harapan dan ketakutan ini aku berdoa dan memohon kepada tuhan, dewa khayalanku; dan ini memperkuat kepercayaanKu. Inilah hal yang mesti aku pahami. Untuk melihat hal ini lebih jelas, aku mestilah diam dan mengamati secara seksama. Bila aku dapat melihat dengan detail, keseluruhan dari keterkondisian diriku, maka aku pastilah paham dengan sumber penderitaanKu yaitu ketakutan dalam diriku. Namun pada umumnya orang merasa takut melihat atau menghadapi rasa takut itu; dan berpaling sehingga dia tak dapat memahami rasa takutnya.

Bila kita berpaling, untuk sementara rasa takut itu sepertinya menghilang. Kita berpaling dengan bermacam-macam cara; lewat doa, lewat kepercayaan, lewat hiburan, lewat minum ecstasi, lewat konsep, lewat suatu metode, lewat suatu latihan, lewat tradisi, lewat buku-buku, lewat guru-guru dan lain sebagainya. Demikianlah kita dapat melupakan atau berpaling untuk sementara dari ketakutan ataupun masalah-masalah diri kita yang lainnya. Dapatkah kita melihat dengan jujur, bahwa inilah kondisi diri kita umumnya. Inilah trik-trik yang selama ini kita lakukan untuk menanggulangan segala permasalahan hidup kita. Dan cara-cara ini sama sekali tak dapat menyelesaikan masalah-masalah hidup kita.

Cobalah diam dan amati…..! Dapatkah kita menghadapi masalah diri kita secara langsung? Menghadapi ketakutan dan segala ikhwal yang terkait, tanpa berpaling lewat trik-trik pikiran kita yang cerdik dan licik ini? Hadapilah diri ini seutuhnya, senyatanya, sejujurnya; maka kita akan melihatnya. Disitu ada harapan, ketakutan dan kepercayaan yang mencakup keseluruhan permasalahan hidup kita. Bila kita tak menghindar, tak berpaling; barangkali rasa takut yang menggiris itu semakin mencekik. Hadapilah…..! Jangan menghindar! Jangan sekali-kali berpaling! Jangan menolak ataupun menerima! Jangan berkomentar apapun! Hadapilah, Tataplah, Pandanglah…itulah adanya diri kita. Ketika kita menghadapi sangDiri dengan seluruh diri kita; yaitu dengan seluruh pikiran, kemauan, semangat, rasa, dan hati-nurani kita, disitu ada akumulasi energi yang membakar habis semua rasa takut. Disini hadir PEMAHAMAN total. Dalam pemahaman total ada kebebasan. Dan orang tidak akan pernah terjerat dalam kepercayaan maupun ketidak-percayaan. Bebas dari rasa takut maupun berani. Dalam batin seperti ini ada keheningan dari kejernihan pemahaman.

 

Note:

Bacalah artikel2 dlm blog ini scr perlahan scr meditatif. Bila perlu di-ulang sampai ada pemahaman.

Kategori:Keheningan
  1. ihsan
    12 Januari 2016 pukul 1:03 pm

    Mungkin buat si penulis artikel ini cukup berrharga dengan pengalaman batin yang mendalam, yang di tandani kutipan “Bacalah artikel2 dlm blog ini scr perlahan scr meditatif. Bila perlu di-ulang sampai ada pemahaman.” tp bagiku biasa aja. kalo ibarat betapa dalamnya bumi / tanah ini, pengalaman batin penulis ini baru menyingkapkan tumpukan sampah yg menutupi tanah itu, punulis ini belum menggali sedikitpun tanahnya.

    • 19 Januari 2016 pukul 7:20 pm

      Terimakasih komen anda Pak, smg anda menemukan sumber air dlm galian anda.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: