Beranda > Keheningan > BUAH-BUAH KEBANGGAAN

BUAH-BUAH KEBANGGAAN

“Hore….lihat, buah apelKu sangat menarik, warnanya indah dan tinggi kandungan vitaminnya”, teriak seorang anak sambil mengacungkan buah apel ditangannya tinggi-tinggi. “Ah, apelmu itu tak’an semanis dan sebesar buah manggaKu”, bantah anak yang lainnya. “Buah-buah kalian itu sangat biasa”, sahut anak yang lainnya. “Lihat buahKu ini! Didalam buah manggisKu ada biji-bijinya. Banyak bijinya dapat dilihat dari tanda ini”, seraya dia memperlihatkan tanda yang bagaikan cetakan bunga pada bagian bawah dari buah manggis itu. “Ini adalah buah yang unik dan rasanya aduhai…..! Demikianlah anak-anak itu saling membanggakan buah-buah kepunyaan masing-masing. Mereka membanggakan kulit, warna dan keunikan dari buah-buah mereka tanpa pernah merasakan isinya.

Didesa tua, dengan peradaban tua, penuh dengan orang-orang tua yang tak pernah dewasa; mereka layaknya anak-anak itu yang sedang memamerkan dan membanggakan buah-buah kepunyaan mereka. SiA berkata, “agamaKu adalah agama yang up-todate, agama yang telah disempurnakan”, sementara itu siB berkata, “agamaKu adalah yang tertua, semua agama yang lainnya bersumber dari agamaKU”. Dan siC berkata “agamaKu adalah agama yang dapat membebaskan orang dari semua dosa-dosa. Demikianlah banyak lagi pernyataan-pernyataan dari yang lainnya sebagai ungkapan kebanggaan dan keyakinan mereka pada agama-agama yang mereka anut. Disinilah sebagian besar dari kita terjerat, sebatas kulit-kulit, sebatas warna-warni, tanpa pernah mengecap inti-sari sesungguhnya dari rasa agama itu.

Pernahkah kita mempertanyakan, apakah alasan kita menjerat diri pada kulit-kulit, pada permukaan yang dangkal ini? Tidakkah kita melihat, menyadari dipermukaan, angin bertiup kencang, tak jarang ombak dan badai menerjang kehidupan kita. Tidakkah kita melihat keresahan, kebingungan dan kekecewaan secara terus-menerus terjadi, jika kita hidup pada permukaan yang dangkal ini? Hanya kadang ada sedikit kesenangan dari hiburan-hiburan yang kita ciptakan dan yang selalu kita buru. Salah satu bentuk hiburan itu adalah agama-agama yang kita jadikan hiasan hidup, yang kita bangga-banggakan, kita pamerkan; seperti anak-anak yang pamer buah-buah kebanggaannya.

Pernahkah kita sejenak diam dan mempertanyakan, kenapa kita menjerat diri dalam fanatisme, dalam kebanggaan pada kulit-kulit agama? Tidakkah kita melihat betapa hal ini sangat ke-kanak-kanakan. Cobalah Anda ajukan pertanyaan ini dari kedalaman dan kesungguhan hati; dan semestinya Anda akan menghadapi pertanyaan ini dengan seluruh diri Anda, maka Andapun akan menjawab dengan segenap diri Anda. Dalam proses ini tak terelakan kejujuran akan mewujud dalam diri Anda. Kejujuran adalah keterbukaan diri bagi diri sendiri, semuanya menjadi jelas. Kejelasan inilah agama sejati. Kejelasan ini akan membuka segala tabir yang tersembunyi. Anda akan melihat segala rongsokan yang Anda timbun selama ini. Ketika Anda melihat bahwa apa yang Anda timbun dan pupuk selama ini adalah sampah: keserakahan, kebencian, ketakutan, harapan, cita-cita, kebanggaan dan sebagainya…., jika Anda sungguh melihat Andapun jelas. Pada saat kejelasan ini hadir maka pada saat itu semua sampah sirna. Disinilah hidup memiliki makna, ketika Anda hidup dalam agama sejati.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: