Beranda > Keheningan > SYUKUR ANAK PKI

SYUKUR ANAK PKI

Dr. Ribka Ciptaning Proletariat menulis buku dengan judul AKU BANGGA JADI ANAK PKI, sementara itu siPHT (Praktisi HealingTouch) mengatakan bahwa dia bersyukur jadi anak PKI. Kenapa dia bersyukur…? karena dia dapat mengenal penderitaan hidup lebih dini. Sebelum ayahnya dibantai pada hari Minggu, tanggal 5 Desember 1965, dia sering ikut dibawa-bawa oleh ayahnya (turba) turun kebawah, untuk melihat kehidupan pada lapisan paling bawah dari rakyat, sehingga dia melihat dan mengenal penderitaan itu lebih dekat, dalam usia belia.

Sebelum ayahnya terjun dalam ormas PKI, ayahnya adalah seorang penekun spiritual Hindu-Buddha, khususnya ajaran Theosofi (Krishnamurti). Dan pada masa mudanya ayahnya adalah seorang pemuda pejuang yang dua kali ditahan di “Alas Baha”, pada masa penjajah Jepang dan masa peralihan NICA. “Alas Baha” adalah tempat tahanan para pejuang Bangsa yang dianggap pemberontak oleh si penjajah. Ceritra-ceritra kepahlawanan dan pengalaman langsung yang dihayati dalam hidupnya, sebelum dan sesudah ayahnya dibantai mendewasakan batin siPHT.

Lebih-lebih setelah pembataian terhadap ayah, paman-pamannya, sepupunya, maka siPHT menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan penderitaan. Kematian ayahnya tak begitu mempengaruhi dirinya; karena kata ayahnya, bahwa seorang pejuang, seorang pemimpin mestilah berani berkorban demi Nusa dan Bangsa juga demi rakyat. Setelah peristiwa yang tragis itu, ditambah dengan rumahnya dibumi-hanguskan, praktis hidupnya kembali ke NOL. Dari sebuah ‘cita-cita’ yang luhur terperosok menuju ‘tiada asa’, dalam proses yang radikal. Mestikah dia menerima atau menolak?….tak ada pilihan baginya. Kesedihan, kamarahan, kebencian menyesak dadanya. Segala macam pertanyaan mengaduk di-otaknya. Kenapa, apa kesalahan dan dosa ayahnya? Dia sungguh tak mengerti, dia tak menemukan jawaban, jalan keluar, sehingga dia tak berkutik oleh realita ini. Pukulan dari realita ini merupakan tumpuan yang berharga bagi dirinya untuk bertumbuh dan belajar. Sejak saat itu hari-hari berlalu dalam kekosongan, dalam kesendirian, dalam keheningan. Keheningan ini mengantarnya pada kepekaan, sehingga ketika kelas 2 SMP, dia masuk dalam dimensi kemurnian dirinya (baca LUBANG JARUM KEHENINGAN) Tak ada tempatnya mengadu. Stigma anak PKI, otomatis mengucilkan dirinya dari masyarakat. Dia barangkali adalah orang yang paling miskin dan paling melarat saat itu, namun dia tak merasakan hal itu. Keheningan dari kekosongan itu lebih sering hadir menemaninya dalam mengarungi buasnya kehidupan. Dan sebagai anak lelaki tertua, singgasana kepala keluarga otomatis jatuh pada pundaknya. Kondisi ini memaksa siPHT terdampar di ibu-kota Negara untuk melakoni kehidupan dan bergabung dengan para gelandangan dan abang-abang becak DINNER di-pinggir rel kereta api, didepan Jembatan Goyang Ancol. (APAKAH ITU)

Namun tidak demikian halnya bagi Ibunya atau anggota keluarga yang lainnya. Peristiwa yang mengerikan ini tidak hanya menimbulkan penderitaan lahir-batin, namun menjadi trauma bagi anggota keluarga sampai akhir ayatnya; terutama bagi ibunya. SiPHT yang menjadi bagian dari kehidupan ini, dapat melihat langsung dan menyimak penderitaan itu dari dekat. Betapa dahsyatnya akibat dari KESERAKAHAN manusia. Hanya untuk meraih sebuah KEKUASAAN, sebuah kebanggaan, sebuah ambisi, mereka sanggup menghacurkan rumah-rumah dan membantai ratusan ribu anak-anak manusia yang tak berdosa, yang dikambing-hitamkan sebagai penghkianat. Dan ironisnya yang membantai itu adalah orang-orang beriman yang katanya hidup dalam kasih tuhan…., tuhan yang mana…?

Sejarah kelam Bangsa ini sungguh menggeris…, saking seremnya kita tak berani lagi menengok sejarah ini. Dan kita berusaha menutu-nutupinya. Dan Bangsa yang menganggap dirinya sebagai Bangsa yang Besar ini tak pernah berempati atau bersimpati kepada sisa-sisa korban tragi 1965 ini. Pernahkah Bangsa ini, para penguasa Negara ini menanyakan; bagaimana hati, perasaan seorang ibu, yang suaminya dibantai, rumahnya dihancurkan, dan hartanya dijarah…? sementara anak-anaknya masih kecil? Inikah sikap suatu Bangsa yang besar?

Kata pepatah, “orang yang besar adalah orang yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf, dan tak mengulanginya lagi.” Namun 44 tahun berlalu, tak satu-pun pemimpin Bangsa ini berani menengok sejarah yang hitam ini, apalagi berempati. Hanyalah GusDur yang barangkali masih memiliki nurani. Bila siPHT mengingat kata-kata ayahnya, bahwa seorang pemimpin mestilah memiliki jiwa yang besar. Seorang yang berjiwa besar adalah seorang yang berani mengakui kesalahan dan meminta maaf. Seorang pemimpin yang berjiwa besar adalah seorang yang berani berkorban jiwa dan raganya, demi rakyatnya, demi kejayaan Nusa dan Bangsa.

Bagaimanakah dengan para tokoh, pemimpin Bangsa saat ini…? Apakah mereka memiliki jiwa yang besar? Apakah yang telah mereka korbankan…? Beranikah mereka mengorbankan KESERAKAHANnya, sehingga mereka bisa berhenti menjadi koruptor….? Barangkali yang telah mereka korbankan adalah rasa malunya, sehingga mereka tebal muka, terhadap semua kritik. Tidakkah kita pernah menyadari, betapa UANG ini hanyalah memberi kita kesenangan dan ketidak-puasan?…. Aku sungguh tak habis pikir…? Adakah jaman ini bertambah maju..? Dalam bidang materi mungkin ya. Dalam bidang pendidikan; telah banyak dihasilkan Professor, Doktor, S1, S2, S3, S4 S-lilin… dst….. namun secara batiniah….? kelihatannya moral manusia ini bertambah merosot, bukan? Apa maknanya kalau kita menyebut diri sebagai manusia-manusia beriman…?

Tahun 1996 aku pernah punya usaha home-industri, “krupuk-ladrang”, dengan modal hanya RATUSAN ribu saja. Dalam waktu 18 bulan aku sudah dapat membeli dua buah sepeda motor Honda Astrea. Sementara BUMN-BUMN kita yang dikelola oleh para sarjana, dengan modal milyardan banyak yang merugi…? Apa artinya ini…? Rakyat amat sangat muak dengan ini semua….? Apa kalian para pemimpin, penyelenggara Negara tak pernah mengaca….? Bila boleh kusarankan, robahlah cara-cara lama, lakukanlah REVOLUSI BATIN. Kalian mesti menyadari sedalam-dalamnya bahwa materi itu tak’an memberi kalian kedamaian, keheningan, kemurnian dan kepekaan bagi dirimu. Insyaflah…wahai para pemimpin BangsaKU…!!

Kategori:Keheningan
  1. 4 Februari 2010 pukul 5:46 pm

    blog yang bagus dan informatif…sukses untuk Anda
    http://mobil88.wordpress.com🙂

    • wayanwindra
      4 Februari 2010 pukul 6:05 pm

      Terima-kasi komentnya kawan.

  2. andan satyagraha
    19 Februari 2010 pukul 6:00 pm

    Long Live Socialism..

  3. pety wayan
    12 Januari 2012 pukul 3:27 pm

    mf pak,mampir sebentar..
    tulisan diatas menginspirasikan pd kenyataan yg saya alami saat ini,ayh kmi meninggal saat saya kelas 2 smp,dan saya jg sebgi ank pertma dr 6 bersaudara…tentunya adik2 saya msih kecil2,bahkan ada yg masih dlm kndungan …,,ayah sya yg katanya meninggal krna disakiti orang,tpi saya tdk tau benar atau tdknya itu…..
    tulisan yg bagus…
    sukseme pak…

    • 13 Januari 2012 pukul 10:24 am

      Terima kasih sdh mampir Sri Wayan…, yah dmklah kehidupan. Mungkin cerita ini dpt meringankan hati anda krn ternyata tdk sdkit orang yg senasib bahkan lebih buruk kondisinya dp diri anda…., namun dmk semuanya ada hikmahnya…, tergantung bgmn kita memaknai hidup ini…., selamat berjuang…, salam kasih dlm persaudaraan Wayan….

  4. 26 September 2013 pukul 2:40 pm

    There are a couple things thzt you should know before you go
    out looking annd deciding on car insurance.
    It mightt appear quite easy to purchase car insurance in Birmingham straight from thee brokerr who
    might be posittioned in the car showroom or from thee one that
    the showroom manager recommends. In general, tthe insurance
    companies look at the past 3 or 5 years of your driving record
    and the riving history of other persons listed in the application for the insurance policy.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: