Beranda > Kesehatan > APAKAH ITU-4

APAKAH ITU-4

Ke-dubraakkk, seseorang terjatuh didepan rumah siPHT. Dia adalah seorang kerabat dari seberang jalan yang masih dalam satu lingkungan desa. Dia terjatuh dari sepeda motor yang dia naiki. Sungguh heran juga, bagaimana dia yang dalam kondisi sakit datang-datang dengan mengendarai sepeda motor sendirian.

“Maaf, saya menyusahkan Pakyan” katanya kepada siPHT, dengan tangan gemetar. Wajahnya sangat pucat dengan tubuh yang kurus.
SiPHT mengangkat motornya, dan berkata, “tak apa-apa, namun anda ini dalam kondisi tak sehat, kenapa mengendari motor?”
“Saya datang mohon pertolongan Pakyan, dan kedatangan saya ini juga atas anjuran dari saudara sepupu Pakyan. Selama ini saya berobat ke tempat si-orang pintar (balian) diseberang sana, karena dokter-dokter sudah tak sanggup menangani sakit saya”. Namun telah lima bulanan lebih saya berobat kesana, dan sakit saya tak kunjung sembuh, malah saya rasakan semakin parah.”

Si-kerabat kita ini terus melanjutkan ceritranya, tentang semua pengalamannya berobat. Awalnya ke medis, namun karena tak kunjung sembuh akhirnya berlanjut dari satu dukun ke dukun yang lainnya. Dan terakhir pada si-orang pintar diseberang sana. Menurut si-orang pintar (balian) bahwa sakit ‘niskala’nya adalah oleh orang dekat ‘gigi dan lidah’ istilah orang-orang setempat; artinya dilakukan oleh orang seatap/serumah. Bisa oleh mertua, menantu, ipar atau sepupu. Dari si-orang pintar ini dia mendengarkan segala ceritra yang serem-serem, dan dia mesti ‘tangkil’(sujud menghadap dewa) sampai larut malam, kalau bisa sesering mungkin kerumah si-balian. Ya… sudah tentu untuk ‘tangkil’ ini bawa ‘sesajen’ /persembahan, paling tidak ‘canang-sari’ dengan ‘sesari’ sepuluh ribu rupiah saja, ditambah dupa atau rokok.

Mendengar cerita si-kerabat kita yang sakit ini, bukanlah hal mustail kalau sakitnya bertambah parah. Dari ‘tangkil’/menghadap dewa sampai larut malam ini, tentulah banyak menguras energi, apalagi bagi seorang yang sakit. Dan ketika dia dicekoki dengan cerita-cerita yang serem, menakutkan, secara spikis tentulah si-sakit akan semakin tertekan, sehingga dia mengalami ulusinasi, melihat sesuatu yang membuatnya semakin takut. Sampai-sampai dia mesti membawa ember ke-tempat tidur untuk menampung buang air-kecil, karena dia tak berani ke-kamar mandi walau itu disebelah kamarnya. Kondisi yang berlarut-larut ini menguras energinya, membuatnya menjadi kurus-kering dan tak bertenaga.

Untuk pengobatan kondisi sakit yang parah ini, dibutuhkan extra power, karena harus dapat membebaskan beban spikilogis dari kepercayaan si-sakit akan segala magic, leak yang terus menghantuinya. SiPHT pun memulai terapinya, sungguh suatu pekerjaan yang cukup melelahkan. Setelah hampir satu jam, terapipun disudahi. Si-kerabat merasakan sesuatu perasaan ringan, walau dia masih terasa lemah. Ketika si-kerabat kita pulang disitu masih ada tiga orang pasien yang menunggu. SiPHT tak segera menangani mereka, dia tetap duduk terdiam. SiPHT merasakan sesuatu bergerak panas di dalam perutnya. Ketika lebih diamati, ternyata rasa panas itu mengalir dari tangannya dan berkumpul pas di dalam perutnya, disekitar ginjalnya. Rasa panas ini semakin mencengkram, berputar dan mulai terasa perih dan sakit yang luar biasa. SiPHT yang telah pernah merasakan hal-hal yang irasional (baca APAKAH ITU) sepenuhnya terdiam dalam pengamatan. Perlahan rasa panas, perih dan sakit yang amat sangat ini semakin terkumpul. SiPHT telah dapat menguasai, dan menjadi bagian dari kumpulan rasa itu. Tergerak hatinya untuk mengetahui apakah adanya hal ini. Selanjutnya terjadi suatu dialog tanpa kata. Kemauan dari perhatian siPHT mendesak rasa panas, perih dan sakit itu untuk menjawab…., dan tiba-tiba kumpulan rasa itu membentuk sebuah wujud, bagai sebuah kipas yang didalamnya ada gambar ‘cili’ (ornamen mata, hidung dan bibir) dengan warna kuning berkilauan seperti emas. Ini adalah wujud magic yang bernama “sampyan-mas.” Hal ini dikatakan oleh seorang brahmana dikemudian hari kepada siPHT, bahwa magic ini, jika diandaikan didalam ketentaraan, “sampyan-mas” ini sudah level perwira tinggi (mayjen atau letjen). Dan kembali siPHT mendesakan kemauannya; secara perlahan “sampyan-mas” itu berubah menjadi wajah seseorang yang dia kenal sebagai Gus-Biang sambil tersenyum-senyum. Dialog tanpa kata ini terus berlanjut.
“Apa yang anda lakukan disini Gus-Biang?” tanya siPHT.
“Ah, maaf Pakyan, saya kebetulan lewat dan saya iseng”, jawab wajah si-‘sampyan-mas’ itu.
“Lho, enak saja minta maaf atas berbuat iseng anda pada kesehatan dan nyawa orang lain”, hardik siPHT.
“Ampunkan saya Pakyan, saya janji tak’an berani mengulanginya lagi”, jawab si-‘sampyan-mas’ terbata-bata.
“Saya bukan orang yang kejam ‘Gus-Biang’, namun bila anda melanggar janji, saya tak’an melepas anda” kata siPHT.
“Baik Pakyan, saya akan pegang janji itu, terima kasih Pakyan, saya mohon diri”, seraya berkata demikian wajah Gus-Biang memudar dan menghilang, membawa serta rasa panas, perih dan sakit dari dalam perut siPHT.

Tahukan Anda, “Apakah itu…?”

Kategori:Kesehatan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: