Beranda > Keheningan > PUNCAK YANG SAMA

PUNCAK YANG SAMA

Melati memutih dihalaman depan rumah kita, menyebar harum semerbak ruang disekitarnya. Bukanlah tujuan siMelati untuk menyebar wangi, namun dia berbunga hanyalah berbunga.

Bagi yang telah membaca tulisan-tulisan terdahulu dari Blog ini, tentulah dapat melihat, kita ini bagaikan anak-anak yang asyik berlomba mendayung sampan. Kita ini ibarat orang yang sedang mencari mutiara, dan berlayar dengan sampan masing-masing. Namun ketika saling bertemu ditengah samudera kehidupan ini, kita justru melupakan tujuan utama kita yaitu untuk menemukan mutiara kasih yang berada didalam kedalaman semudera hati kita. (DEWA DI-DEWEKE). Malahan kita asyik bersaing mendayung sampan masing-masing berputar-putar dipermukaan yang dangkal. Dari persaingan ini tak jarang timbul perselisihan dan berkembang menjadi permusuhan dan kebencian. Pernahkah kita memperhatian tindakan kita yang sangat kekanak-kanakan ini? Untuk apakah kita menanam benih-benih kebencian didalam diri kita? Tidakkah pertanyaan ini penting kita ajukan kepada diri kita masing-masing?

Ibarat kita sedang mendaki sebuah puncak gunung, bolehlah kita menentukan route bagi diri masing-masing. Apakah lewat route timur, jalur barat, selatan ataupun utara… monggo! Asalkan kita sungguh mendaki tentulah kita akan tiba dipuncak yang sama. Barangkali saja Anda akan tiba lebih awal, karena langkah Anda lebih panjang. Dan siA tiba setelah Anda, kemudian siB menyusul dan yang terakhir adalah saya. Apakah yang terjadi bila Anda, siA, siB dan saya kini berada di-puncak gunung yang sama? Tentulah kita akan melihat hal yang sama bukan? Dengan demikian kita tak’an bertengkar tentang percaya dan tak-percaya, bahwa pemandangan dilereng sebelah barat akan sangat indah, menjelang matahari terbenam. Bila kita menghadap ke-timur maka kita pun akan melihat panorama yang sama indahnya dari puncak yang sama.

Lihatlah diri kita; kita akan terus berbantahan tentang percaya dan tak-percaya akan keindahan dilereng-lereng gunung, manakala kita belum sampai pada puncak yang sama. Puncak Kebenaran adalah satu. Selama itu kebenaran, mestilah itu kebenaran. Kebenaran bukanlah kebenaran menurut Anda atau menurut siA, siB dan saya. Seperti halnya tak ada puncak gunung milik saya atau milik Anda. Yang ada hanyalah puncak gunung. Hal ini sangatlah penting untuk disimak, agar kita berhenti bertengkar, dan langkah-langkah kita semakin kokoh untuk mendaki. Tiadalah gunanya kita bertengkar tentang pemandangan yang berbeda pada lereng-lereng yang berbeda. Bila kita sungguh melihat perbedaan ini apa adanya, kitapun akan berhenti bertengkar. Dan kita akan dapat melanjutkan pendakian sambil bercakap-cakap dari hati ke-hati.

Bila kita berhenti bertengkar, maka ada penghematan energi yang sangat bermanfaat bagi pendakian ini. Disamping itu; untuk dapat mendaki dengan cepat dan ringan, kita mestilah membuang semua beban yang mengganduli diri kita. Disamping pertengkaran, bungkusan barang-barang inilah yang sangat menghalangi pendakian kita pada umumnya, sehingga sangatlah sedikit dari kita yang sampai ke-puncak gunung. Pernahkah kita menyadari beban ini, kungkusan yang kita gendong kemana-mana? Bungkusan yang telah membeban-pengaruhi batin kita, sehingga kita hanyalah berputar-putar dilereng-lereng kehidupan yang terjal dan tandus ini. Beban ini adalah sampan-sampan yang merupakan sarana untuk menyelami samudera diri kita. Ketika kita tak menemukan mutiara kasih itu, tanpa disadari kita kemana-mana mengusung sampan masing-masing diatas kepala kita. Batin yang terbebani oleh sampan-sampan yang berat ini mau tak mau akan menjadi sangat lamban dan terseok-seok. Hal inilah yang terjadi pada kebanyaknya dari kita, tanpa pernah disadari. Batin seperti ini tak’an mampu melangkah kemanapun, dia tertindih dalam dogma, dalam konsep-konsep dan puncak gunung nan indah itu selamanya hanyalah menjadi mimpi dalam kepercayaannya.

Kepercayaan kita, bahwa penampakan panorama dari puncak gunung sangatlah indah, tak’an pernah mengantar kita ke-puncak. Tiada jalan lain, kita mesti membuang semua beban dan mulailah mendaki.

Kategori:Keheningan
  1. 17 Januari 2010 pukul 11:41 am
  2. 19 Juli 2013 pukul 10:56 am

    semoga Allah memberikan hidayah bagi kita semua aaminn…

  3. 19 Juli 2013 pukul 10:57 am

    hati-hati anda dalam kesesatan yang nyata

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: