Beranda > Keheningan > SOSIALISME SEJATI

SOSIALISME SEJATI

Sosialisme sejati adalah agama sejati. Bila orang-orang beragama sungguh-sungguh religius tentulah masyarakat sosialis itu telah terwujud. Namun senyatanya kita adalah masyarakat beragama sebatas kulit-luar, sebatas label. Kepercayaan kita hanyalah tumpuan harapan; hanyalah tiang sandaran bagi kita untuk berpegang, untuk berlindung. Hal ini tidak memiliki dasar moral yang kuat yaitu kemurnian, ketulusan dan kejujuran. Landasan sosialisme adalah moral, demikian juga agama sejati dilandasi oleh moral, cinta-kasih. Bila hal ini menjadi landasan dari tindakkan hidup kita maka tentulah tak’an terjadi masalah, kekacauan dalam kehidupan kita bernegara. Tak’an ada kasus Bank Century maupun kasus-kasus yang lainnya.

Pemikiran sosialisme berawal dari hakekat sejati manusia yaitu kemurnian dirinya. Demikian juga agama sejati adalah usaha manusia untuk kembali pada jati dirinya yaitu kemurnian dan keheningan. Dari kecerdasannya, manusia melihat hakekat dirinya, muncullah sosialisme yang merupakan kebutuhan mendasar yaitu persahabatan, persaudaraan, solideritas diantara manusia. Sosialisme sejati bukanlah sekedar wanaca, namun adalah tindakkan dari kepekaan hakekat hidup itu sendiri. Dan sosialisme kemudian menjadi suatu konsep, suatu ideologi untuk mencapai bagaimana masyarakat manusia dapat hidup dalam kesejahteraan dan kedamaian bersama-sama.

Bila kita menengok awal peradaban manusia, tiada sesuatu apa-pun yang menjadi hak milik pribadi. Bila kita jujur dan mau bertanya pada diri sendiri; yang manakah didunia ini milik diri kita? Bagi yang beragama tentu paham bahwa semuanya termasuk dirinya adalah milik tuhan, bukan? Namun karena kita tak pernah mempertanyakan, menyimak secara mendalam, maka kita mengklaim sebagai milik-KU. Dari sinilah awal semua penderitaan umat manusia. Keserakahan, pengejaran, persaingan, pertarungan, permusuhan, kebencian dan kecemasan tiada akhir. Walau kita memiliki sejuta tuhan; pergi setiap hari sembahyang ke-Gereja, ke-Mesjid, ke-Pura atau kemana-pun yang lainnya tiadalah bermanfaat, selama didalam diri kita memelihara hal-hal yang sangat bodoh ini, bukan?

Awal peradaban, manusia hidup bersama-sama, bekerja, berburu, menangkap ikan dan berbagi bersama atas hasil yang ada. Mereka hidup dalam kemurnian dirinya; tak ada keserakahan, tak ada persaingan, tak ada kebencian. Mereka hidup hanyalah hidup. Inilah sosialisme sejati, inilah agama sejati. Pada tahun-tahun 1950an, pagi-pagi saya akan pergi kerumah tetangga membawa serabut kelapa atau daun kelapa yang kering untuk meminta api. Tahun-tahun ini korek api sangat langka. Orang sekampung berbagi api dari satu sumber bara-api. Bukan hanya berbagi api, namun kadang mereka juga berbagi bahan makanan, atau masakan yang telah mateng. Orang-orang kampung yang berlebih akan berbagi beras, garam, ubinya kepada yang tak punya. Apakah landasan dari tindakkan mereka ini? Sudah barang tentu adalah kemurnian dari hakekat dirinya yaitu kejujuran dan ketulusan. Walau mereka tak tahu apa itu sosialis, apa itu agama, apa itu moral, namun tindakkan mereka senyatanya bermoral. Inilah sosialisme.

Kategori:Keheningan
  1. 24 Januari 2010 pukul 11:58 am

    mestinya manusia bisa menjadi pemimpin di bumi ini, setidaknya menjadi pemimpin dirinya sendiri. dengan menjadi pemimpin seyogyanya tidak memelihara hal-hal bodoh dan selalu mengedepankan hal yang bermanfaat.
    salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • 24 Januari 2010 pukul 1:11 pm

      Terima kasih komentnya Mas.
      Salam persaudaraan selalu…dari Beringkit

  2. andan satyagraha
    19 Februari 2010 pukul 6:05 pm

    Sosialisme = socius (pertemanan) isme (faham).
    inti dari sosialisme adalah menjunjung tinggi hubungan sesama manusia, tanpa menindas manusia lain. Dan seluruh agama mengajarkan demikian.

  3. anu
    6 April 2010 pukul 4:33 pm

    ya. dengan jadi sosialis sejati tak akan ada lagi perebutan kekuasaan dan pastinya tak akan ada kapitalisme.

    • 8 April 2010 pukul 7:46 am

      Ya betul sdr. Anu, sdr andan…; sosialis sejati adalah agama sejati, agama sejati adalah nurani. Bila manusia ini masih manusia tentu dia memiliki nurani; maka dia tak’an serakah, bukan? Namun banyak manusia yang telah berubah jadi buto ijo.

  4. 2 Februari 2012 pukul 3:24 pm

    Salam persaudaraan…..
    Artikel sosialis yg sangat menarik….
    Nice….

    • 4 Februari 2012 pukul 8:39 am

      Thanks sdr Cyber atas appresiasinya…., salam persaudaraan. Moga note2 kecil ini dpt meng-inspirasi kita agar kehidupan ini mjdi lebih baik.

  5. 30 Maret 2012 pukul 4:11 pm

    mantab menarik sekali
    semoga saya bukan termasuk orang yang egois😀

  6. 3 April 2012 pukul 9:59 am

    Sip…., semoga…! Salam sosialisme….

  7. 1 Mei 2012 pukul 1:37 pm

    dalam agama bukan dibedakan murni dengan tidak murni. tapi itu menjadi tingkatan, dimana yg hanya bersandar saja adalah tingkatan terendah dari keimanannya. dan jika ia murni, maka tingkatan tertinggi imannya. keduanya baik, tidak ada yg salah. jika semuanya belajar menjadi lebih murni, itu lebih baik.

    • windra
      2 Mei 2012 pukul 8:42 am

      Terima kasih sharing anda sdr. Chika.

  8. 3 Mei 2012 pukul 1:29 am

    terus om, aq mau bilang soal peradaban awal (di paragraf terakhir), bahwa ketika jaman berburu, menangkap ikan, berpindah ladang, kurang tepat jika dikatakan tak ada persaingan, keserakahan dan kebencian?! hehe. yg aku tahu antar kelompok juga bersaing kok om, untuk mempetahankan ladang dan area berburu. mereka berperang, membunuh, dan mnjajah. disana tidak ada kemurnian sejati (sosialis sejati/ agama sejati) secara majemuk. dan setelah agama sejati muncul (seperti budha, islam, kristen), semua diatur secara individu, semua diajak memurnikan individunya masing2. beda ma aturan kelompok (atau sekarng aturan daerah dan aturn negara) yang tdk mengintervensi individu bergerak ke arah kemurnian. —————————————– jadi menurut sy adlh, kemurnian sejati/agama sejati/sosialisme sejati itu terjadi ketika individu menjalankan agamanya dengan baik (bukan agama KTP saja). kalo pun tdk mempunyai agama, bukan berarti tdk mempunyai penuntun untuk mencapai kemurnian, mereka bisa mencarinya sendiri dengan kecerdasan hati. hehe. makasih ea om, diijinin sharing🙂

    • windra
      4 Mei 2012 pukul 3:17 pm

      Hehe…he..sy suka dgn sharing anda Chika. Betul sekali Chika, stlah kahidupan manusia terpecah kedlm kelompok2, kemungkinan persaingan itu ada. Persaingan muncul berawal dari keserakahan tentunya. Sy cuma mencoba menggambarkan peradaban paling awal manusia…, ktk mrk belum terpecah menjadi kelompok2 yg saling bersaing. Intinya, kapan saja bisa ada sosialis sejati atau agama sejati, manakala batin manusia bebas dari keserakahan. Dan anda betul…, hanya manusia2 cerdas yg mampu memahami, shg mrk dpt bebas dari keserakahan dan masalah2 yg lainnya.

  9. Zuki
    10 Juni 2012 pukul 12:24 pm

    Inilah hidup…..jgn pernah takut menghadapi hidup…..jalani dengan bijak seperti air mengalir….dan jgn berusaha menyalahkan orang lain….jgn nyontek perjalanan hidup….itulah yg murni……make it your self….be your self….hidup ini sdh ada blueprint-nya.

    • 11 Juni 2012 pukul 9:17 pm

      Thanks komennya sdr Zuki.
      Kt sering mendengar ungkapan ‘be your self’, namun tak jarang seseorang ingin seperti idolanya. Dan btp mdahnya kt bicara ‘biarlah hidup mengalir spt air’, tapi banyak orang hidup dlm konplik.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: