Beranda > Keheningan > PERSAUDARAAN UNIVERSAL

PERSAUDARAAN UNIVERSAL

Bila kita melihat selisih pendapat dalam milis-milis ataupun FB, membuat kita miris. Tak jarang silang pendapat ini menjadi debat kusir yang barangkali bisa memanas jadi kebencian dalam diri masing-masing. Namun disisi lain debat ini mungkin memberi manfaat yang dapat dijadikan kancah pembelajaran untuk mengasah intelek mencapai inteligen.

Apakah yang menyebabkan suatu dialog itu sampai menjadi debat kusir? Tentulah karena tak adanya titik temu. Karena para peserta bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Yang perlu disimak lebih jauh, kenapa kita bersikukuh dengan pendapat masing-masing? Disini tentulah karena kita meyakini kebenaran dari pendapat itu. Kita tak mungkin menganalisa pendapat-pendapat ini yang masing-masing tentu punya argumentasinya; namun kita mestilah mengurai benang kusut ini, agar ada kejelasan bagi diri kita masing-masing.

Dapatkah kita melangkah secara perlahan, karena hal ini adalah masalah yang pelik. Namun demikian kita mesti mengurai dan menyimak sampai tuntas agar kita dapat melihat senyatanya sumber dari masalah ini. Marilah kita buat suatu perumpamaan. Andai Aku dilahirkan dalam keluarga Kristiani, maka seluruh tindakan hidupku, lahir dan batin akan sesuai dengan keterkondisian diriku. Maka pandangan atau pendapatku juga akan sesuai dengan kondisi batinku. Dan se-umpama Anda dilahirkan dalam keluarga Muslim, maka pandangan atau pendapat Anda akan sesuai dengan keterkondisian batin Anda. Bila Anda dan Aku berdiskusi, maka cendrung tak’an ada titik temu. Karena dialog antara Anda dan Aku berdasarkan pada pendapat masing-masing yang tentu berbeda. Bila pendapat ini telah mengakar pada keyakinan yang solid, maka kemungkinan dialog ini bisa menjadi debat kusir, konflik dan lebih jauh kebencian.

Marilah kita menyimak secara perlahan. Cobalah kita pandang kedalam diri kita dan bertanya. “Bagaimanakah proses terjadinya pendapat atau pendirian (siAKU) pada kondisi diri kita saat ini?” Diamlah sejenak, ….bayangkanlah saat pertama kita hadir di bumi yang indah ini. Tiada apapun yang ada dalam diri kita. Kita hanyalah sebutir kehidupan dari berjuta-juta kehidupan yang tak terhitung, yang tak terpikirkan oleh otak kita yang terbatas ini. Bila kita melihat kelahiran diri kita, atau setiap kelahiran apapun, siapapun dimuka bumi; kita tentu melihat, bahwa kita dilahirkan sama; “kita dilahirkan dalam KASIH yang sama”, yaitu dalam hening, dalam kepolosan, dalam kemurnian. Inilah entitas sejati diri kita, inilah hakekat diri.  Bila kubandingkan diriku saat ini dengan saat pertama ku-lahir, bagaikan bumi dan langit.

Dengan melihat kontras ini, barangkali akan membawa kita pada perenungan mendalam untuk menyimak kedalam diri. Barangkali akan timbul banyak pertanyaan, yang mesti kita jawab untuk diri kita sendiri. Disini permasalahan menjadi semakin rumit dan pelik; karena setiap jawaban kita, adalah bentukan dari pikiran kita yang terkondisi, yang telah terpola, sesuai dengan pengaruh lingkungan dimana kita tumbuh. Kita punya kecendrungan, pembenaran-diri sesuai dengan keterkondisian kita masing-masing. Inilah hal yang mesti kita simak secara hati-hati dan cermat. Kita berpendapat bahwa kebernaran itu relative. “Ada kebenaran menurut Aku, ada kebenaran menurut Anda”; ada kebenaran menurut siA, siB, siC dan seterusnya. “Kebenaran menurut kaca-mata Islam, kebenaran menurut kaca-mata Hindu” dan yang lain-lainnya. Adakah ini KEBENARAN? Tiada MATAHARI menurut AKU atau ANDA atau menurut siA, siB, siC,… siZ. Matahari selamanya matahari. Matahari bukan milik saya atau anda.

Kebenaran-kebenaran menurut pendapat ini, bukanlah kebenaran. Ini hanyalah refleksi dari sebuah pikiran yang telah terkondisi oleh segala macam hal. Didalamnya penuh jebakan untuk mempertahankan eksistensi dirinya (siAku). Inilah yang menimbulkan debat kusir ataupun konflik dalam diri kita maupun pada dunia ini. Dapatkah kita melihat, menyimak sedalam-dalamnya hal ini? Dibutuhkan sebuah hati yang tulus, jujur dan terbuka. Apabila kita sungguh menyimak dan memahami, kita akan sampai pada kesederhanaan batin. Dalam kesederhanaan batin ini entitas sejati akan bersinar didalam hati. Dia adalah kemurnian, kepekaan, dan keheningan. Bila orang sampai disini, tiada apapun yang membuatnya untuk merasa DIRI LEBIH, sehingga tak ada apapun yang mesti dia banggakan ataupun pertahankan. Dengan demikian setiap dialog akan menjadi suatu percakapan dari hati ke-hati, karena dialog ini dilandasi oleh hati-hati yang tulus, murni, jujur dan terbuka. Hal inilah yang mesti sungguh-sungguh kita insyafi. Dan PERSAUDARAAN UNIVERSAL (tatwam-asi) seluruh umat manusia bukan hanya slogan dan mimpi semata. Untuk ini kita tak bisa hanya merindukan dalam doa, namun kita mesti menginsyafi, menyadari sedalam-dalamnya dan merealisasikan dalam tindakkan hidup ini.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. 23 April 2011 pukul 9:30 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: