Beranda > Keheningan > GALUNGAN-GALANG

GALUNGAN-GALANG

Kurang lebih 210 hari yang lalu didalam Blog ini saya menulis tentang Penjor dan juga Galungan. Dalam tulisan yang lalu saya telah mencoba sedikit menyelami makna yang terkandung dalam penjor yang merupakan simbolis Gunung Agung.

Namun saya lebih senang melakukan eksplorasi untuk membedah makna hakiki dari filosofis yang terkandung dalam simbol-simbol, dalam perayaan dan lain-lainnya, dari pada mengulas kulit-kulit yang hanya menuntun umat pada kepercayaan (avidya). Seperti berkali-kali kita ungkap, kepercayaan bukanlah hakekat dari agama, namun agama menuntut umat untuk berlajar bukan mempercayai. Anda adalah para Arjuna yang telah diberikan senjata pasupati; menangkanlah pertempuran Anda dimedan kurasetra dengan mengangkat senjata pasupati dan membidik musuh2 Anda. Inilah pesan dari Gita, yaitu Vedanta (berakhirnya veda-veda, berakhirnya kata-kata, adalah hening). Hal ini tak bisa Anda peroleh dengan mempercayai; namun Anda mesti bertempur, menyimak sehingga sampai pada pemahaman. Hanya dengan pemahaman, semua keraguan, kebimbangan, kegelapan, avidya dalam diri para Arjuna sirna.

Kalau kita mendengar Dharma wecana di TV atau ulasan di media cetak, kebanyakan mereka hanyalah berbicara tentang konsep-konsep, sebatas kulit, upacara, upakara dan tak pernah menembus makna terdalam dari inti ajaran Hindu yaitu mokshatam (kebebasan batin dari pikiran). Ini berarti kemungkinan mereka sama sekali tak pernah menyentuh apa itu kebebasan batin dari pikiran; menyentuh apa itu keheningan; apa itu Vedanta; apa itu Lontar Tanpetulis; apa itu Acintya; apa itu Tatwam-Asi. Wecana mereka sebatas kulit yang dangkal, dan ini sama sekali tak dapat meningkatkan kwalitas ketajaman senjata pasupati para Arjuna. Dan semua perayaan keagamaan, hanyalah sebatas ritual, persembahyangan. Dan rutinitas ini mau tak mau membuat batin tumpul sehingga saat ini tak begitu banyak umat tertarik melakukan suatu penyelaman untuk menemukan mutiara-kasih dari filosofi kitab-kitab suci atau lontar-lontar.

Ketika kecil aku sering mendengar kakekku bercerita kepada paman-pamanku. Saat itu kakekku sudah mencemaskan tentang ritual, tradisi yang kemungkinan akan semakin menjerat umat pada avidya (kegelapan batin). Karena ritual hanya akan memperkuat kepercayaan, dan ini pasti menuju avidya. Kakekku sering berbicara tentang ‘pelepasan’, ‘ketidak-terikatan’, ‘lontar-tapetulis’, ‘sunya’, inilah hahekat tertinggi ajaran agama, bukan ritual, bukan tradisi, bukan kepercayaan. Kakeku akan berbincang-bincang, melakukan penyelaman, memaknai kaedah-kaedah, simbol-simbol, bersama paman-pamanku, ayahku kadang ibu dan nenek-ku ikut nimbrung, memberi sanggahan. Diskusi ini mereka lakukan pada saat seperti Penampahan Galungan atau pada hari-hari raya yang lainnya dimana mereka punya kesempatan berkumpul. Dan saat ini barangkali tak ada orang yang melakukan diskusi tentang inti-sari dari sanatanadharma (eternal cosmic law).

Setelah kakekku meninggal, Nenekku suka berfilsafat meniru ucapaan kakekku, “Galungan-Galang……, pada hari raya Galungan ini hati kita mesti ‘galang’ (terang). Ayo kita bersihkan seluruh rumah, halaman dan juga hati kita”, ajaknya pada cucu-cucunya. Walau nenekku barangkali tak begitu memahami makna filosofis dari ‘Galungan-Galang’, namun hidupnya penuh semangat, lugas, tegas tak ada kerisauan. Orang Bali bilang “lasya” (sungguh-sungguh dan tak pernah nengok kebelakang). Kami cucu-cucunya sangat mengaguminya.

Apa yang dilakukan umat pada saat perayaan Galungan? Mereka hanya melaksanakan kaedah-kaedah agama sebatas upacara, ritual. Pada hari ‘Penyajan’ biasanya memancangkan penjor, dan juga potong babi yang dahulu biasanya dilakukan pada hari ‘Penampahan’. Selebihnya membuat lawar, babi guling, makan-makan. Dan selama suasana hari raya, kadang ada bazaar penggalian dana. Dan bazzaar ini menjadi budaya baru budaya makan-makan dan minum-minum, hedonism. Sebagian yang lainnya akan menghibur diri mereka lewat judi ‘ceki’, domino, spirit dan sebagainya. Hanya beberapa orang yang suka pesantian. Ada banyak pesantian saat ini, namun mereka sebatas melantunkan lagu dan memberi arti, tak pernah membedah makna yang terkandung secara mendalam. Dan tak jarang pesantian dijadikan prestis, sebatas ajang pamer.

Adakah sungguh sulinggih, yang menyebut dirinya sebagai brahmana, sang surya; melaksanakan ‘swadharmaning’ surya; yaitu menyinari, menerangi, batin umat yang dalam avidya, dalam kegelapan….? Setelah sekian lama, puluhan bahkan ratusan tahun adakah kemajuan dalam bidang spituil yang kita capai…? Tidakkah hal ini perlu kita pertanyakan bagi diri kita?

Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma; ini berarti Dharma itu telah menang bukan? Maka itu semestinya ada ‘Galang’/terang dalam diri kita. Sungguhkah terang itu ada didalam hati Anda? Bila terang itu sungguh ada, maka Anda tak’an bingung, tak’an ragu, tak’an tersesat, tak’an takut, bukan? Selamat…Galungan…Galang..!!!

Bila hal ini tak terjadi dalam diri kita; jujurlah, tak usah bersedih. Mestinya kita tak bisa merayakan Galungan; karena Dharma belum menang atas Adharma dalam diri kita. Namun tak apalah, kita ikut saja merayakan. Kita ikut saja potong babi, dan kita ikut saja membuat lawar atau babi guling; namun demikian, tiada salahnya bagi kita mulai mempertanyakan. Dengan mempertanyakan, Anda telah memulai suatu proses belajar, Anda mulai mengangkat senjata pasupati Anda. Dengan mempertanyakan Anda mulai membuka front medan pertempuran. Inilah tugas/swadharmaning Anda sebagai Arjuna-Arjuna. Medan kurusetra adalah tubuh Anda. Didalam diri Andalah Kurawa dan Pundawa bertempur. Amatilah diri Anda. Semua masalah, penderitaan Anda berawal dari para Kurawa dalam diri Anda sendiri. Lihatlah; bagaimana para Kurawa telah menjerumuskan diri Anda, kedalam pengejaran kesenangan; bagaimana Anda terjerat dan kecanduan kepada hal-hal yang memabukan. Bagaimana para Kurawa menjadikan diri Anda sebagai budak nafsu-nafsunya. Nafsu serakah, nafsu birahi, nafsu marah, nafsu benci, iri-hati dan lain sebagainya. Hal inilah yang mesti sungguh-sungguh Anda pahami. Inilah musuh-musuh, inilah para Kurawa yang ada dalam diri Anda. Bila senjata pasupati/intelegensi Anda tajam, cerdas, maka sekali bidik Anda pasti akan memenangkan pertempuran.

Bila Anda memenangkan pertempuran, maka Dharma menang atas Adharma; Galungan-Galang memancarkan cahaya gemilang, penuh suka-cita dari batin yang menyentuh Vedanta.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: