Beranda > Keheningan > MELIHAT LANGSUNG

MELIHAT LANGSUNG

Ketika saya mengatakan, “bahwa apabila saat ini saya tinggal di Denpasar, dan jika saya ingin ke Negara, maka saya mestilah menapakan kaki saya pada sang jalan yang menuju ke Negara dan melangkah. Apabila saya melangkah pada jalan yang benar menuju Negara, saya pasti sampai di Negara. Doa permohonan saya tidak akan pernah bisa membawa saya ke Negara, jika saya melangkah menuju Karangasem.” Ini adalah realita sepasti matematika.

Walaupun ini barangkali hanyalah teori, namun apabila ini dapat mengantar kita pada suatu pengertian, suatu kejelasan bukan kesimpulan, kenapa pula kita mesti merasa keberatan. Bagiku tiada masalah apapun, selama aku awas, sadar, akupun melihat apa yang terjadi; terutama apa yang terjadi didalam diriku sendiri. Aku sama sekali tak pernah berkeberatan tentang apa yang dilakukan orang lain, karena hidup mereka adalah milik mereka. Ku-kira setiap orang berhak atas pihilan hidup masing-masing. Dan tulisan-tulisanku semata kata-kata yang hanya mengungkap realita, tak lebih; yang tak memiliki tujuan maupun harapan apapun. Karena ku-melihat, bila ku-berpegang pada harapan, cepat atau lambat kekecewaan mungkin menyusul.

Dapatkah kita melihat realita secara langsung? Bila kita tak mampu melihat realita didalam diri, tak apalah kita dapat belajar dari realita disekitar. Karena realita diseluruh semesta ini juga berada didalam diri sendiri. Lihatlah kehidupan yang paling dekat. Lewat TV kita dapat melihat banyak hal. Kemiskinan, penderitaan, kekacauan, ke-glamouran hidup, perampokan, pemerkosaan, penipuan, keserakah, hiburan, dan lain sebagainya. Apa kesan dan pemikiran kita tentang segala yang terjadi pada kehidupan disekitar? Bila tayangan TV itu sesuai dengan selera hati kita, maka kita menyukai dan demikian sebaliknya. Atau kita menjadi bosan dan masa bodo. Inilah reaksi-reaksi batin kita yang tak pernah kita amati.

Apakah kita suka atau tak-suka akan kehidupan yang terjadi, segalanya berlangsung terus. Bila kita secara aktif terlibat dengan pilihan-pilihan tertentu sesuai selera kita, maka konflik tak terelakan. Karena selera saya tentu tak sama dengan selera Anda pun selera orang lain. Dan saya mesti berjuang mendapatkan uang untuk membeli TV lebih banyak, karena istriku senang senetron, anakku senang kartoon, sementara aku suka bola, akhirnya mesti punya tiga buah TV, bukan? Bila aku orang kaya bukanlah masalah membeli tiga buah TV, namun bila penghasilanku pas-pasan, maka seleraku adalah sumber konflik dan penderitaan dalam hidupku. Hal ini mesti kupahami.

Dari faktor yang sederhana yaitu selera, menuju kepada permasalahan hidup yang lebih komplek dan ruwet. Coba Anda telusuri, apa lagi yang membebani hidup Anda? Di Bali orang menyebut “gengsi gede-gedean”, ‘persaingan’ dalam segala bidang. Aku sungguh tak habis pikir, kenapa mereka hidup mesti bersaing. Dan kadang terasa aneh dan lucu, mereka bersaing dalam kepercayaan, dalam persembahan, dalam ritual.

Hidup bersaing ini saja sudah tak sehat; ditambah lagi bersaing dalam upacara. Bila siA dalam upacara pernikahan menyembelih 2 ekor babi, maka siB mesti mampu minimal 2ekor, atau kalau mungkin menyembelih 3ekor babi, walaupun ini boleh ngutang. Disamping gengsi gede-gdean, faktor ‘ke-imanan’ adalah hal laten yang telah menjerat umat pada kata-kata MESTI, ‘wajib hukumnya’, mereka tak ada pilihan, tak bisa mengindar. Dalam penerimaan ‘wajib’ ini, jelas tak ada kebebasan. Bila tak ada kebebasan, batin tentu tidak kreatif dan tak cerdas. Batin yang tumpul dan bebal sudahlah pasti tak’an mampu belajar.

Dapatkah kita mengamati langsung, bahwa hal ini ada didalam diri kita? Ketika Aku menerima sebuah metode, dogtrin untuk mempercayai, maka Aku telah merelakan diri untuk dijadikan robot yang bebal. Disinilah Aku berakhir dengan “HARGA MATI”, bagaikan tonggak kaku terpancang ditanah yang tandus.

Lihatlah, kita telah puluhan bahkan ratusan tahun menjerat diri dalam tradisi, ritual, doa, dewa-dewa dan kepercayaan, namun kehidupan kita tak ada perubahan, kalau tak dapat dikatakan bertambah buruk malah. Diri kita adalah medan ‘kurusetra’, medan pertempuran antara ‘kurawa dan pundawa’ antara baik dan buruk, dualitas yang mesti dilampaui. Dan kita adalah para Arjuna dengan senjata ‘pasupati’ (intelek). Gunakanlah intelek kita untuk memenangan pertempuran, bukan berdoa agar menang dalam pertempuran.

Untuk memenangkan pertempuran kita mestilah awas, siaga, cermat, penuh perhatian, mengamati; kepada musuh-musuh, permasalah hidup yang bersumber dalam diri sendiri. Bila kita belum jelas; ajukan pertanyaan untuk meningkatkan kwalitas energi perhatian untuk menyimak lebih dalam dan detail. Dan kita akan melihat semua penderitaan dunia ini berada dalam laci diri kita sendiri. Penderitaan si-orang Negro di Somalia, orang India, orang Palestina, suku Asmat adalah sama dengan penderitaan kita, hanya motifnya berbeda. Penderitaan selamanya adalah dukha. Untuk melihat penderitaan ini secara langsung kita tak butuh metode, kita tak butuh kitab suci, kita tak butuh doa, kita tak butuh kepercayaan, kita tak butuh pendeta, kita tak butuh tuhan; kita hanya butuh perhatian. Kita tinggal mengarahkan perhatian kedalam diri, maka kita akan melihat seluruh realita itu dengan jelas sebagaimana adanya.

Bila diriku brengsek, pemalas, pemarah, cemburu, serakah, dan sebagainya; inilah realita diriku. Untuk melihat hal ini aku tak mesti melihat lewat kitab-suci, lewat doa, lewat pendeta. Namun masalahnya adalah aku tak berani jujur. Bila aku seorang koruptor, aku takut melihat kebusukan diriKu, maka aku berpaling. Dengan demikian aku tak’an pernah melihat, mengenal, memahami apa adanya diriKu. Jujur adalah landasan dari kedewasaan batin.

Jujur adalah mutlak. Bila kita mengamati diri dengan kejujuran, maka semua surat-surat dalam laci diri terungkap, semua kebusukan dan keharuman diri tercium; reaksi-reaksi batin, rasa takut, rasa malu, pelarian-pelarian diri dan sebagainya; inilah realita senyatanya diri kita. Amatilah, jangan mengadili, bahwa ini benar dan itu salah, jangan menekan, jangan memanipulasi, namun semata mengamati. Disini tak ada penerimaan atau penolakan, namun hanyalah pengamatan tanpa komentar; yaitu pengamatan dalam diam. Disini ada kebebasan batin dari segala pikiran (mokshatam).

Bila orang sampai pada kebebasan ini, maka dia sudahlah pasti tak terjerat pada tonggak yang kaku dari keimanan, kepercayaan, doa, konsep tuhan, dewa-dewa, ritual maupun tradisi.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: