Beranda > Keheningan > MENGAMATI FAKTA

MENGAMATI FAKTA

Ini adalah ceritra siKayun. Dengan perawakannya yang bongsor, maka sejak duduk di bangku SMP dia sudah disuruh “nyongsong Ratu Gede” (mengusung barongket yang telah disakralkan). Walaupun secara phisik tingginya telah mencapai 168cm, namun otot dan syarafnya tidaklah memadai untuk mengusung beban barongket yang sangat berat itu. Namun karena siKayun adalah seorang yang soleh dan sangat beriman, dia-pun selalu taat dan berbesar hati dengan bersemangat untuk mengusung “Ratu Gede” yang merupakan perwujudan “Dewa Sekala” itu. Setiap ada kesempatan, seperti, bila Ratu Gede “lunga ke beji” (pergi ke-permandian), “nangluk merana” (mengusir hama di-sawah), dan lain-lainnya, maka siKayunlah yang “nyongsong Ratu Gede” yang berat itu. Disamping keimanannya juga siKayun merasa senang dipuji-puji sebagai anak yang kuat. Perasaan-perasaan inilah yang membuat dia rela memaksakan diri untuk mengusung “Ratu Gede” yang berat itu, walaupun rasa sakit yang tak tertahan pada lehernya, sering membuat tubuhnya sampai gemetar.

Kegiatan ini tanpa disadari telah membuat susunan otot dan syaraf pada pundak dan leher (upper trapezius) mengalami ketidak seimbangan. Hal ini dapat menyebabkan aliran energi kedalam otak bagian kiri dan kanan tidak seimbang. Upper trapezius ini berkaitan erat dengan kerja ginjal, dan syaraf keseimbangan. Bila upper trapezius ini mengalami masalah, maka orang bisa tiba-tiba mengalami vertigo dan terjatuh. Dan apabila kondisi ini berkepanjangan sering menimbulkan konflikasi dengan otot iliacus yang memicu produksi enzime berlebihan antara usus halus dan usus besar. Kondisi ini akan menimbulkan rasa mual yang berlebihan hingga muntah-muntah, yang sering diprediksi sebagai maag oleh para dokter.

Inilah yang dialami oleh siKayun hingga dia duduk di bangku SMA, dan sakit ini tak kunjung sembuh. Walaupun dia terus berobat, dengan segala macam cara; ya ke dokter, ya ke orang pintar (dukun). Dan cara terakhir bagi keluarga siKayun yang beriman, tentulah dengan membuat banyak “upakara”, untuk dipersembahkan kepada para Dewa-Dewa. Juga “upakara” untuk “melukat” (pembersihan/pensucian diri) secara “sekala-niskala”, mandi di-laut atau di-“campuan” (pertemuan dua sungai).

Rasa jengkel dari dilematis antara keimanan dan fakta dirinya yang tak kunjung sembuh dari sakti, memuncak; sehingga siKayun sering mengalami histeria dan terjatuh seperti orang yang mengalami epilepsi. Kondisi ini mengantar dia kepada seorang dokter ahli sakit jiwa. Sakitnya tak kunjung tuntas; namun sedikit perubahan membuat harapannya selalu ada. Sampai tamat dari perguruan tinggi, dia kadang masih mengalami histeria dan terjatuh. Suatu ketika dia terdampar ke-tempat siPHT (Praktisi HealingTouch). SiPHT menjelaskan tentang sakit dan masalah dirinya; dan setelah diterapi beberapa kali siKayun pun terbebas dari histeria, maag dan vertigonya.

Sanatana Dharma adalah hukum semesta yang kekal-abadi (eternal cosmic law). Tiada akibat tanpa sebab. Bila sungguh-sungguh ada pemahaman, tiada apapun yang membuat resah-gelisah; tiada apapun yang mesti di-syukuri maupun dikutuk.

https://wayanwindra.wordpress.com

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: