Beranda > Kesehatan > 10 (SOEP-ULUH) FAKTOR HICCUP

10 (SOEP-ULUH) FAKTOR HICCUP

Banyak faktor yang membuat kita jatuh sakit. Faktor pikiran adalah hal yang utama. Namun disamping itu ada hal-hal yang spesific. Seperti halnya bagi yang menderita hiccup (segukan, sesak), yang terus berkembang dan sering dianggap sebagai ashma. Belakangan ini banyak orang menderita hiccup, yang disebabkan oleh faktor-faktor kebiasaan salah dalam hidup. Kebiasaan salah ini, salah satunya adalah pola makan yaitu cara makan. Kebutuhan hidup menimbulkan persaingan; dan persaingan dalam hidup membuat orang mesti bekerja keras untuk mendapatkan lebih banyak penghasilan, sehingga waktu menjadi sangat berharga. Saking berharganya sang waktu membuat kita tak mau menyia-nyiakannya, sehingga waktu untuk makan-pun kita berusaha se-effisien mungkin. Maka dari itu kita mengkonsumsi makanan cepat hidang (fastfood), dan yang lebih celaka lagi kita mengkonsumsinya, memakannya dengan cepat pula….., begitu di-suap langsung ditelan…..; plesetan bagi orang Bali bilang…, makannya tak pernah dapat nilai 8, 9…. namun selalu 10 (sepuluh)… “soep”(suap), “uluh”(telan). Pola makan “soep-uluh” ini adalah bagi orang yang dikejar-kejar waktu, dan ini merupakan salah satu faktor dari penyebab hiccup, disamping diabetes atau gangguan hati/empedu.

Seorang kakek muda usia 58 tahun berjalan tertatih-tatih menuju ketempat siPHT (Praktisi HealingTouch). Setiap lima meter dia mesti berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Dia menderita hiccup yang telah menjadi sesak/sulit bernafas sudah lebih dari delapan tahunan. Dia telah berobat dari satu dokter ke-dokter ahli yang lainnya, dan tentu telah mengkonsumsi banyak sekali obat-obatan, namun tak ada perubahan. Sebagai orang Bali pada umumnya yang hidup dalam kepercayaan, dia-pun telah datang kepada “balian” (dukun) atau ke-orang pintar (paranormal) untuk menanyakan prihal sakitnya. Seperti biasanya dari tradisi kepercayaan orang Bali, bila sakitnya tak kunjung sembuh ini pastilah karena “niskala” (sakit non-medis). Sakit “niskala” ini ada macam-macam. Ini bisa disebabkan oleh “dewa”, “pitara”(ROH leluhur), “manusia”. Disebabkan oleh yang mana-pun yang empunya sakit pasti membuat “upacara dan upakara”. Hal seperti ini sudah umum bagi orang Bali. Dan dari sekian banyak kejadian tak banyak yang membuahkan hasil (sembuh). Demikian juga halnya bagi si-Kakek yang hiccup ini, walau telah mengikuti semua petunjuk si-orang-pintar, sakitnya malah semakin menjadi-jadi.

“Dapatkah Bapak tidur telentang?” tanya siPHT kepada si-kakek. “Tidak tahan lama Pak”, jawab si-kakek tersedat-sedat karena sulitnya bernafas. Tanpa melakukan test siPHT telah dapat mengukur dan menentukan kondisi sakit si-kakek. Si-PHT menekan beberapa titik akupuntur pada “meridian small intestine” yang berhubungan dengan saraf dan otot “abdominal” pada perut si-kakek. Demikian juga siPHT menekan enam titik akupuntur pada otot sacrospinalis pada punggung si-kakek, dan mengusap jalur meridiannya untuk memperlancar energy mengalir didalam tubuh. Nafas si-kakek mulai terlihat ringan….., “nah sekarang tidurlah telentang!” pinta siPHT. Si-kakek mulai merasa heran dengan dirinya. Dia bisa tidur telentang dengan enak yang biasanya sulit dilakukan. Si-PHT melanjutkan terapinya dengan menekan sana-sini, mengusap dan menggosok yang membuat si-kakek meringis menahan rasa sakit, bagaikan tersayat-sayat pisau silet yang panas. Setelah merasa cukup terapi-pun dihentikan, siPHT pun basah dengan keringat dari penyaluran energy. “Apa ini…, kenapa saya ini….?”, si-kakek bersuara lantang mengagetkan siPHT dan juga dirinya sendiri. “Kenapa….nafas ini, kenapa nafas saya bisa panjang lagi….? Apakah saya ini sedang mimpi…?” si-kakek bertanya-tanya bingung dan heran. Kita tak usah heran dengan keheranan si-kakek; bayangkan selama delapan tahunan lebih dia menderita hiccup, terbiasa dengan nafas pendek, kini tiba-tiba hal itu menghilang, tentu membuatnya bingung dan kaget. “Ratu betara” (ya tuhan), si-kakek bangun merakul dan mencium kaki siPHT. “Sungguhkah ini Pak, sungguhkah saya sembuh?” si-kakek berbinar-binar dengan air mata berlinang.

Pola makan “soep-uluh” (suap dan telan) tanpa dikunyah sempurna, membuat simtem pencernaan terbebani. Ini bereffek buruk pada jaringan abdominal sehingga sekat-rongga dada mengalami degradasi. Dan ini menimbulkan kesulitan bernafas, apalagi jika makan terlalu penuh. Bila kondisi ini tak segera ditangani maka hiccup/sesak ini semakin parah. Dan tak sedikit yang mengalami komflikasi dengan banyaknya mengkonsumsi obat-obatan. Kadang sesaknya bisa berkurang namun terjadi gejala sulit/tak mampu menaiki tangga. Ini disebabkan karena degradasinya meluas sampai ke-otot kuadrisep yang berkaitan dengan ‘small intestine’, sehingga membuat lutut kaku dan lemas. Jika sampai komflikasi ke-ginjal, bisa terjadi gatal-gatal, ekxim rheumatik sampai diabetes. Ini adalah realita, hukum alam yang pasti (sanatana dharma). Tiada gunanya mempercayai, ini mesti dilihat dengan nyata, dipahami.

Apabila orang terjerat dalam kepercayaan, maka dia terjebak dalam ketidak-tahuan (avidya), dia berhenti belajar, dan menyelidik. Sebanyak apapun, dengan cara apapun orang mempercayai…., berdoA’….; hal ini tak’an dapat mengubah realita dan menyelesaikan masalah-masalah hidupnya. Ini berkali-kali telah kita bicarakan, dan mesti selamanya dibicarakan dan dicamkan agar kita sampai pada suatu pemahaman. Ini adalah hal mendasar yang mesti dipahami, yaitu orang mesti bebas dari kepercayaan, barulah ada tindakkan untuk belajar, melihat, mempertanyakan, menyelidiki. Dari pengalaman dan melihat dalam kebebasan kita dapat belajar banyak. Seperti halnya si-kakek, seandainya dia tidak terjerat dalam kepercayaan, tentu dia tak’an mengikuti saran-saran yang irasional dari si-orang-pintar. Dan dia akan menyelidik, mencari jawaban, mencari penyebab dari sakitnya.

Kategori:Kesehatan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: