Beranda > Keheningan > KAIN POLENG

KAIN POLENG

Seorang seniman topeng berkunjung ketempat siPHT (Praktisi HealingTouch). Dia datang bukan untuk konsultasi kesehatan, namun untuk membahas, menanyakan tentang filosofi dari kain “poleng”, yang merupakan salah satu atribute dari demikian banyaknya simbol-simbol yang disakralkan. Seorang seniman Topeng bukan hanya pintar menari, namun dia bagaikan seorang Dalang, yang mesti juga pintar menyanyi, menguasai alur ceritra dari “babadbabad”, sejarah kehidupan dari ras tertentu; juga dia mesti mampu mengulas, memaparkan filosofi dari ajaran, simbol-simbol yang terkait dengan kehidupan masyarakat.

“Saya ingin menanyakan, apakah makna dari kain poleng yang digunakan bagi orang, tokoh tertentu dan juga pada saat-saat tertentu?”

Banyaknya atribute, simbol-simbol dalam kegiatan ritual masyarakat setempat, menandakan betapa kreatifnya nenek-moyang kita. Hampir semua simbol-simbol mengandung makna filosofis yang dalam. Namun kita tak pernah ada kesungguhan untuk menyimak kandungan dari makna dalam simbol-simbol ini. Kita hanya menjadikannya sebagai sesuatu yang sakral dan memujanya, agar kita punya kesempatan untuk komplain dan tersinggung, manakala ada pihak lain yang menggunakan atau meletakannya pada posisi yang tidak benar menurut pendapat kita. “Ini pelecehan..!” kita berteriak…. “Kain Poleng dijadikan taplak meja makan di-sebuah restaurant”, “Canang ‘mesesari’ bola golf”, kasus “Rejang Dewa”, kasus tatto “Ongkara” dibokong siBule… dan banyak lagi kasus-kasus yang lainnya. Kita berteriak….!; apa maknanya…?

Kain ‘Poleng’ memiliki dua unsur warna. Hitam pekat dan putih bersih; disamping itu juga ada warna abu-abu dari unsur putih 50% dan unsur hitam 50%. Namun pada dasarnya tetap hanya ada dua unsur warna yaitu hitam dan putih. Ini adalah ‘ruwa-bhineda’, dualitas. Gelap-terang, kiri-kanan, laki-perempuan, baik-buruk. Kenapa kain poleng ini hanya dikenakan bagi tokoh-tokoh tertentu; seperti sang Wrkudoro/Bimasena, sang Mruti/Anoman dan yang lainnya dalam pewayangan? Tokoh-tokoh ini disimbolkan sebagai seorang yang bersifat jujur, terbuka, lugas, trasparant…, karena kontras hitam dan putih bermakna suatu “kejelasan, kejernihan, apa adanya.” Sedangkan warna abu-abu mengandung makna, bahwa dalam setiap kesempatan selalu terkandung unsur baik dan buruk dalam kadar yang sama, walau pada permukaannya tak jelas atau barangkali tak kelihatan sama sekali bagi mata hati kita yang tertutup penuh oleh debu keserakahan dan kepentingan siEgo.

Kenapa patung-patung didandani dengan kain poleng? Karena patung itu diam; batin yang diam adalah batin yang bebas dari kata-kata, bebas dari pikiran…, adalah batin yang sederhana. Hanya didalam kesahajaan ada keterbukaan, ada kejernihan, ada kejujuran, ada apa adanya. Inilah “kain-poleng” yang mesti di- kenakan dalam tindakkan hidup sepanjang hayat di-kandung badan.

Kategori:Keheningan
  1. Chinook
    12 Maret 2010 pukul 6:49 pm

    Menarik tulisannya. Thn 2004, saya pernah tinggal di Bali (Jembrana) 6 bulan utk penelitian buat studi saya. Saya membeli kain poleng sbg oleh2 tanda mata dari Bali krn saya tertarik dgn filosofinya. Saya beli yg sudah dijahit jadi shg tinggal bisa langsung dipakai sbg kain penutup sarung bagi pecalang. Wkt ditanya sama penjualnya untuk siapa, saya jawab utk saya, untuk saya buat hiasan/asesoris diatas rok (kebetulan saya tinggal di luar negeri, dan saya pikir unik juga nilai seninya dan sekaligus menarik utk promosi pariwisata Bali). Penjualnya tertawa, katanya, “Perempuan gak ada pakai kain poleng”. Saya tanya kenapa, tapi dia tdk bisa kasih jawaban. Saya bukan org Bali, makanya ingin tahu. Apakah memang didalam filosofi Bali/Hindu dilarang atau tabu (= menghina tradisi) bagi perempuan untuk memakai kain poleng? Terima kasih.

  2. 13 Maret 2010 pukul 9:58 am

    Setahu sy tak ada larangan/tabu bagi siapa pun untuk mengenakan kain poleng, namun umat yg fanatik merasa tersinggung karena mereka mensakralkan kain poleng ini.

  3. lily
    12 Maret 2011 pukul 11:32 am

    Dear Windra,
    Saya setuju, alam ini diciptakan dengan berpasangan.
    Saya juga baru tau kalau jumlah kata-kata yang ada di dalam Al Qur’an (baik buruk, lelaki perempuan, terang gelap, surga neraka dst, selalu sama jumlahnya, tidak ada yang melebihi satu atas lainnya.
    Sekedar berbagi informasi.
    Terima kasih

    • windra
      14 Maret 2011 pukul 11:06 am

      Terima kasih sharing anda sdri Lily.
      Dgn logika yg sehat dan bebas, kita tak’an bisa menolak realita yg ada. Dualitas ini adalah unsur yg saling terkait….., ini adalah fakta, kita tak mungkin menyetujui ataupun menentang. Hal ini terjadi jauh sebelum kitab2 suci dibuat, sebelum peradaban menusia ini ada.

  4. desu
    19 Maret 2011 pukul 10:59 pm

    setuju.. hitam putih, baik buruk, laki perempuan, dan semua dualisme tersebut timbul karena kelekatan indera kita untuk berusaha menilai objek.. sesungguhnya Tuhanlah yang menggerakkan semua hal tersebut, bukan indera, pikiran, atau perasaan kita.. andai kita mengerti hal ini, maka kita akan melampaui dualisme tersebut..

  5. windra
    20 Maret 2011 pukul 7:38 pm

    Thnks Pak Desu sharing anda. Jauh sebelum peradaban manusia, agama2 semesta ini memang demikian adanya. Dualisme ini adlah bagian dari hakekat, namun adalah dualitas yg terbentuk oleh pikiran yg menilai dari kecendrungannya, dari motif2-nya, kepentingan…., maka timbullah suka-taksuka, benar-salah yg mencipta konflik dalm diri maupun diluar diri. Dari pikiranlah sumbernya. Bila pikiran mampu memahami hal ini, artinya pikiran mesti menyelami dirinya se-dalam2-nya, shg dia melihat senyatanya gerak-dirinya berikut motifnya, barulah kemungkinan ada kejernihan untuk melihat apa-adanya…., dualitas-pun terlampaui.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: