Beranda > Keheningan > NYEMPLUNG KE-KOLAM HATI

NYEMPLUNG KE-KOLAM HATI

“Bagaimana caranya berenang …ya..?” guman seorang teman sambil mondar-mandir di-tepi kolam. Sangatlah mudah untuk menjawab pertanyaan ini, bukan? “Anda tinggal melempar diri kedalam kolam; dan disitulah….Anda…, sederhana sekali, bukan?” Ini hanyalah kata-kata. Ini bukanlah jawaban. Faktanya tidaklah semudah kata-kata. Hal ini karena sebagian besar dari kita memelihara rasa takut didalam diri masing-masing. Banyak alasan yang membuat kita terjerat dalam ketakutan. Pertama barangkali kita takut dengan air. Selanjutnya kita takut tenggelam. Kita takut mati. Kita takut meninggalkan banyak kesenangan dalam hidup ini. Kita takut meninggalkan tiang-tiang sandaran, label-label, predikat-predikat yang kita banggakan, dan lain sebagainya.

Pernahkah suatu hari Anda melihat pelangi? Anda menemukan pelangi itu begitu saja diupuk timur atau dikaki-langit barat. Demikian juga halnya keheningan itu hadir begitu saja, manakala batin bebas dari segala pikiran. Jadi tak ada cara, metode untuk sampai pada ke-keheningan. Maka dari itu tak ada pertanyaan, “bagaimana ‘caranya’ masuk kedalam keheningan?” Bila kita sedikit cermat melihat kepada pertanyaan, ‘bagaimana caranya?’, ini adalah pertanyaan dari pikiran yang ‘ingin tahu’, yang meng-‘ingin’-kan. Maka dari itu ‘pertanyaan ini’ adalah penghalang, yang merintangi keheningan itu hadir, bukan?

Dari sekian banyak tulisan, buku-buku yang kita baca, kita hanyalah mengerti sebatas intelek… ini tak pernah menuntun kita pada realita senyatanya. Dan celakanya lagi, manakala kita menerima konsep-konsep itu sebagai tuntunan hidup, sebagai pedoman bertingkah laku, kita-pun menjadi robot-robot yang terpola. Kita bisa mengutip dan mengulang banyak pernyataan-pernyataan dari buku-buku; seperti halnya bahwa hidup ini bagaikan air mengalir, atau berpetuah, “biarkanlah hidup ini mengalir seperti air”….; namun ini hanya kata-kata semata. Dan senyatanya kita tak mengalir… justru kita berpegang, terjerat kepada keimanan, dosa-dosa, kepercayaan, ketakutan, doa-doa, ritual, harapan, kesenangan-kesenangan, label-label, martabat, kebanggaan dan sebagainya. Bila kita terjerat disini….., maka sudahlah pasti kita tak pernah beranjak dari tepi kolam, apalagi bisa “nyemplung ke-kolam” dan menyelam ke-kedalam dasar kolam nurani kita, sudahkah Anda….? Siapa-pun adanya diri kita, seorang President, Menteri, Guru Agung, Imam, Pendeta, Peranda, Sulinggih, Gembel, Petani selama kita mondar-mandir ditepi kolam, apalagi menjerat diri pada pohon-pohon disekitar kolam, maka selamanya kita tak’an bisa nyemplung ke-kolam. Dan selamanya keheningan itu tak’an hadir.

Jadi bagaimana Keheningan itu bisa hadir? Kita mesti memahami, mengapa air kolam itu keruh? Siapa yang membuat air kolam itu keruh, sudahlah tentu siEgo/pikiran yang memenuhi batin, bukan? Pahamilah, amatilah pikiran Anda. Seluruh bidang kesadaran Anda telah dipenuhi oleh segala macam pikiran. Inilah kondisi batin kita. Batin yang penuh sesak dengan segala pikiran; disini ada: kecemasan, harapan, doa, ritual, keyakinan, kesenangan, kebanggaan, persaingan, kebencian, iri-hati, kesedihan, rasa-takut dan lain-lainnya. Inilah yang menjadi kekayaaan kita, yang telah kita kumpulkan dan kita gendong kemana-mana selama ini.

Apa yang dapat kita lakukan?……, Pertama-tama kita mesti melihat prihal yang paling dekat, yaitu melihat kondisi kolam hati kita yang keruh, melihat batin kita yang terkondisi, yang penuh dengan kebingungan, kecemasan, keserakahan dan harapan. Apabila kita sungguh melihat bahwa penyebab dari keruhnya air kolam nurani adalah pikiran; yang membuat kita bingung, gelap dan menderita, disitu mestilah akan hadir keinsyafan diri. Dari keinsyafan ini akan timbul kemauan, semangat yang besar untuk menyimak, untuk belajar yaitu menyelidik dan mempertanyakan bukan mempercayai. Inilah tindakan yang paling dasar yang mungkin dapat dilakukan, yaitu memulai dari dalam diri sendiri untuk menemukan bagi diri kita sendiri. Kita tak mesti menerima suatu pola, dogtrin dari orang lain dan menerapkan bagi kehidupan kita. Karena selamanya pola atau dogtrin itu adalah ciptaan pikiran, dan hasilnya pastilah pikiran. Sedangkan kita telah melihat, memahami bahwa sumber semua penderitaan datang dari pikiran. Inilah, disinilah awal dan akhir, yaitu ketika pikiran menyelam kedalam diri, ketika pikiran memahami dirinya, ketika pikiran menyentuh inti penggerak dirinya. Nah, bila pikiran sampai disini, semuanya jelas… dia melihat semua kesia-siaan dari jerih-payah perjuangannya, yang hanyalah menuntun kepada suka-duka tiada akhir, keserakahan, kehausan yang tak ada habisnya. Bila kita sungguh melihat, maka pencarian, pengejaran akan berakhir. Bukan berarti kita tidak bekerja, namun tindakan/kerja itu datang dari batin yang bebas dari pengejaran. Disini batin akan menjadi ringan, dia dapat bergerak lebih cepat, melihat dan memahami kehidupan dalam seketika. Intelek berfungsi dengan ringan seperlunya, karena dia telah terbebas dari jerat dirinya (siEgo). Kondisi batin yang ringan, riang, dan segar ini tak’an pernah mencari, mengejar apapun, termasuk mengejar dewa, sorga, pencerahan, berkah, keheningan apa-pun; namun keheningan itu, berkah itu, begitu saja hadir dalam dirinya, seperti bianglala yang melengkung indah menghias cakrawala barat.

Bila Anda telah sampai disini; Anda tak’an terus berguman tentang “bagaimana caranya nyemplung ke-kolam?” karena Anda telah berada didalam kolam dengan air yang jernih. Semua tampak jelas, termasuk mutiara kasih didasar kolam nurani Anda.

http:wayanwindra.wordpress.com

Note: Membaca tulisan-tulisan dalam blog ini mestilah secara meditatif. Pemahaman tidak cukup sebatas intelek, namun mesti secara aktual. Barangkali perlu diulangi.

Kategori:Keheningan
  1. 2 Juli 2014 pukul 8:46 pm

    Amazing blog! Is your theme custom made or did you download it from
    somewhere? A design like yours with a few simple adjustements
    would really make my blog jump out. Please let me know where you
    got your theme. Kudos

    • windra
      5 Juli 2014 pukul 9:17 pm

      I’m not a plagiarist, the theme just a piece of cake.
      You can find it inner yourself or at the nature outside.

  2. 28 Juli 2014 pukul 6:11 am

    I savour, result in I discovered exactly what I used to be having
    a look for. You’ve ended my four day lengthy hunt!
    God Bless you man. Have a nice day. Bye

  3. 29 Juli 2014 pukul 9:23 am

    Everything is very open with a very clear clarification of the challenges.

    It was truly informative. Your site is very helpful.
    Many thanks for sharing!

    • 29 Juli 2014 pukul 8:56 pm

      Thanks both of you man, have looked in my site.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: