Beranda > Keheningan > CURHAT Mas IMAM

CURHAT Mas IMAM

Orang yang hidup dalam kepercayaan memiliki banyak harapan. Dengan melakukan segala sesuatu yang dia percayai adalah baik dan benar menurut kaedah-kaedah, khususnya kaedah agama, dia berharap memperoleh banyak hal; seperti keselamatan, kesehatan dan kesejahteraan. Dan yang paling mulya tentulah pencerahan dan sorga, nirwana.

Suatu hari datanglah seorang Mas IMAM kepada siPHT (Praktisi HealingTouch) sang kafir. Si-Imam adalah seorang imam (pemangku), seorang yang telah di’suci’kan oleh tradisi, sehingga dia berhak melaksanakan prosessi dari suatu upacara keagamaan (Hindu). Orang suci ini curhat, mengadukan segala penderitaannya. Hal pertama dia menceritakan segala sakit yang dia derita. Dari sakit yang tak kunjung sembuh, dia mengalami kegelisahan dan kebingungan karena dia tak dapat menemukan jawaban, kenapa sakitnya tak kunjung sembuh.

“Dimanakah letak kesalahan saya Pakyan?” Sudah sedemikian rupa saya ‘ngayah’ (melakukan tugas-tugas sebagai imam (pemangku) siang-malam selalu memuja kehadapan ‘Ida Betara’ (Allah), namun kenapa sakit jua imbalan (paican ida betara) yang saya terima dari Allah, sang Imam menjelaskan. Karena menurut kepercayaan, bila kita sudah melakukan ‘bhakti marga’ (yoga) dengan tulus kepada Allah (ida-betara) mestinya beliau memberkahi kita; setidaknya kesehatan dan keselamatan. “‘Titiang’ (saya) datang kemari, mohon dengan sangat pertolongan dan petunjuk Pakyan”, sang imam menutup curhatnya yang panjang-lebar.

Dalam suatu diskusi kecil si PHT/sang kafir menceritrakan hal ini kepada para peserta. Seorang peserta berkata, “kenapa sang imam bertanya hal sakitnya itu kepada Pakyan? Bukankah dia selalu dekat dengan para ‘dewa’, mestinya hal itu dia tanyakan kepada ‘dewa-dewa’nya.
Yang lainnya menambahkan, “barangkali si-imam sudah mengadukan dan mempertanyakan kepada ‘dewa’, namun barangkali saja dewa malas menjawab, atau mungkin saja ‘dewa’ juga sedang sakit.”
“Ya… mungkin saja dewa sakit perut, kebanyaknya makan ‘lawar’ yang pedas” sahut yang lainnya.

Ketika kita percaya dan yakin, bahwa kita telah melakukan yang benar, maka kita tak’an ada keraguan. Namun ketika hasilnya tak sesuai dengan keyakinan kita, dengan harapan kita, maka terjadilah kebingungan. Hal-hal seperti ini tak jarang terjadi dalam kehidupan kita.

Di kampungku ada beberapa kejadian seperti ini. Seorang Imam dari dewa ‘Ratu Gede’, tiba-tiba menderita sakit, padahal menurut ukuran usia, semestinya hal itu tak terjadi, apalagi dia adalah seorang imam/orang suci (pemangku). Ketika sakitnya tak kunjung sembuh, dia merasa semakin tertekan. Karena kenyataan ini tak sesuai dengan kepercayaan dan harapannya. Harapannya sebagai seorang imam, tuhan (ida-betara) tak semestinya memberkahi dia sakit. Hal ini tentulah menimbulkan konflik batin dalam dirinya; dan ini memperparah sakitnya. Dalam hitungan hari sang Imam/si-orang sucipun wafat.

Dan saat ini sudah ada seorang imam yang lainnya kena diabetes, saking percayanya dia hanya berobat kepada orang pintar yang juga punya kepercayaan kuat pada ‘dewa’. Dan borok dikakinya kini membusuk. Kematian bukanlah apa-apa. Namun sebelum kematian menjemput, selama sakit, ada rasa yang mencekam dari konflik batin antara kepercayaan, harapan dan rasa takut; inilah hidup dalam neraka.

Sorga dan neraka adalah disini dalam hidup ini. Dua hal ini saling berdampingan hanya dibatasi oleh sekat yang sangat tipis.Harapan kita pada kesenangan yg luhur seperti sorga, tidaklah sulit. Karena perangkat kepercayaan khususnya kepercayaan Hindu telah menyediakan hal itu. Sebelum dan sesudah kematian salah satu anggota keluarga, tentulah ada kesedihan bagi keluarga yang ditinggalkan. Apalagi jika kematian itu mendadak, dalam usia muda, oleh hal-hal yang tak diharapan, kesedihan akan berlangsung tak’an lama. Sebelum upacara kremasi (ngaben) anggota keluarga akan bertanya kepada orang pintar prihal kematian itu. Dan si-orang pitar yang katanya dapat berkomunikasi dengan roh dan dewa maupun jin, akan memberitahukan kita hal yang sangat menggembirakan. Bahwa kematian yang tiba-tiba, dalam usia muda lagi; ini biasanya adalah karena Dewa di Pura Dalem/Dewa Siwa atau Dewi Durga menghendaki ‘juru sapuh’ (tukang sapu) atau tukang rias, atau apapun yang lainnya. Mendengar ini tentulah merupakan berita yang sangat menyenangan bagi sanak keluarga. Karena kalau Tuhan telah berkenan menjadikan sang mati sebagai dayang-dayang, tentu si-mati akan selalu dekat disisi Tuhan. Tak ada berita yang lebih menggembirakan dari hal seperti ini. Cerita-cerita dalam kepercayaan memang sangat menghibur selalu berakhir dengan happy ending.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: