Beranda > Keheningan > TAKDIR

TAKDIR

Manusia tak dapat menolak kehadiran siTakdir. Dia datang sesuka hatinya. Bila siTakdir berwajah elok tentulah orang akan dengan serta-merta menerimanya. Seperti bila orang ditakdirkan sebagai Presiden, sebagai orang pintar, orang kaya, orang sehat, orang cuantik-guanteng; bila semua takdir ini memberi kesenangan, kebahagiaan, kebanggaan tentulah orang tak’an menolaknya, bukan? Namun bila siTakdir datang dengan wajah yg serem, menakutkan; seperti ditakdirkan sebagai Sibuya, sebagai orang dungu, orang miskin, orang sakit-sakitan, orang buruk rupa….; dapatkah kita dengan serta-merta menerimanya? Walau kita tak dapat menolak, namun dalam hati kita memohon dan berdoa agar takdir ini diringankan, kalau mungkin jangan sampai kita tertimpa takdir yang berwajah serem ini.

Seorang teman yang hidup dalam kepercayaan yang solid sangatlah beriman. Dia selalu beribadah dan menjalankan kaedah-kaedah kepercayaannya dengan tekun. Dia sangat percaya bahwa melakukan ibadah berjemaah/bersama memberi pahala berlipat-lipat. Hal ini dia rasakan secara langsung; dimana setiap dia melakukan ibadah bersama, suasana ritual ini memberi vibrasi yang luar biasa. Dia semakin matap, keyakinannya bertambah solid. Dalam jedah-jedah tertentu, saat lagu-lagu pujian tertentu dikumandangkan; tidak sedikit umat/jemaah (para bhakta) berlinangkan air-mata suka-cita dari perasaan yang melambung. Hal ini telah menjerat perasaan, sehingga orang akan selalu merindukan suasana ini.

Si-Untung tak dapat ditolak dan si-Malang tak dapat diraih. Teman kita yang sangat beriman ini kena stroke, siTakdir yang berwajah serem. Hari-hari dia lalui dengan rasa sedih dan derita; dan komplain hujatan yang tak pernah mendapat jawaban. Dia komplain kepada apa yang dia YAKINI. Kenapa TAKDIR ini datang kepadanya? Bukankah selama ini dia telah melakukan ritual, ibadah dengan khusuk; seluruh rasa cinta dan bhaktinya dia telah persembahkan kepada tuhan? Barangkali menurut pikirnya, TAKDIR ini tidaklah tepat buat dirinya yang begitu rajin beribadah. Dia menyebut-nyebut tuhan dalam berbagai nama kadang dalam teriakan dan juga dalam tangisnya. Hampir empat tahun dia hidup dalam penderitaan ini; dalam campuran antara rasa yakin, dilema, jengkel, sedih, dan hancur yang tak terperikan.

Dapatkah kita menyimak sesuatu dari realita diatas? Seandainya siTakdir ini datang pada Anda? Karena siapapun tak’an dapat menolak kehadiran siTakdir. Apakah Anda seorang yang sangat beriman, seorang kafir, seorang atheis sekalipun. Apakah dengan ber-keyakinan, beriman, berdoa, kita dapat memohon agar siTakdir yang berwajah serem ini dapat dihindari? Justru orang yang begitu solid keimanannya, merasa sangat terpukul oleh kehadiran siTakdir, dan tak dapat mempercayai, kenapa hal ini mesti terjadi pada dirinya yang sangat beriman? Dia tak bisa terima kehadiran siTakdir ini. Ketidak bersediaannya menerima siTakdir, justru memperparah kondisi sakitnya, walau dia terus berobat kemana-mana, dengan bermacam-macam cara. Setelah hampir empat tahunan menderita, teman yang sangat beriman ini terdampar ketempat siPHT sang Kafir. Dari sang Kafir dia mendapat bimbingan dan setelah diterapi empat kali teman kita dapat berjalan, walau tak begitu sempurna, namun dia merasa bersyukur, bahwa tuhan mau mengampuninya lewat tangan sangKafir.

Bila orang paham, bahwa kepercayaan adalah rasa takutnya yang terselubung, barangkali dia akan mengenal dengan baik wajah siTakdir. Bila dia sungguh paham, sungguh mengenal siTakdir, diapun terbebas dari harapan dan rasa takut, maka diapun menjadi sangKafir, siMiskin yang tak memiliki apapun termasuk siTakdir sekalipun.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: