Beranda > Keheningan > KLENIK

KLENIK

Hal-hal yang bersifat klenik secara umum mempengaruhi kehidupan masyarakat khususnya masyarakat setempat. Klenik ini mempengaruhi lapisan masyarakat dari tingkat atas sampai bawah. Jangankan rakyat kebanyakan, namun kalangan cendekianwan, pejabat, pengusaha, tak sedikit yang percaya dan terlibat dengan segala macam klenik ini. Orang-orang tertentu yang sangat mempercayai, akan dengan senang hati mengorbankan apa saja untuk memperoleh imbalan yang mungkin akan memberi banyak keuntungan lebih dalam hal-hal tertentu nantinya.

Ada beberapa faktor, kenapa orang sampai terlibat dan terjerat dalam klenik ini. Umumnya, dari kepercayaan mereka pada tuhan tanpa disadari; kebiasaan mempercayai ini, memancing dirinya untuk percaya pada yang lainnya. Magic, setan, ‘leak’, ghaib, termasuk juga klenik, semua ini satu dengan yang lainnya saling terkait. Seperti yang berkali-kali telah kita sampaikan bahwa KEPERCAYAAN adalah wujud terselubung dari RASA-TAKUT manusia. Maka rasa takutlah faktor dominan yang menjerat orang pada klenik. Disamping keinginan untuk menjadi hebat, menjadi sehat-sentosa, sakti-mandraguna.

Seorang dokter tentulah seorang cerdas, seorang yang logis, namun musibah yang menimpa keluarganya secara beruntun, membawa dia berkenalan dengan klenik lebih jauh. Di Bali secara umum masyarakatnya sangatlah beriman, dan kepercayaan mereka pada tuhan, dewa-dewi dan yang lainnya adalah mutlak. Teman kita siDokter tak terkecuali. Terjadinya musibah yang terus-menerus, membuat dia mulai mencari, menekuni dan berguru dengan seorang Guru Sakti-Mandraguna yang sangat terkenal. Di perguruan ini siDokter berlajar ilmu klenik KANDA-PAT. Seperti halnya Pak Polos dalam (Bel Hantu) yang belajar ilmu-ilmu sejenis kanuragan; setelah menekuni selama setahunan, maka siDokterpun telah BERISI (sakti). Perasaan mantap dan yakin semakin menguat dalam dirinya. Saking mantapnya siDokter merasakan seolah-olah setiap langkahnya yang menyentuh tanah, bumi ini bergetar; dan setiap dia melompati pematang kakinya seolah tak menyentuh bumi.

Namun demikian, musibah-musibah yang menimpa anggota keluarganya tak kunjung mereda; walau hampir setiap hari istrinya membuat ‘sesajen’, persembahan untuk dewa-dewi, ‘bhuta’, ‘kala’ dan yang lainnya. Hal-hasil kondisi kehidupan keluarganya semakin terpuruk. Anak-anaknya, istrinya jatuh sakit, ibunya setelah opname di RS, akhirnya meninggal. Keterpurukan ini membuat dia memiliki hutang yang lumayan besar. Ini disebabkan karena pengeluaran untuk dana UPAKARA sangat besar, dari beberapa kali membuat CARU, MELUKAT, GURU-PIDHUKA dan lain-lain; semua ini akhirnya membuat sangDokter yang kekar jatuh sakit dan stress. {CARU adalah ritual untuk pembersihan lingkungan. MELUKAT ritual pembersihan diri secara lahir-batin. GURU-PIDHUKA ritual memohon apunan kepada tuhan}.

Adakah ini siTakdir…..? Apabila kita tak menemukan jawaban dari masalah-masalah hidup, kitapun menyerah pada kata NASIB, pada kata Takdir. Dari bingung dan stressnya siDokter terdampar ketempat siPHT sangKafir. Anaknya yang baru berumur 2 tahun jatuh sakit. Sudah seminggu nginap diRS dengan tabung oksigen dan imfus, namun tak ada tanda-tanda sakitnya membaik. SangDokter mengkonsultasi hal ini pada siPHT sangKafir, dan siDokter sepakat untuk membawa anaknya ke siPHT. Dengan melakukan beberapa tes siPHT berkata bahwa anaknya mengalami alergi. Setelah diterapi dua kali anaknya berangsur pulih. Dan siPHT berkata kepada suami-istri Dokter itu, “dari-pada kalian mengurusi, tuhan, ‘dewa-dewi’, ‘bhuta’ dan ‘kala’, lebih baik mengurusi anak sendiri!” “Jagalah kebersihan rumah dari hal-hal yang memicu alergen!”

Suami-istri Dokter itu beberapa kali datang untuk konsultasi pada siPHT, dan mereka mulai melihat kebodohan dirinya. Kepercayaanlah yang membuat dirinya, ‘merasa’ hebat, mantap, benar dan yakin, sehingga mereka tak pernah mau belajar yaitu menyelidik, mempertanyakan, menyimak. Ketika mereka menyadari, kekotoran batin ini mulai meleleh, mencair, dan kemurnian dirinya yang adalah kecerdasan tertinggi mulai tersentuh. Perlahan kegelapan batinnya mulai berkurang, dia tersenyum melihat betapa dungunya siDiri, yang selama ini merasa hebat, bangga, mantap, benar, dan yakin ini. Dia dapat melihat siDiri/siEgo selama ini berdaulat penuh atas dirinya. Ada rasa syukur yang tulus pada dirinya karena dia dapat mendengarkan, memahami apa yang dikatakan oleh sangKafir siPHT.

“Terus, bagaimana sikap kita dimasyarakat Pak?” tanya siDokter kepada sangKafir. “Secara fisik kita tak’an bisa lepas dari masyarakat ini, namun kebebasan psikologis adalah mutlak. Lakukanlah apa-apa yang menjadi tugas kita sebagai warga masyarakat, tanpa harus terikat secara batin, walau kita melihat tradisi ini adalah hal yang sia-sia.” Sejak saat itu siDokter tertular penyakitnya sangKafir. Dia mulai melihat batinnya yang ringan itu bersenandung. Walau dia masih tertindih hutang, namun langkah-langkahnya mulai ringan dan jelas. Langkah-langkah yang ringan ini bukanlah datang dari keyakinan, kemantapan atau kepercayaan akan segala ilmu klenik KHANDA-PAT, akan Dewa-Dewi, akan ‘Anggapati’, ‘Prajapati’, ‘Banaspati’ dan sebagainya; namun ini muncul dari batin yang jernih, batin yang bebas dari segala macam kepercayaan, termasuk kepercayaan pada tuhan sekalipun!

Kategori:Keheningan
  1. 11 Juli 2013 pukul 3:49 pm

    Some extra information may appear depending on the bottom of
    the bite. Can you judge wine by its cover’, but is the change of a time period countless people like to remain inside the north, the Tagus River in the bag. These wine racks hold the bottles in your rack.

    • 12 Juli 2013 pukul 1:40 pm

      “… the Tagus River in the bag. These wine racks hold the bottles in your rack.”
      This phrase sounds very good.

      Do you realy understand the above article, that writting in Indonesian; and talk about Baliness beliefs, traditions, including magic, demons, supernatural, occult, and witchcraft?
      BTW, Thank you for your comments and sharing.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: