Beranda > Kesehatan > RHEUMATIK

RHEUMATIK

Bila anda peduli dengan diri, tentu anda akan sangat menghargai kesehatan diri anda, bukan? Ini hanyalah sebuah kisah yang dialami siPHT (Praktisi HealingTouch), yang barangkali ada manfaatnya bagi para peminat kesehatan.

Kisah ini terjadi belasan tahun yang lalu. Ketika suatu hari seorang pasien yang telah menderita rheumatik selama dua puluh tiga tahun. Pada saat itu si-pasien berusia 48 tahun, telah berobat kemana-pun. Ketika tak kunjung sembuh, seperti umumnya bagi orang Bali yag hidup dalam pengaruh kepercayaan, maka dia akan pergi kepada ‘orang pintar’, untuk menanyakan prihal sakitnya. Dan seperti umumnya, jawaban ‘si-orang pintar’, sakitnya adalah sakit ‘niskala’ (sakit yang disebabkan oleh: manusia/magic, ‘dewa’, dan ‘pitara’/roh leluhur). Dan, seperti sudah menjadi resep, rumus bagi si-orang pintar (balian), maka mesti dibuatkan upakara (persembahan).

Si-pasien yang telah menderita sakit selama 23 tahun tentulah telah banyak mendengar dari banyak orang-orang pintar yang membantu penyembuhannya. Dan katanya bahwa dia kena magic (‘serana’) sejenis santet barangkali. Si-PHT yang dilabeli sebagai sangKafir yang melebihi komunis, memang tak tertarik pada kepercayaan apapun; jangankan kepada magic, setan, iblis; dewapun dia tak percaya. Si-PHT yang berlajar sedikit tentang kesehatan lewat akupunture touch, memahami bahwa rheumatik ini adalah akibat terganggunya meridian kantung-kemih, dan gejala ini akan tampak pada simpul otot dan syaraf sacrospinalis.

Namun bagaimanapun juga siPHT merasa pessimis, bagaimana mungkin dapat membantu penyembuhan bagi rheumatik yang sudah sedemikian parah. Semua sendi-sendi khususnya lutut, siku, pergelangan kaki dan tangan si-pasien telah sedemikian bengkak dan panasnya bagaikan bara. Namun rasa pessimis siPHT menghilang, manakala dia sungguh berhadapan dengan si-pasien yang mengerang dalam sakit yang teramat sangat itu. Dia-pun mulai terapi itu dengan menekan sana-sini, pada jalur meridian kantung-kemih dan membantu energi untuk mengalir lebih sempurna. Si-pasien terheran-heran, karena cara pengobatan si-PHT sama sekali berbeda dengan cara-cara ‘si-orang pintar’ atau tukang pijat, yang biasanya membuatnya lebih menderita oleh rasa sakit.

Empat hari kemudian si-pasien pun datang lagi sesuai anjuran si-PHT. Si-pasien datang dengan wajah berseri tanpa dipapah seperti pertama kali dia datang. Dari pengakuan si-pasien, siPHT memperoleh masukan yang sangat bermanfaat. Bahwa sepulang dari terapi empat hari yang lalu, sesampai dirumah si-pasien kepingin buang air kecil. Dia merasa heran, dia merasakan sesuatu yang lain, dia merasakan kesulitan untuk buang air kecil, padahal sebelumnya hal ini tak pernah terjadi. Ini menimbulkan kecurigaan dalam hatinya. Dia berpikir tentu ini adalah effek dari terapi yang baruan dilakukan; maka dia lalu mengambil sebuah gelas untuk menampung air seninya. Dia mencurahkan kemauannya dan berkonsentrasi, walau sulit, setelah agak lama, sesuatu yang sangat berat keluar juga lewat saluran kencingnya. Rasa nyeri yang sangat terjadi selama air seni yang berat itu mengalir. Ketika dia mengamati air seni didalam gelas itu betapa kaget hatinya. Separoh dari gelas yang penuh itu berisi endapan bagai lumpur pasir yang kehitaman dan seluruh air seni itu-pun berwarna gelap. Dan malam itu rasa sakit pada persendiannya banyak berkurang dan dia dapat tertidur pulas. Ke-esokan harinya dia dapat turun dari pembaringan dan berjalan perlahan, yang sebelumnya tak dapat dia lakukan.

Ketika dia datang ketempat siPHT untuk kedua kalinya, persendiannya sudah hilang dari bengkak. Hanya dua kali terapi, reumatik yang diderita selama 23 tahun yang sangat menghantui hidupnya, betul-betul menghilang. Jangankan dia, si-PHT pun sulit percaya. Hari-hari selanjutnya dia hampir setiap hari menjelajahi lereng-lereng dan lembah yang selama ini hampir terlupakan. Dilereng-lereng dan lembah inilah masa kanak-kanak dan remajanya yang dua puluhan tahun tak pernah dikunjunginya.

Tahukan Anda, kebiasaan buruknya yang terlalu asyik dengan pekerjaan, membuat dia lupa untuk minum. Jadi kebiasaan jarang minum air putih, semasa muda bereffek buruk yaitu menjadi rheumatik.

Kategori:Kesehatan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: