Beranda > Keheningan > SESULUH = CERMIN

SESULUH = CERMIN

Adalah sebuah lagu rakyat yang sangat populer pada masa kecilku. Lagu ini adalah lagu ‘sesuluh’ atau cermin bagi umat manusia untuk bertindak/bersikap dalam kehidupan. Di Bali bagi generasi terdahulu, lagu ini tentu tak asing; entahlah…., apa saat ini lagu ini masih ada yang menyanyikan…? Dahulu lagu ini hampir setiap saat dinyanyikan orang; manakala mereka menyabit rumput, mengembala sapi atau kerbau diladang, mencari kayu bakar, mencari makanan babi dan dalam kegiatan sehari-hari yang lainnya.

Ede ngaden awak bisa
Depang anake ngadanin
Geginane buka nyampat
Anak sai tumbuh lulu
Hilang lulu bukke katah
Yadyan ririih
Liu enu pelajahan

Artinya:
Jangan menganggap diri bisa/tahu.
Biar orang lain menilai
Kewajiban bagai menyapu
Selalu ada sampah
Hilang sampah, debunya banyak
Seberapa pintar-pun
Tak ada habisnya pengetahuan itu.

Lagu ini dinyanyikan dengan ‘pupuh ginada’, irama yang ringan dan bersahaja. Irama ini mengajak si-penyanyi melepaskan pikirannya dari segala masalah dan bercermin, introspeksi diri dengan menyimak pada lirik-lirik lagunya. Secara keseluruhan lagu ini mengajak kita untuk menyimak, melihat, kekotoran batin; memahami diri sendiri.

Pada baris pertama, pesan ini mengingatkan kita; waspadalah dengan ketakaburan. Ketika orang merasa dirinya tahu, maka dia akan mandeg disana; dia berhenti menggali, menyimak dan belajar.

Baris ke-dua masih terkait dengan baris pertama; apapun penilaian orang tentang diri kita, tak’an membuat hati kita resah. Bila Anda menilai, mengatakan saya sombong; dimana, apanya yang salah dengan penilaian itu? Saya sama sekali tidak melihat penilaian Anda ini salah ataupun benar. Bila saya sungguh sombong, maka penilaian Anda sesuai dengan fakta; namun sebaliknya, bila saya tidak sungguh sombong, maka Anda mengatakan suatu yang salah. Dengan demikian saya tak perlu merasa tersinggung atau marah dengan penilaian Anda yang salah, bukan? Karena saya melihat, memahami bahwa setiap manusia bisa berbuat keliru.

Baris ke-tiga, ke-empat dan ke-lima merupakan satu rangkaian yang mengajak kita untuk menyadari bahwa kita hadir, hidup di bumi yang indah ini bagaikan orang menyapu. Setiap hari, setiap saat kotoran batin ini selalu tumbuh. Sepertinya sampah-sampah telah tersapu bersih, namun masih banyak debu yang melekat, lengket dalam batin kita. Inilah hal yang mesti dipahami. Dalam diskusi tentang ‘kasih’ adalah teranghttps://wayanwindra.wordpress.com/2010/05/27/pelita-hati/; peserta menanyakan pertanyaan yang sama dengan teman di FB.
“Apakah yang mesti saya lakukan atau perbuat dengan kekotoran batin?”

Apa yang dapat kita lakukan? Dapatkah kita semata mengamati, yaitu mengamati tanpa gerak pikiran? Ini adalah pengamatan dengan kwalitas kemurnian, maka kotoran batin itu menguap, sirna, yang tinggal hanyalah pengamatan, hanyalah kesadaran diri. Untuk dapat mengamati mesti ada keawasan, kesungguhan perhatian. Kebanyakan orang tak dapat melakukan, karena keterkondisian dirinya telah terpola; sehingga tindakannya selalu adalah reaksi dan ini menjadi kebiasaan, menjadi tradisi. Ambil contoh kecil; bila ada orang memaki dengan kata-kata yang sangat kasar, maka spontan saya tersinggung atau marah. Inilah reaksi yang telah menjadi tradisi dalam diri saya yang terpola. Salahkah hal ini? Dalam memahami tak ada persoalan salah atau benar; namun kita semata menyimak, mengamati. Dan kita pun melihat sebagaimana adanya.

Coba kita amati lebih detail, kenapa, apa yang terjadi dalam diri, ketika ada yang memaki saya. Tiada masalah, bila saya hanya tersinggung; tetapi saya terus bereaksi, mungkin saya balik memaki atau barangkali menampar mulut yang memaki itu. Maka terjadilah konflik; konflik dalam diri sendiri dan konflik dengan orang di-luar diri. Seandainya saya memahami SANATANA-DHARMA (hukum alam yang pasti) yaitu tak ada suatu kejadian tanpa sebab; maka saya akan menyadari bahwa orang yang memaki saya, tentu ada sebabnya, mempunyai alasan. Bila saya sungguh paham SANATANA-DHARMA, saya akan selalu dalam kewaspadaan yang murni, sehingga ketika makian itu ditujukan kepada saya; saya akan mendengar itu sebagai teriakan yang kasar bernada tinggi. Itulah adanya sebuah makian. Namun ini tak terjadi. Saya tersinggung dan marah. Kesadaran saya timbul terlambat, artinya saya sudah sempat terbakar; namun bila saya mampu mengamati dengan perhatian murni, kemarahan saya-pun menguap, menghilang. Tapi kebanyakan orang tak memiliki perhatian murni. Mereka bereaksi dari keterpolaan batinnya; dari norma etika moral, dari norma agama. Apa itu? Seperti….., “balaslah tahi dengan bunga”, “orang bijak harus dapat mengendalikan amarah”, “nila setitik rusak susu sebelanga”, dan lain sebagainya. Saya-pun menekan perasaan marah saya dengan senyum; pada-hal didalam hati saya terbakar. Ini adalah munafik, adalah konflik kwadrat; marah itu sendiri adalah konflik dalam diri, ditambah dengan konflik baru yaitu norma etika (menekan perasaan marah); penekanan ini adalah pemaksaan, maka konflik dalam diri saya menjadi berlipat-ganda.

Inilah umumnya yang terjadi, sehingga kekotoran batin tak pernah terselesaikan, hanya dialihkan atau ditutupi sementara dengan penekanan atau pengendalian. Yang dibutuhkan hanyalah sebatang sapu yaitu perhatian murni tanpa bias pikiran. Hal ini telah ada didalam diri setiap insan, Anda tak perlu mencarinya kemana-mana; mencari pada kitab-kitab suci, guru-guru suci, tempat suci, tanah suci, air suci, api suci, atau kesuci-sucian yang lainnya. Kenapa perhatian murni ada dalam diri Anda?……., tak perlu dipermasalahkan; apakah sapu ini sapu lidi, sapu ijuk, kamoceng; apakah ini pemberian dewa, tuhan, allah, setan ataupun iblis, ini tak penting dipersoalkan; namun bagaimana Anda dapat menemukan itu didalam diri dan memanfaatkannya bagi diri Anda. Inilah hal yang utama.

Baris ke-enam dan ke-tujuh adalah konklusi yang tidak bersifat menyimpulkan, tapi semata mengungkap realita, bahwa pikiran manusia tak’an dapat mengerti semesta yang maha besar tak terbatas. Dalam sebuah pustaka tertulis, “seandainya Anda hidup seribu tahun dan memiliki seribu mulut yang kerjanya melulu berbicara tentang pengetahuan semesta ini; maka tak’an habis jua pengetahuan ini; sedangkan tempo Anda singkat; apakah yang dapat Anda pahami….?”
……adalah INTISARInya.

Kategori:Keheningan
  1. Nyairatu Tring Tring
    2 Januari 2012 pukul 9:51 am

    Mantaapp pak penjelasannya, cuma kalau “ede ngaden awak bise, depaang anak’e ngadani”….kalau dimaknai oleh pemuda kritis masa kini jelas dianggap lebayy…krn jaman sekarang kebanyakan pemuda lebih suka ber narsis ria agar dapat dikenali oleh orang lain, shg dgn begitu orang lain bisa menilai kemampuan yg kita miliki memang patut diperhitungkan….tp kalau cuma menunggu agar orang lain datang dan memberikan penilaian kpd kita, mungkin pekerjaan yg sia-2 yaa….maaf ini hanya sekedar sharing aja….mohon tanggapan dr bapak Wayan Windra….sukseme.

    • windra
      2 Januari 2012 pukul 6:48 pm

      Ya…, jaman skr orang cendrung pamer diri Nyairatu…; dan tak jarang spt kata ‘sesonggan bali’…, “angkaban barong sumi”.
      Dalm hal ini kt hanya diajak meyimak kedlm diri. Krn ke-takaburan dpt menghalangi kita melihat, mengenali diri kt scr jelas…., krn bgmn-pun hal mendasar utk mencapai kedamaian tentu kita mesti memahami sumber si-pembuat masalah bagi hidup kita yaitu si-diri.
      Suksme sdh mampir…, rahayu….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: