Beranda > Keheningan > PELITA HATI

PELITA HATI

Si-PHT berkata bahwa kasih itu adalah terang, adalah pelita hati. Bila ada kasih dalam diri Anda, maka hidup Anda selalu dalam terang, karena pelita hati Anda selalu bersinar menerangi kehidupan Anda. Dengan demikian langkah-langkah hidup Anda begitu pasti, Anda tak’an tersandung, tak’an terperosok, tak’an menabrak, tak’an tersesat, tak’an bingung, tak’an cemas-gelisah. Anda terbebas dari kegelapan (avidya).

“Apa yang dimaksud dengan kegelapan itu Pak”, tanya seorang peserta diskusi.

Kegelapan (avidya) ini adalah semua kekotoran batin; ya.., kemarahan, kebencian, iri-dengki, kecemasan, kebanggaan, kesombongan, ketakutan, kebodohan, keserakahan, kelicikan, kefanatikan, kesedihan, kebingungan, harapan, dan lain-lain, yang menimbulkan masalah dan beban dalam hidup.

“Rasanya tak banyak orang yang bisa bebas dari kegelapan ini Pak; tapi bagaimana dengan cinta-kasih seorang ibu atau orang tua kepada anaknya/putra-putrinya?” tanya peserta yang lainnya.

Rasa cinta atau sayang seorang ibu atau para orang tua kepada anak-anak mereka, pada umumnya bukanlah terang itu. Rasa sayang mereka tak lepas dari motif, dari harapan. Sedangkan terang, kasih ini tanpa motif. Terang ini ada manakala kegelapan batin itu telah sirna.

“Bagaimana dengan cinta-kasih, seorang wanita atau laki-laki kepada lawan jenisnya? Dan bagaimana cinta umat kepada tuhannya?”

Cinta manusia pada umumnya bukanlah kasih itu, bukanlah terang itu. Karena semua bentuk cinta-kasih diantara manusia, baik cinta diantara remaja, laki-laki dengan wanita; cinta umat kepada tuhannya, cinta persahabatan, cinta persaudaraan, termasuk cinta manusia pada binatang, pada alam lingkungan tak terlepas dari motif. Cinta mereka umumnya bersumber dari pikiran, dari sang-Diri (si-Ego) yang berharap, yang menginginkan. Sedangkan kasih, terang ini tidak bersumber dari si-Ego, sehingga kasih ini tak punya motif. Kasih ini ada bila si-Ego berakhir.

“Bagaimana caranya untuk mengakhiri si-Ego; apakah dengan mengendalikan pikiran (si-Ego)?”

Inilah yang sering di-anjurkan oleh para pemuka agama, para pendeta, yaitu mengendalikan pikiran; dengan cara-cara, metode, disiplin tertentu; namun nyatanya tak banyak yang berhasil, bukan?

“Selama ini saya telah mengikuti beberapa metode meditasi dan membaca banyak buku-buku dari berbagai sumber, namun tetap saja saya terbelenggu oleh banyak masalah.”

Seberapa-pun banyaknya petunjuk, metode yang anda lakukan tak’an dapat membawa Anda pada terang, pada kasih, apabila Anda tidak melangkah meninggalkan ruang yang gelap itu. Disinilah letak masalahnya. Saat ini Anda berada dalam sebuah ruangan yang gelap gulita. Anda ketakutan; anda berharap gelap ini hilang. Anda percaya pada seorang suci, pada sebuah kitab suci; dan Anda pun berdoa, memohon kepada sebuah kata “tuhan” (pikiran), agar Anda dapat dibebaskan dari gelap, dari penderitaan, dari ketakutan. Namun nyatanya anda tak pernah melangkah keluar dari ruangan itu; apakah mungkin anda bebas dari gelap?

“Bagaimana saya bisa keluar dari gelap itu…?”

Anda tak mungkin melompat terbang, meninggalkan ruangan yang gelap itu. Anda juga tak’an bisa keluar ruangan dengan berdoa dan mempercayai; namun Anda mesti memahami ruangan yang gelap itu bukan? Anda mesti perlahan, melangkah sambil meraba-raba; barangkali Anda tersandung meja atau kursi atau apapun yang lainnya, Anda mesti belajar dari ketersandungan Anda. Pahamilah kegelapan batin Anda! Dari pada Anda menjerat diri dalam tiang kepercayaan didalam ruangan yang gelap-gulita sambil berdoa’, jauh bermanfaat memahami kegelapan batin sendiri.

Telah berkali-kali kita bicarakan dalam tulisan sebelumnya. Hal ini amat, sangat bersahaja. Karena ini adalah hal yang sederhana, maka aku tak punya kata-kata untuk mengukapnya. Kasih ini, terang ini tak dapat diurai, diungkap dalam kata-kata. Selama kata-kata ada, maka si-Ego ada. Selama ada si-Ego, maka ada kepentingan, ada motif, dorongan dari keinginan. Dan yang lainnya-pun mengikuti. Dari semua permasalahan, konflik yang komplek dalam hidup ini adalah rasa takut yang laten dalam wujud kepercayaan. Kepercayaan dengan ritualnya hanyalah memperkuat harapan dan rasa cemas dalam diri manusia. Semua ini adalah bentuk-bentuk pikiran yang membuat gelap ruang batin Anda. Inilah fakta diri Anda. Inilah yang mesti dipahami. Apa yang dianggap sebagai cinta dalam kehidupan manusia umumnya bersumber dari sini; dari ruang yang gelap ini, sehingga cinta-kasih manusia umumnya bukanlah kasih yang bersifat terang. Kasih dari ruangan yang gelap ini penuh motif, penuh harapan, sehingga menimbulkan konflik, kepedihan dan kekecewaan.

Di Bali kaum Brahmana itu sering disebut sebagai surya (‘ida meraga surya’ /beliau laksana matahari). Seperti halnya matahari yang menerangi semesta, maka Brahmana itu adalah terang, yang diharap dapat menerangi semua kegelapan batin umat se-Dharma. Seandainya brahmana ini sungguh-sungguh surya, mestinya seluruh umat hindu-bali telah bebas dari kegelapan (avidya). Namun ini hanyalah kiasan yang tak mungkin. Karena tak ada siapa-pun, termasuk dewa maupun iblis yang dapat membebaskan Anda dari kegelapan. Hanyalah apabila Anda bersedia menyalakan pelita-hati Anda bagi diri Anda; barulah ada terang, ada kasih.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. 25 Maret 2011 pukul 11:34 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: