Beranda > Keheningan > TERPAKSA DIPOTONG

TERPAKSA DIPOTONG

Manakala kanker mulai menyebar pada luka dikakinya, sang Dokter tak punya pulihan; dia pun memotong kaki pasiennya, kalau tidak tentu nyawa si-pasien melayang. Kita boleh saja beranggapan tindakan si-Dokter itu benar atau salah. Atau beranggapan bahwa si-Dokter kejam, tak berbelas-kasih. Apapun anggapan kita tiada masalah bagi sang Dokter; karena pada saat itu, itulah yang mesti dia lakukan.

Seorang teman berkomentar, tulisan-tulisan Anda, bukan hanya menggugah, namun mengguncang. Ibarat membangunkan orang tidur, Anda telah menggunakan cambuk. Dan banyak teman yang kadang berasumsi bahwa saya sedang mempermasalahkan tradisi. Seandainya kita cermat, dari sekian tulisan-tulisan dalam blog ini, saya semata mengungkap fakta, realita apa adanya. Dan dalam setiap menulis, juga pada saat ini, saya sungguh melihat bagaimana kata-kata ini mengalir. Jadi, kata-kata ini bukan hanya diperdengarkan untuk Anda, namun juga diperdengarkan bagi diri si-penulis. Kata-kata ini diharapkan dapat setajam mata pedang, agar dapat membedah sedalam-dalamnya kedalam diri. Dan kata-kata ini ibarat pedang bermata dua (baca Pendekar Pedang); satu mata pedang menghadap keluar menikam dan merobek dada Anda; dan mata yang satunya menghadap kedalam untuk menusuk dan merobek dadaku sendiri. Apakah saya kejam terhadap diri saya, pun kepada Anda…?

Jikalau saya mempersoalan, merasa berkeberatan, terhadap apapun, apakah yang terjadi dalam diriku….? Jelas terjadi konflik dalam diri saya. Bila ada konflik didalam diri, maka tulisan ini tak’an dapat mengalir. Jadi, pahamkah Anda, bahwa selama kita mengalir maka tak’an ada konflik, dan sudahlah tentu kita tak pernah merasa berkeberatan. Barangkali saja tulisan ini mengguncang, bagaikan gempa dengan bobot 10sclR, sehingga dengan demikian kerangka sang-Diri (si-Ego) menjadi hancur-lebur. Hanya dengan menghancurkan struktur si-Ego, barulah ada kebebasan batin (mokshatam). Demikianlah si-Dokter dianggap kejam karena tak ada pilihan, terpaksa memotong kaki pasiennya.

Apa itu tradisi? Dalam tulisan terdahulu, telah berulang-ulang kita tegaskan. Tradisi adalah perkembangan dari sebuah budaya. Ketika budaya ini kita lestarikan, setelah bertahun-tahun jadilah dia tradisi. Dan beberapa tradisi yang disakralkan menjadi rituil, yang mesti dilakukan dan kita percayai. Demikianlah kepercayaan kita menumbuhkan harapan dan rasa takut didalam diri. Inilah mata rantai itu; harapan dan rasa takut tumbuh dari kepercayaan dan kepercaya timbul dari ritual dan tradisi. Dan semua ini bersumber, berada didalam pikiran. Adakah ini salah…? Atau adakah ini benar…? Saya tidak sedang mencari benar atau-pun menolak salah. Namun saya semata mengungkap kepermukaan agar saya dapat melihat secara detail secara jernih, bagi diriku sendiri.

Ketika saya terjerat didalam mata rantai: harapan-rasa takut-kepercayaan-ritual tradisi, maka saya tak’an kemana-mana. Saya berakhir disini, didalam ruang pikiranKu yang kerdil. Dan ini bukanlah hakekat agama. Ini bukanlah mokshatam; ini bukanlah vedanta; ini bukanlah keheningan. Inilah hal yang mesti sungguh-sungguh aku pahami. Selama pikiran memenuhi batinku, sudahlah pasti disini tak ada keheningan bukan? Bila kita jelas akan hal ini, kita tak’an menyalahkan atau-pun membenarkan. Kejernihan dalam diri otomatis mendorong tindakan kita terlepas dari dualitas. Kita tak’an berada dalam pertentangan antara percaya dan tak-percaya.

Pernahkah Anda memperhatikan orang-orang yang berjudi ‘ceki’? Di Bali judi ini sangat populer sudah membudaya. Coba kita amati! Kurang-lebih setiap tiga menit sekali seorang pemain akan mendapat giliran untuk membuka kartu. Dan pada setiap membuka kartu ini, disadari atau tidak, disitu ada harapan dan sekaligus rasa cemas. Harapan untuk mendapatkan kartu ‘soca’ atau setidaknya ‘lawang’. Bayangkan dalam satu jam akan terjadi akumulasi rasa cemas dan harapan sekitar 20 kali. Semakin banyak akumulasi ini memenuhi batin kita, maka semakin sulitlah untuk menghadirkan keheningan didalam diri kita. Ini adalah realita. Ini adalah sanatama-dharma (eternal cosmic law). Kita mengukap tradisi ’meceki’ ini hanyalah sebagai acuan untuk sampai pada pemahaman; bukan dalam rangka membenci perjudian. Monggo…, hidup Anda adalah milik diri Anda sendiri. Tulisan ini sama sekali bukanlah ungkapan rasa berat akan tradisi maupun terhadap pilihan hidup Anda.

Nah ini ada cerita kiriman seorang teman, bahwa dia mempunyai seorang bibi jomlo yang sangat terjerat dalam kepercayaan. Maka dari itu, hampir setiap hari dia melakukan puja dengan persembahan yang komplit. Ya…ada segala macamlah; ya sudah tentu yang dia senangi, karena setelah dipersembahkan kepada dewa, ‘paridan/lungsuran’ (sisa dari dewa) akan dia nikmati sendiri. Saking baktinya kepada tuhan, maka sebelum memberi persembahan, dia selalu menghias patung-patung pujaannya dengan bunga-bunga yang indah. Hampir sebagian besar waktunya dia persembahkan kepada dewa-dewa, sehingga dia tak ada perhatian kepada yang lainnya, termasuk kepada keponakan, saudara yang lainnya didalam keluarga itu. Bukan hanya tak ada perhatian namun si-Bibi ini juga sangat pelit kepada orang-orang, dia hanya dermawan kepada dewa-dewa dan patungnya.

Dari aneka persembahannya, yang selalu ada adalah Krupuk Melinjo. Barangkali dewanya sangat menyenangi Krupuk Melinjo, sehingga dalam setiap persembahannya selalu ada Krupuk Melinjonya. Hal ini berlangsung puluhan tahun, ya namanya juga tradisi mestilah tahunan. Kini setelah usianya bertambah si-Bibi menderita asam-urat ditambah rheumatik dan dia mulai mengalami kesulitan berjalan. Namun karena kepercayaan yang tak tergoyahkan, dia-pun selalu ingin tetap melakukan apa-apa yang selama ini dia lakukan. Bila dia tak dapat melakukan kewajibannya dia merasa berdosa. Maka dari itu dia berusaha berjalan dengan bantuan tongkat, untuk memetik bunga-bunga sebagai hiasan patung-patungnya. Namun hakum-alam yang pasti; Krupuk Melinjo yang menjadi persembahan pavorite itu, dan sekali-sekali (seminggu sekali) ditambah ‘betutu’ bebek putih-jambooll, membuat sakitnya bertambah parah, sehingga tongkat-pun tak dapat membantunya berjalan. Ketika si-Bibi terjatuh, keponakan atau cucu-cucunya barangkali cuma bisa memandangi.

Teman kita berguman dalam hati, “nah, itulah…, karena Anda tak pernah menyayang keponakan pun cucu-cucu Anda…., sekarang mintalah tolong pada patung-patung itu, yang Anda sayangi selama ini”. “Ironis…ironis…ironis…” ckzz..ckzz..ckzz…, teman kita ‘kitak-kituk?’ ^_^

Kategori:Keheningan
  1. 23 September 2014 pukul 7:11 pm

    Excellent way of telling, and pleasant article to get facts on the topic of my
    presentation subject, which i am going to present in academy.

    • windra
      24 September 2014 pukul 9:14 am

      We need a parable in reaching the meaning…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: