Beranda > Keheningan > KEMATIAN

KEMATIAN

Pernahkah kita mengamati kematian? Dimana ada kematian disana akan ada kelahiran. Kelahiran, kehidupan dan kematian adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan.

Pada saat kita membuat kompos, dengan memasukan daun-daun kedalam sebuah tong tertutup, terjadilah fermentasi. Dalam waktu beberapa hari, maka didalam tong itu akan penuh dengan kelahiran ulat-ulat hitam dari kematian daun-daunan. Bila media hidup dari ulat-ulat telah habis, maka diapun mati. Dari kematian ulat-ulat ini terjadi kelahiran dari bio-renik yang lebih kecil yang barangkali tak nampak. Demikianlah setiap kematian akan menghasilkan senyawa baru untuk sebuah kelahiran berlanjut pada kehidupan. Ini adalah Sanatana Dharma, hukum semesta yang abadi (eternal cosmic law).

Bila kita sungguh memahami hal ini tiada apapun yang membuat kita cemas, namun sangatlah banyak orang merasa takut akan sebuah kematian, bukan? Apakah Anda salah seorang itu?….Seorang teman yang gembul…tubuhnya menjadi tambun, bagaikan seekor kerbau yang gemuk. Setiap ketemu dia selalu berkomentar….., “ah, untuk apa hidup terlalu lama, kalaupun aku mati sekarang tak masalah…” Tanpa disadari, pernyataan ini menyiratkan betapa dia mencemasan dirinya. Bagaimanapun, obesitas adalah media suatu penyakit; apakah tekanan darah tinggi, gangguan jantung, asam-urat, gula-darah, sakit-kuning dan lain-lain kemungkinan. Disamping ketakutan pada kematian, orang juga merasa takut kalau sampai jatuh sakit….apalagi stroke yang hanya bisa tergolek ditempat tidur.

Kenapa kita merasa takut dengan sakit ataupun kematian ini? Ini disebabkan karena kita tak memahami Sanatana-Dharma; karena kita lekat pada kenikmatan, pada kesenangan-kesenangan yang tak terpuaskan. Faktor inilah yang menimbulkan keserakahan dan membuat suatu masalah berkembang biak menjadi penderitaan dan kekacaun dalam kehidupan kita, baik individu maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Setiap orang dari kita, khususnya bagi para pejabat Negeri ini mestilah ada keinsyafan akan hal ini. Kita mestilah mampu mati dari KESERAKAHAN..; barulah kemungkinan ada kelahiran dari sebuah kejujuran dan akan berlanjut pada kedamaian suatu kehidupan berbangsa.

Untuk membaca sebuah artikel, atau pesan apapun; sebaiknya kita membaca secara perlahan kalau tak bisa secara meditative. Keperlahanan ini akan memberi peluang bagi perhatian untuk melihat kedalam diri. Apakah yang terjadi didalam batin, ketika kita sedang membaca? Pikiran berusaha untuk mengerti pesan yang sedang dibaca. Selanjutnya tanpa disadari pikiran berlanjut memberi penilaian; membenarkan, menyalahkan atau membandingkan. Lebih jauh menganalisa, berpendapat dan menyimpulkan. Dan lebih tragis adalah ketika kita tak suka, terus merasa tersinggung. Cobalah kita membaca secara perhalan, secara meditative, semata membaca dangan perhatian dan pengertian. Ini adalah membaca dengan kematian batin dari segala pendapat, praduga dan kesimpulan apapun. Membaca dari kematian batin ini akan membuka pengertian untuk melihat pesan itu apa adanya.

Keserakahan, kesenangan, kepercayaan, ketakuatan, harapan, ambisi, prasangka dan lain-lainnya adalah pikiran. Bila ada kematian batin dari segala pikiran ini; barulah ada kelahiran dari keheningan dan kedamaian hidup. Maka dari itu, “matilah…!” Karena kematian inilah, baru hidup sesungguhnya!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: