Beranda > Keheningan > RAJA YANG DUNGU

RAJA YANG DUNGU

Anda tentu pernah mendengar dongeng, tentang kisah si-raja yang dungu. Kisah ini mengajak kita untuk bersikap jujur, bukan? Namun seperti halnya si-Raja yang dungu ini, kita sulit untuk bersikap jujur.

Seandainya kita mau menyimak kisah si-Raja yang Dungu ini, tentu tak’an sulit untuk jujur. Dari keinginan Si-Raja yang terobsesi oleh pakaian yang serba indah, maka hampir seluruh rakyat di negeri dongeng ini menjadi pembohong. Sepertinya si-penjahit sengaja menipu dan menyebar issue, untuk menyindir kedunguan seluruh rakyat dinegeri dongeng. Tapi sayangnya, kita bagaikan buta dan tuli, tak mampu menyimak sindiran si-penjahit itu. Dari perdana menteri, para hulubalang, dayang-dayang, permaisuri, dan sebagian besar rakyat dengan suka-rela bersedia membohongi dan membodohi diri sendiri.

“Tahukah kalian……., kain ini ditenun dari benang SUTRA AJAIB, yang kuperoleh dari SORGA KE-TUJUH. Kain sutra ajaib ini hanya dapat dilihat oleh mereka yang sungguh-sungguh BIJAKSANA. Bagi mereka yang tidak BIJAK tentu tak’an dapat melihat kain sutra ajaib ini”, teriak si-penjahit.

“Bagaimana pendapat kalian, kain ini sangat indah bukan…? Siapakah diantara kalian yang dpt melihatnya……?”, tanya si-penjahit. “Bagaimana dengan Anda Pak Menteri…..?” Sang Perdana Menteri gagap, “ah..oh..o, “ya..ya..sangat indah, INDAH sekaleee……”, sahutnya berbohong, agar tak dianggap tidak BIJAK. Dari kebohongan si-Perdana Menteri, meluas kepada semua hulubalang dan yang lainnya yang hadir pada saat itu. Berita tentang kain sutra ajaib ini tentu sangat cepat menyebar keseluruh negeri. Sebagian rakyat yang jujur hanyalah diam melihat kebohongan dan kemunafikan ini.

Sungguhkah Anda dapat menyimak cerita ini……? Kisah ini serupa dengan DIRI kita, dengan KEPERCAYAAN kita, bukan…? Semua orang di negeri dongeng percaya, dan mengaku bahwa mereka telah melihat kain sutra ajaib yang indah itu, walau sesungguhnya tidak. Bila mereka berkata jujur, hal ini tentu akan membuat mereka malu, karena akan dianggap tidak bijak. Demikian juga halnya kita sangat percaya dengan KITAB SUCI yang bercerita tentang kebesaran TUHAN dengan SORGANYA. Kita berlomba menjadi orang-orang BER-IMAN, karena kita takut dan merasa malu disebut si-KAFIR, bukan? Cobalah diam, amati kedalam diri dan pertanyakan, tidakkah kisah ini mirip dengan kisah diri kita…? Kita berlomba mengatakan bahwa kita PERCAYA, dan paling tahu tentang segala hal, tentang tuhan dan sorganya. Kita percaya bahwa tuhan menciptakan alam semesta dan segala isinya, dalam sepuluh hari sepuluh malam. Kita percaya bahwa tuhan dan sorganya berada dilangit ke-sepuluh. Dan kita percaya pada banyak lagi hal-hal yang lainnya. Bila kita berada di-negeri dongeng, maka kita-pun tentu percaya dan berkata paling lantang dan paling depan…., tentang kain sutra yang ajaib itu bukan…? Kenapa….? Karena diriku yang telah terpola, terkondisi oleh kepercayaan, sudah barang-tentu aku dengan sangat gampang mempercayai apapun. Dimana saja orang menyebar berita yang siap untuk dipercayai, maka Akulah orang pertama yang menyediakan diri untuk percaya. Ini karena sudah menjadi tradisi, kebiasaanKu, hobiKu untuk percaya, termasuk percaya pada kain sutra yang ajaib atau pada segala yang tak kuketahui. Bila aku sungguh paham 2×2 = 2+2, perlukah aku percaya…?

Aku bertanya-tanya dalam hati, tidakkah ada cara hidup yang lain, selain melulu mempercayai…? Seperti juga halnya si-Raja yang dungu, Aku mempunyai banyak alasan untuk percaya, salah satunya…., barangkali karena aku malu disebut sang-KAFIR seperti siPHT. Setelah ku-bolak-balik file-file dalam diriku, aku menemukan banyak sekali alasan untuk percaya, walau sesungguhnya aku benar-benar tak tahu apapun, tentang hal yang ku-percaya. Dan satu hal yang sudah pasti adalah karena ke-TIDAKTAHUAN-ku, ke-TIDAKPAHAMAN-ku-lah, aku menjerat diri dalam kepercayaan.
Namun ketika seorang anak kecil berkata jujur, apa adanya, “Eh.., kenapa Raja jalan-jalan bertelanjang badan, apa nggak masuk angin..? Atau Raja kita sudah gilee yee…..?”

Mestinya aku sadar, dan mempertanyakan, oleh pernyataan jujur seorang anak kecil. Kenapa aku sulit untuk jujur? Apabila aku tak tahu apa-pun tentang kain sutra, tuhan, sorga dan neraka, yang senyatanya sama sekali tidak aku ketahui…?!.., kenapa aku menghindar untuk jujur dan bersembunyi dibalik kepercayaan, yang katanya akan memberi aku berkah dan sorga….? Tidakkah aku serakah akan sorga dan berkah…? Jika tidak, untuk apa aku percaya. Tidakkah dalam kepercayaanKu ada harapan dan rasa takut…? Aku MESTI BER-KALI3 MENGAJUKAN PERTANYAAN2 ini, agar aku bisa JUJUR.

Kenapa aku sulit JUJUR, tahukah ANDA…? karena aku telah melupakan masa KANAKKANAK-ku, yaitu KEPOLOSAN, KEMURNIAN diriku. Bila aku hidup dalam kemurnian diri, disini tak ada rasa takut, harapan dan kepercayaan. Namun kemurnian ini sudah lama kutinggalkan, aku telah mengisi diriku dengan perasaan bangga, lekat dengan segala harta milikku, pengetahuan dan kepercayaanku yang telah di-kumpulkan oleh pikiran sebagai beban batinKu. Hal inilah yang membuat aku sulit jujur. Beban batin inilah yang telah mencemari diriKu, sehingga kepolosan, kemurnian dan kejujuran menjadi barang langka dalam hidupKu. Apabila aku tak dapat melihat, memahami ini, maka mau tak mau dalam hidup ini aku akan selalu MELAKONI peran si-RAJA yang DUNGU.

Kategori:Keheningan
  1. distiant balfas
    22 Maret 2013 pukul 12:27 am

    Bukan percaya tu nmany.. Tu mah gk jujur, hadehhh gmn sih.. Kepercayaan d bandingkan dengan kebohongan, anehhh

  2. distiant balfas
    22 Maret 2013 pukul 12:42 am

    Maksa yg mbuat blog kta2ny.. Masa kepercayaann d bandingin ma kebohongan kn jauh bener! Apalah hubunganya cerita tentang kebohongan tdi dengan kepercayaan, gk ad.. Kok bsa tau2 dri crita tentang kebohongan di hubungin ma kepercayaan, gaje banget, gak nyambung… MAKSA bner yg mbuat blok ne,,

    • 30 Maret 2013 pukul 9:10 am

      Terima kasih koment sdr Balfas.
      Cara pandang setiap orang berbeda. Ini hanyalah sebuah dongeng, yg mungkin bermanfaat atau tiada guna bagi Anda…, “lewati saja!”

  3. Khakool
    18 April 2013 pukul 8:47 pm

    Hehehe…, ternyata banyak manusia sulit…, shg susah hidupnye.

    • windra
      6 Agustus 2013 pukul 8:35 pm

      Kita tak dpt meminta orang lain menghindari kesulitan Sdr. Khakool, krn dia memang menyenangi kesusahan, hehehe…

    • windra
      21 Desember 2013 pukul 8:50 am

      Hal2 yg sulit dikerjakan adalah mmbaca, mendengarkan apa yg disampaikan. Kecendrungan dlm diri yg suka menilai, brasumsi menghalangi kita utk memahami pesan yg dipost…

  4. 19 Juli 2016 pukul 8:46 pm

    Bagus ceritanya Mas. Nitip backlink saya http://www.anakadam.com/2016/07/raja-dungu/

  5. 19 Juli 2016 pukul 8:49 pm

    Eh maaf, makasih sebelumnya. Sekali-kali boleh dong Mas mampir ke website saya: anakadam.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: