Beranda > Keheningan > TRADISI

TRADISI

Pernahkah kita bertanya, apa itu tradisi dan bagaimana tradisi ini telah menjerat kehidupan kita? Telah kita bicarakan berkali-kali, bahwa awal peradaban, manusia hidup hanyalah hidup. Tak ada tradisi, ritual, kepercayaan apapun. Manusia hidup dalam kemurnian dirinya, sehingga mereka melihat apa adanya. Evolusi kehidupan dan pikiran manusia yang menerima pengalaman-pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang mengerikan dan merekam dalam ingatannya, bertumbuh menjadi benih budaya (budi dan daya). Dari hari kehari, dari tahun ketahun budaya ini diulang-ulang dan diulang… menjadilah tradisi. Sebagian darinya yang disakralkan dijadikan ritual, yang diyakini, dan mutlak harus dilakukan.

Jadi tradisi, ritual, kepercayaan adalah hasil dari budaya (budi dan daya), yaitu pikiran manusia. Bila kita sungguh melihat bagaimana hal ini terjadi, maka semestinya kita pun paham bahwa tradisi, ritual maupun kepercayaan ini tak’an pernah mengantar kita kepada dimensi diluar pikiran (acintya). Namun kita sungguh tak pernah paham akan hal ini, sehingga dengan demikian semua tindakkan hidup kita hanyalah melulu berada disini, didalam ruang pikiran kita. Tulisan ini bukanlah propaganda, namun kita hanyalah mengungkap realita kehidupan diri kita maupun kehidupan masyarakat sekitar. Hal-hal inilah yang telah menjerat, kita berpegang, atau kita meyakini, tergantung dan menyandarkan harapan kita pada tradisi, ritual ini untuk memperoleh sorga.

Tradisi ini berkembang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat (desa, kala, patra). Perkembangan ini tak lepas dari analisa dan kreativitas pemikiran manusia, yang akhirnya menjerat dirinya. Lima puluh tahun yang silam, tradisi ini masih sederhana. Seorang umat hanya membuat tiga buah “segehan” (persembahan) yang dipersembahkan setiap “keliwon” (lima hari sekali). Dua puluh lima tahun kemudian tradisi ini berkembang; dari tiga menjadi tiga puluh “segehan” ditambah dengan “timpat dampulan” (persembahan dilengkapi dengan ketupat). Persembahan setiap umat berbeda-beda, sesuai dengan professi mereka. Seorang pedagang bisa membuat sampai tujuh-puluhan “segehan” bahkan lebih, dan persembahan ini kadang bisa setiap hari, malah ada yang dua kali sehari. Ini mereka lakukan dengan keyakinan dan sekaligus harapan. Krisis global melanda dunia, sulitnya kehidupan mulai menekan. Dan tradisi ini mulai menjadi beban. Orang yang punya keberanian mulai mengurangi persembahan, namun tak sedikit yang merasa takut jika sampai tidak bisa membuat persembahan. Dikampung-ku, pada suatu upacara, hampir separuh dari umat tak membawa persembahan ke Pura, suasana “sesaji” lengang, maka “Bandesa Adat” (pemimpin desa adat) menghimbau hal ini; dan sejak saat ini lahirlah “awig” (peraturan) “wajib”, bahwa bagi yang tidak membawa persembahan “sesaji”  dikenakan “denda” sebesar Rp.25.000,00. (dua puluh lima ribu rupiah saja).

Cobalah kita diam sejenak..! amati..! dan tanyakan, apakah makna dari tradisi ini? Dari tradisi yang paling remeh-temeh sampai kepada tradisi yang paling luhur tiadalah berguna. Dia hanyalah hiasan dari sangDiri yang diciptakan oleh siEgo/pikiran untuk menghibur dirinya. SangDiri yang berada dalam kecemasan dan selalu berharap inilah ber-kreasi, menciptakan bentuk-bentuk hiburan, bentuk perlindungan, memupuk rasa aman dan nyaman dalam khayalan yang selalu mereka dambakan. Kegiatan ini semakin memperkokoh siEgo/pikiran dalam kubangannya. Dapatkah kita melihat bahwa hal ini berada dalam diri kita? Inilah yang telah mengkondisi batin kita. Inilah yang telah menimbulkan segala penderitaan dan kekacauan dalam kehidupan kita. Apabila hal ini belum dipahami, maka dengan cara apapun kita meyakini, mempercayai, melakukan ritual, menjalankan tradisi, berdoa dan memohon, maka kita selamanya tak’an pernah bebas dari penderitaan (mokshatam).

Semua masalah dalam kehidupan bersumber dari sini. Kehidupan rakyat umum maupun kehidupan para pejabat, para konglomerat. Lihatlah… apa yang diperbuat oleh para Negarawan kita. Walau mereka adalah orang-orang pintar, professor, doktor, pakar dan sebagainya tetap saja mereka terjerat oleh tradisi yaitu kebiasaan hidup mereka yang bersumber dari siEgo. Tradisi hidup siEgo adalah mengejar kesenangan dan mempertahankan kenikmatan ini. Dan ini UUD (ujung-ujungnya Duit), karena duit dapat membeli banyak kesenangan. Hampir sebagian besar manusia terjerat dalam tradisi ini. Tradisi adalah pengulangan masa lampau. Masa lampau adalah ingatan adalah pikiran/siEgo. SiEgo yang selalu ingin kenikmatan akan memupuk keserakahan. Keserakahan melahirkan koruptor-koruptor. Para koruptor yang takut akan neraka, segera bergegas menuju rumah Tuhan berdoa dan memohon kepada Tuhan yang Maha Pengasih agar mengampuni dosa-dosa mereka. Demikianlah rantai ini saling terkait menjadi tradisi yang kita mulyakan.

Ada tradisi sembahyang umat secara umum yang bersifat tradisional; ada tradisi sembahyang para koruptor yang bersifat kontemporer. Dan semua tradisi ini dilandasi oleh siEgo/pikiran yang menghendaki, yang memohon. Apapun bentuk dari tradisi memohon ini, ini selamanya adalah tradisi, karena ini tercipta dari tradisi, dari masa lampau yaitu ingatan, pikiran siEgo. Jadi apapun gerak siEgo, pikiran akan selalu menghasilkan masa lampau, tradisi. Walaupun personal siEgo ini telah menjadi Presiden, Pejabat, Negarawan, Bankers, S1, S2, S3…S-lilin, namun mereka tak lebih hanyalah seorang budak. Budak dari keserakahan mereka. Selama mereka terjebak dalam perbudakan siEgo, maka tradisi berke-Tuhanan mereka hanyalah hypokrit.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: