ORLA

Belum lama ini adalah seorang pensiunan tentara datang dan berceritra tentang masa sekolah dia tahun-tahun 1950an. Dahulu sekolah dasar itu masih bernama SR (sekolah rakyat). Ada salah satu hal yang masih sangat berkesan dalam hatinya yaitu bagaimana seorang Guru mengajar kejujuran kapada murid-muridnya.

“Ayo anak-anak, cobalah kalian tumpangkan telapak tangan kalian menghadap keatas (‘nunas’/meminta) sambil berdoa kepada tuhan”, pinta sang Guru.
Semua anak-anak menumpangkan tangannya.
“Nah sekarang pejamkan mata kalian sambil berdoa, “Ya tuhan berilah aku sebatang pensil…!”
“Bukalah mata kalian, adakah pensil ditangan kalian?”
“Tidak ada”, sahut murid-murid.
Sekarang pejamkan kembali mata kalian dan berdoa.” “Pak Guru berilah saya sebatang pensil”, sang Gurupun meletakan pensil satu-persatu pada masing-masing tangan muridnya.
“Nah sekarang buka mata kalian, adakah pensil ditangan kalian?”
“Ada”, sahut murid-murid serentak. “Belajarlah kejujuran dari realita apa adanya. Janganlah kalian membohongi diri sendiri.” Sang Guru mengahkiri.

MADILOG-nya Tan Malaka barangkali telah menjadi sarapan pagi bagi generasi pada masa itu. Sehingga para guru, pemuda rakyat, buruh-tani, dan anak-anak sekolah bersikap jujur dalam kehidupan. Sportivitas menjadi landasan dari tindakan hidup mereka. Kalau ada anak yang bodoh, ya mereka tak berkecil hati walau tidak naik kelas, atau tidak lulus dalam ujian. Mereka mesti belajar lebih giat jika ingin pintar. Guru pendidik pada masa itu sangat peduli dan mencinta professi mereka, sehingga mereka dapat berdialog dari hati kehati dengan anak-anak didik mereka. Demikian juga halnya dengan para murid, mereka patuh, disiplin dan mencinta guru-guru mereka. Namun sekarang anak-anak diajari berdoa memohon kepada tuhan agar diberi kepintaran, NILAI BAGUS, dan lulus ujian.

Didalam kehidupan bermasyarakat pun diterapkan kejujuran, dan sportivitas. Pada tradisi Hindu di Bali sejak jaman dahulu, yang namanya trance (’kerasukan/ kesurupan’) sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi. Di kampung kami yang basis dengan paham kiri, tentu menjunjung madilognya Tan Malaka, sehingga generasi muda mulai menguak untuk memberantas kebohongan-kobohongan yang terjadi. Dalam suatu kesempatan upacara, ada beberapa orang yang akan mengalami trance; biasanya para Imam (pemangku) juga orang-orang tertentu ‘tapakan betara’ (orang-orang yang biasanya mengusung assesories, atribut dan simbol-simbol yang disakralkan). Generasi muda membakar seikat besar ‘dupa/hio‘ yang telah dipersiapkan dan dengan sembunyi-sembunyi menyulut orang-orang yang mulai trance. Spontan saja orang-orang yang trance itu berteriak kesakitan, karena mereka tak menduga akan disulut api. “Kalian para Imam sebaiknya berhenti melakoni kebohongan-kebohongan ini…! Apa kalian tak sadar, tindakan kalian telah membodohi diri kalian dan orang-orang sekitar.” Sejak saat itu sampai kini dikampung kami tak ada lagi tradisi orang-orang yang trance.

Namun dilain tempat trend trance ini jadi kebanggaan. Ceritra seorang teman bahwa dikampungnya ada seorang yang dipercaya sebagai ‘tapakan betara’ (wakil dewa) dalam acara-acara tertentu akan memberi arahan kepada umat lewat trance. Anak ini sejak SMA sudah sering mengalami trance, dan kata si-orang pintar (balian) bahwa dia adalah anak ‘melik’ (anak yang punya kelainan/kelebihan) mungkin sejenis anak indigo, dan orang-orang sekampung mempercayainya. Yang paling merasa bangga adalah orang tua si anak. Gara-gara anaknya si-orang-tua ikut menjadi orang terhormat dikampung itu. Rasa terhormat ini telah membawanya terbang tinggi dalam mimpi-mimpi, betapa para dewa akan memberkahi kehidupan keluarga mereka. Namun realita yang pasti……, adalah ketika si-anak terobsesi sebagai ‘tapakan betara’ , membuat dia jumawan dan menjadi malas belajar, sehingga rankingnya di-sekolah jadi juara I (pertama) dari belakang.

Inilah dinamika kehidupan. Tahun-tahun lima-puluhan orang lebih mudah untuk bersikap jujur, namun sekarang untuk jujur sangat sulit. Ketika jaman ORBA, desa adatku sering ikut perlombaan. Salah satunya, kami pernah ikut lomba Subak. Agar mendapat juara pertama, semuanya telah diatur. Tanaman padi yang paling subur disorot TV, gorong-gorong/saluran air menuju kesawah ditaruhi ikan-gurami yang besar-besar. Ketika dijaring dengan ‘sawu’….., ya sudah barang tentu dapat ikan yang banyak dan gemuk-gemuk. Dan semua kebohongan ini dipublikasi lewat TV. Apa artinya ini……?, bahwa kita semua sepakat untuk berbohong, membohongi dan membodohi diri sendiri. Dan kita bangga mengatakan diri bisa swasembada beras.

Kenapa kita manusia senang berbohong, senang melebih-lebihkan, tak bisa berkata jujur, apa adanya.., kenapa? Dari urusan yang paling sepele sampai kepada urusan tuhan-tuhan yang kita mulyakan, kita suka melebih-lebihkan, kenapa, kenapa..? Apakah Anda tidak melebih-lebihkan….? Cobalah amati diri anda, untuk apa kita berkata lebih, berbohong; ini tentu ada motifnya, bukan? Apa motifnya?…… kebanggaan, bukan? Ketika aku bisa bicara besar, aku merasa bangga diri, dan aku-pun senang. Dan aku terjerat dalam kebanggaan. Untuk dapat terus mempertahankan kebanggaan aku-pun terus mengarang kebohongan demi kebohongan.

Inilah suatu penyakit yang melanda kehidupan manusia, yaitu penyakit bangga diri. Apa penyebab dari penyakit ini? Banyak faktor yang saling terkait. Ada faktor konpensasi untuk mendapat pengakuan (baca PENGAKUAN KAKEKNYA). Dari sini muncul faktor rasa nikmat; senangnya mendapat pengakuan. Selanjutan ada predikat yang melekat pada diri, dan berkembang menjadi martabat, kehormatan, rasa terhormat. Ketika Anda mendapat predikat seorang Guru, apalagi Guru Agung (baca KELUARGA PENDONGENG), Anda merasa terhormat dan berhak memandang rendah, memandang bodoh, meng-hakimi orang lain.

Cobalah kita diam dan amati. Kita terus mengejar, mengejar dan mengejar. Semuanya demi kebanggaan diri. Untuk ini kita telah memupuk banyak sekali kebohongan demi kobohongan. Dengan dalih kepercayaan, keyakinan, keimanan; maka kita terus berteriak, “tuhan maha-besar, tuhan maha pengasih dan penyayang.” Sungguhkah kita paham, tahu bahwa tuhan maha besar, maha pengasih dan penyayang? Sungguhkah…? Atau kita hanya meniru-niru, kita telah terdogtrinisasi oleh kepercaya? Bila Anda sungguh paham, ini artinya bahwa Anda punya pengalaman langsung tentang kebesaran tuhan. Bagaimana mungkin hal ini terjadi, bila kita selalu hidup dalam ruang pikiran yang kerdil. Bila batin kita dipenuhi oleh rasa terhormat, rasa bangga; batin yang terjerat dalam banyak kesenangan, kepercayaan, harapan dan rasa cemas; kebencian dan keserakahan….? Apabila batin Anda dipenuhi oleh hal-hal yang buruk ini, maka anda tak’an dapat merasakan kasih tuhan; oleh karena itu ucapan Anda tentang tuhan “maha pengasih” adalah kebohongan. Demikian juga halnya bila Anda tak pernah berada dalam dimensi diluar pikiran, dalam kemaha-luasan; maka ucapan Anda tentang tuhan maha-besar adalah dusta. Sadarkah Anda akan hal ini…?

Maka itu kita mesti belajar. Belajar bukan mempercayai. Bila anda mempercayai anda tak’an dapat belajar dengan benar. Belajar adalah mengamati, menyelidik, mempertanyakan. Anda tak dapat belajar tentang tuhan dengan kepercayaan, namun anda dapat belajar, mengetahui diri Anda: kecemasan, kesedihan, kebanggaan, harapan, pengejaran anda, kecanduan, keterikatan, kekejaman, kebencian, keserakahan dan lain sebaginya; semua kebusukan ini berada dalam diri kita. Bila Anda sungguh paham dengan semua kebusukan diri Anda, maka Anda-pun terbebas darinya. Disini Anda akan berhenti berteriak “TUHAN MAHA BESAR”, kenapa…?, karena anda telah berada dalam kebesaran Tuhan.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: