Beranda > Keheningan > KREMASI (NGABEN)

KREMASI (NGABEN)

Praktek pembakaran mayat manusia ini telah dilakukan dari dahulu kala. Sejak tahun 1400 sebelum masehi kremasi ini telah dilakukan luas pada masyarakat Eropa, pada kalangan keluarga ningrat di Roma. Demikian juga kremasi ini dilakukan di India secara luas, khususnya dalam tradisi Hindu dan Buddha. Namun belakangan sekitar abad ke-tiga kremasi ini mulai ditolak, dilarang dikalangan kaum Yahudi, Kristen dan Islam karena kremasi ini dianggap telah menistakan karya Tuhan. Dan dipercaya bahwa kremasi ini tak dapat menghidupkan kembali tubuh yang telah hangus-binasa. Seperti inilah munculnya sebuah kepercayaan yang kemudian menjadi tradisi.

Namun belakangan tradisi ini-pun mulai bergeser. Orang mulai mempertimbangkan dari segi kebersihan/kesehatan dan juga dari segi ekonomi. Pertumbuhan manusia yang terus berkembang menimbulkan kesulitan lahan kuburan yang semakin luas dibutuhkan. Inilah pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan logis. Pada tahun 1874-an sekelompok besar masyarakat di Inggris mendukung pelaksanaan kremasi ini. Dan krematorium pertama di-dirikan di Amerika Serikat, di Pennsylvania pada tahun 1876. Demikianlah tradisi kremasi ini mengalami perubahan. Lain lagi halnya dengan kremasi (ngaben) pada kalangan umat Hindu di Bali. Tradisi ngaben (kremasi) disini sangat erat dengan kepercayaan agama Hindu Bali, sehingga mesti ada segala macam perlengkapan (upakara) yang dipercaya akan dapat mengantar roh sang-mati ke-sorga. Setiap umat berharap dapat melakukan upacara Ngaben-“nglanus” apabila ada salah satu anggota keluarganya meninggal. Filosofi mendasar dari Ngaben ini adalah untuk pengembalian unsur-unsur “panca mahabhuta” (tanah, air, api, udara dan nectar) kembali ke-asalnya dengan cepat. Dari pemaknaan dasar yang sederhana dan logis ini berkembang menjadi tradisi dan kepercayaan yang luar-biasa. Bagi yang mempunyai dana, mereka tak segan-segan menghabiskan uangnya untuk membuat upacara Ngaben yang paling utama. Tentu masih segar dalam ingatan ketika bangsawan Puri Mengwi, Puri Ubud, Puri Gianyar atau puri-puri yang lainnya melaksanakan upacara Ngaben ini. Dana yang dihabiskan ratus-an juta bahkan milyard-an. Tradisi, kepercayaan ini telah sedemikian kuat mengkondisi batin umat, sehingga tak sedikit yang percaya bahwa sanak-keluarganya yang di-upacarakan Ngaben, apalagi telah di“tirta”kan (air suci/air yang telah diberi mantra) dengan “tirta-super” yaitu tirta dengan mantra komplit pasti dengan cepat masuk sorga.

Pada saat ini bagi umat umumnya, barangkali dana minimal yang dibutuhkan sekitar 50 juta-an untuk dapat melaksanakan Ngaben-“nglanus” (kremasi ditambah “mukur”) sampai sang-mati menjadi “pitara” (bersatu dengan tuhan di-sorga). Disamping kepercayaan mereka sifat manusia yang gengsi gede-gdean, tak’an segan meminjam dana ke LPD atau Bank setempat untuk dapat melaksanakan upacara Ngaben ini. Demikianlah tradisi, kepercayaan ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Bali yang berbuntut hal-hal lainnya. Suatu peristiwa, seorang anggota keluarga mengalami sakit lever karena kebiasaan minum-minum alkohol berlebihan; namun karena kepercayaan mereka kuat, mereka bertanya pada “orang pintar” dan jawabannya adalah karena sang “pitara” masih terendam di-laut. Untuk ini mereka mesti membuat “upakara ngangkid” (upacara mengangkat “pitara” dari laut). Ini sungguh lucu, irasional bukan? Pada saat di-upacarakan Ngaben-“nglanus” roh sang-mati telah jadi “pitara” masuk sorga; namun tiba-tiba kini malah masih berendam di laut…? Apa di-sorga roh ini kepanasan…? dan kini ketika cemplung di-laut, roh ini tak bisa keluar dari air, mesti dibuatkan “upakara”.  Dan ironisnya jika tak dibuatkan “upakara”, roh ini akan terus mengganggu/membuat sakit anggota keluarganya yang masih hidup. Akhirnya mau tak mau “upakara” dibuat dan dibawa ke-laut; namun hal-hasil, ketika si-sakit mengalami cirrhosis, levernya membatu….maka mati jua dia…..! Kejadian-kejadian seperti ini tak sekali, dua kali terjadi dalam kehidupan mereka; namun demikian pengalaman ini tak cukup untuk membuka mata guna melihat dan belajar tentang kepercayaan yang mereka anut. Ini pertanda tradisi, kepercayaan mereka telah amat sangat membatu.

Adakah orang yang sungguh paham, tahu bahwa upacara Ngaben ini dapat mengantar roh si-mati masuk sorga? Mereka para pendeta, “sulinggih” sering berkata untuk menyakinkan umat, bahwa upacara Ngaben yang utama dapat mengirim roh si-mati ke-sorga dalam sekejap. Sungguh suatu pernyataan spekulatif. Disisi lain ada ajaran yang mengatakan bahwa hidup manusia tak terlepas dari karmanya. Perjalanan manusia setelah mati akan diantar sepenuhnya oleh karmanya. Ada cerita tentang seorang Pendeta yang jujur. Ketika seorang umat datang memohon dibuatkan upacara untuk ayahnya yang meninggal agar masuk sorga. Si Pendeta meminta si-umat mengambil sebaskom air, dan menuangkan mentega dan kerikil kedalamnya. “Nah, sekarang aduklah, sampai semua menteganya tenggelam dan semua kerikilnya mengapung”. Hukum alam (sanatana dharma) bekerja dengan pasti tak ada dalam kepercayaan. Kepercayaan selamanya adalah ketidak-tahuan.

Bila orang terjerat dalam kepercayaan yaitu rasa takut yang tersembunyi, dia-pun selalu dalam kebingungan. Hal inilah yang penting dipahami yaitu rasa takut masuk neraka dan keinginan masuk sorga. Rasa takut ini ada didalam diri Anda…., amatilah…! Bila Anda sungguh melihat, paham, maka Anda akan bebas dari rasa takut ini.

Kategori:Keheningan
  1. Fariady Winarta
    21 Agustus 2010 pukul 11:30 am

    oh… baru tau

  2. wayanwindra
    22 Agustus 2010 pukul 7:17 pm

    Baru tauuu…nich yee…., thanks kawan telah mampir ke blog-ku.

  3. 12 September 2012 pukul 10:30 am

    Ngaben itu sebaiknya dilaksanakan secara massal kalau tidak mampu. gitu saja kenapa repot.

  4. 12 September 2012 pukul 11:00 am

    Ngaben ataupun Yadnya yang uttama bukan dinilai besarnya biaya, besarnya Yadnya . melainkan keiklasan dan kemampuan untuk melaksanakan Yadnya itu.

    Yadnya yang besar tanpa disertai keiklasan sama dengan bernilai nol.

  5. 16 September 2012 pukul 11:43 pm

    betul sekali, yadnya betapapun besar, megahnya, jk tdk dilandasi ke-ikhlasan yg tulus tiada nilainya.
    Terima kasih sharing anda.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: