Beranda > Keheningan > SAAT KINI….the power of Now.

SAAT KINI….the power of Now.

Beberapa teman bertanya dan berasumsi bahwa saya tentu suka membaca buku-buku atau tulisan dari Eckhart Tolle. Sejujurnya saya sama sekali tak pernah membaca tulisan-tulisan Echkart Tolle, dan mendengar namanya juga baru belakangan ini. Dan seorang teman mengatakan bahwa ada sebuah buku dari Eckhart Tolle yang menjadi ‘bestseller’, yang berjudul The Power of Now. Saya bukanlah orang yang punya ketertarikan untuk membaca buku-buku. Saya hanya membaca antara dua, tiga buku-buku J.Krishnamurti dan ketika saya membaca yang lainnya ternyata isinya sama saja. Saya mencoba membaca buku-buku yang lainnya, yang bukan tulisan J. Krishnamurti; jujur saya tak menemukan apapun; hanyalah kata-kata, konsep-konsep dengan uraian panjang lebar yang tak mengandung makna. Malah tak sedikit dari buku-buku atau yang diklasifikasikan sebagai kitab suci hanyalah menuntun kepada otoritas, dogmatis yang bertentangan dengan tujuan pembuatan buku itu sendiri yaitu sebagai serana untuk belajar.

Saat saya diam mengamati, saya-pun melihat, betapa mubazirnya pencetakan buku-buku ini. Kita mencetak demikian banyak buku-buku, pada hal hanya untuk mengungkap ‘sesuatu’ yang bersahaja, yang amat sangat sederhana; dan tiada sebuah kata, atau sebuah huruf yang memadai untuk menuliskannya. Kebanyakan buku-buku hanyalah konsep-konsep, uraian panjang lebar, yang akhirnya semata menjadi pengetahuan. Bila kita melihat judul buku Eckhart Tolle, yaitu ‘The Power of Now’, ini dimaksud adalah ‘perhatian murni’ dimana tak ada gerak pikiran sama sekali. Perhatian murni sangat bersahaja, ini tak dapat diwakilkan oleh sebuah kata atau huruf apa-pun. Namun hal yang sahaja ini telah dituliskan panjang lebar, dalam sebuah buku yang barangkali mempunyai ratusan halaman.

Belum lama ini seorang keponakan pulang dari Yogya dan membawa buku The Power of Now ini. Namun saya tak begitu tertarik untuk membacanya….., entahlah….; bagaimanapun karena buku ini dihadiahkan kepada saya; saya membaca beberapa baris pada bagian tengah halaman, dan beberapa baris di bagian belakangnya. Dan saya tak berminat untuk melanjutkan. Boleh dikatakan saya belum membaca buku ini, namun dengan melihat judulnya ‘The Power of Now’ tentulah yang dimaksud adalah ‘perhatian murni’. Bila kita berada dalam perhatian murni atau perhatian penuh, maka kita berada pada ‘saat kini’. Bila kita sungguh ada dalam perhatian, semata perhatian tanpa ada gerak pikiran dengan segala kepentingannya, maka tak terelakan kita-pun berada dalam ‘saat kini’, inilah ‘The Power of Now’. Hal ini amat, sangat-sangat bersahaja. Namun hal yang bersahaja ini amat sangat sulit bagi kebanyakan orang, kenapa..? Karena kebanyakan orang terlanjur rumit, ruwet, komplek, terlanjur pintar, penuh ide, penuh kepercayaan, penuh pengetahuan dan sebagainya. Amati hal ini ada dalam diri Anda. Barangkali karena kesulitan ini, maka ditulislah banyak buku-buku dengan ratusan halaman; yang kesemuanya mencoba untuk mengungkap suatu hal yang sahaja, dengan berbagai cara dan tehnik agar umat manusia dapat memahami.

Agama sejati tentu mengajarkan hal sahaja ini, namun dari praktek yang terjadi kita telah menyimpang jauh dari intisari agama sejati. Agama semestinya menuntun umatnya untuk belajar. Dalam belajar yang benar mesti ada perhatian murni. Perhatian murni tak dapat diperoleh lewat kepercayaan; justru kepercayaan menghalangi perhatian murni. Inilah hal pertama dan mendasar yang mesti Anda pahami. Anda tak perlu menolak atau memberontak terhadap ajaran agama yang telah mendogtrinisasi selama ini, namun Anda mesti melihat, memahami dengan jernih, sehingga tak’an ada konflik dalam diri Anda.

Seorang peserta diskusi bertanya, darimana kita harus memulainya Pak….? Sepertinya kita hanya berputar-putar….?

Darimana kita memulai…..? Ya, sudah tentu kita memulai dari sini, dari tempat dimana kita berada, bukan? Kita tak mungkin memulai dari seberang sana. Saya harus memulai perjalanan saya dari diri saya sendiri. Saya mesti memulai penyelidikan saya dengan mempertanyakan. Selama ini, agama, buku-buku menceritrakan saya tentang tuhan, cinta-kasih, sorga, neraka dan lain sebagainya; dan menuntut agar saya mempercayai, meyakini; hanya dengan mempercayailah katanya, bahwa saya akan menjadi semakin dekat dengan tuhan dan sorganya. Dan dari penerimaan semua otoritas ini saya melihat, kepercayaan saya semakin kuat. Sejalan dengan semakin kuatnya kepercayaan saya, maka harapan-harapan dalam diri saya pun semakin kuat, demikian juga rasa takut yang tersamar dalam diri saya semakin kuat, tanpa saya sadari. Inilah yang terjadi dalam diri saya. Setelah sekian lama saya hidup dengan kepercayaan, tiada juga saya merasakan apa itu tuhan, cinta-kasih, sorga dan yang lain-lainnya. Saya tetap hidup dalam kebingungan, keraguan, kecemasan, kesedihan.

Apakah maknanya ini? Apakah arti sebuah kehidupan; apakah arti sebuah kepercayaan? Haruskah kita hidup dengan semua ini? Kenapa mesti harus….? Bila kita sepakat bahwa hidup ini adalah belajar, maka kita mesti mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri kita; karena mempertanyakan adalah salah satu unsur belajar.

Jadi dengan cara apapun saya mempercayai tuhan, cinta-kasih, sinar-suci, hal ini tak dapat mengubah realita diriku yaitu batinku yang masih gelap-gulita. Dengan cara apapun aku memuja sinar-suci tuhan tak’an dapat mengantar sinar itu untuk menerangi batinku yang cemas. Hal ini mesti sungguh ku-pahami dengan kejujuran; bila tidak, maka aku pun tak ubahnya bagaikan orang-orang dalam negeri dongeng dari dongeng si-Raja yang Dungu. Bila kita sungguh paham akan hal yang mendasar ini, maka otomatis kita terbebas dari kepercayaan. Ini adalah langkah pertama dan terakhir. Ini adalah ‘saat kini’, disini ada persepsi langsung yang menerangi batin Anda. Ketika Anda terbebas dari kepercayaan, maka Anda tak’an menggantungkan harapan kepada apapun, termasuk kepada tuhan; Anda akan menghadapi segala permasalahan hidup secara langsung, pada saat kini. Ini perhatian murni. Dalam perhatian murni tak ada gerak pikiran; pikiran tak beroperasi, maka semua yang berada dalam pikiran juga berhenti. Apa yang ada dalam pikiran….? Ya, semuanya….., Anda dapat mengamati semua yang ada dalam pikiran: kesedihan, ketakutan, kebencian, keserakahan, kebanggaan, kepercayaan dan semua rasa diri yang merupakan bentuk-bentuk pikiran (si-Ego).

Bila kita selalu hidup dalam pikiran, maka sudahlah pasti kita tak pernah berada pada ‘saat kini’, pada ‘perhatian murni’.  Perhatian murni ini adalah semata mengamati dari saat ke saat. Pada saat kata-kata ini dituang kedalam tulisan disini ada pengamatan, sehingga kita melihat bagaimana pikiran bekerja mengolah kata-kata. Sementara kata-kata ini tertuang, kita mendengar suara-suara disekitar: kokok ayam, kicau burung, druuw kendaraan yang lewat, suara music dari tape tetangga, teriakan anak-anak yang sedang bermain. Untuk mengikuti semua ini dari saat ke saat dibutuhkan perhatian murni, perhatian menyeluruh.

Apabila perhatian murni menyentuh kedalaman tertentu disitu terjadi transformasi dari tingkat-tingkat kesadaran yang hanya dpt dipahami oleh tingkat-tingkat kecerdasan yang lebih tinggi. Hal ini tak dapat dipahami oleh pikiran. Disinilah letak kesulitan itu….., yaitu karena kita mengerti sebatas pikiran, sebatas kata-kata. Hal yang sahaja ini tak mungkin untuk di-diskusikan. Seberapa-pun banyaknya kata-kata digunakan, kita tak’an dapat mengungkap. Maka itu tiada jalan menuju kepada hal yang sahaja ini. Semua cara, metode adalah hasil dari pikiran yang menginginkan, dan sudah pasti mengantar kita pada pikiran. Inilah yang mesti dipahami. Semua usaha pikiran hanya mengasilkan pikiran……, disini tak ada perhatian murni, tak ada ‘saat kini’.

SAAT KINI adalah perhatian murni, perhatian tanpa gerak pikiran. Gerak pikiran adalah masa lalu dan masa yang akan datang, ini selalu terikat waktu, maka itu pikiran disebut sebagai waktu. Bila perhatian murni mengalir dari saat ke saat, maka pikiran tak hadir. Disini pikiran berfungsi dengan sangat effisien, tindakan menjadi spontan. Inilah yang dimaksud The Power of Now oleh Eckhart Tolle, kekuatan SAAT KINI yaitu ‘perhatian murni’.

Kategori:Keheningan
  1. 15 Juni 2010 pukul 4:01 pm

    wan merah bertaruh dengan warnanya
    meyusuri samar lentera malam
    rumput menunduk berdo’a memohon
    angin berhenti menarik nafas

    luruh warna mentari berpijak di ujung daun
    menari gemulai gambarkan kegalauan
    daun jatuh membawa keresahan
    lelah jiwa berpijak bumi

  2. 15 Juni 2010 pukul 7:29 pm

    Wauw….syair yang bagus kawan.
    Thanks, salam sejati.

  3. anny
    5 Juni 2011 pukul 7:46 pm

    Pikiran seperti monyet selalu ingin berlari kesana kemari.. Tapi selami dengan kedamaian dan latihlah monyet itu.. Tapi bukan dikekang.. Lakukan sekarang dari diri sendiri

    • windra
      6 Juni 2011 pukul 12:59 am

      Terima kasih sharingnya Mbak Anny…., always listening or watching carefully.

  4. anastasia hartini
    9 April 2015 pukul 11:38 am

    Halo Mas Windra mat siang
    Aku telah baca 7 buku K memang awalnya aku temui kesulitan namun aku bisa menangkap pesan menurutku intinya begini : hidup dng batin yg bebas konflik batin yg hening , hakekat hidup hanya disini dan saat ini dng perhatian penuh shg aku mampu menikmati kebebasan, hidup tanpa konflik tanpa masa lalu tanpa beban , damai indah mengalir bersama alam semesta. Langkah kakiku dua menit yg lalu adalah masa lalu . Jadi mengalami pembaharuan setiap saat krn selalu ada disini dan saat ini saja dalm kwalitas kebenaran. Memang setiap saat berada dilapangan kurusetra . Aku selalu ingat kata kata beliau bahwa pikiran itu anak sial dari batin shg aku selalu waspada padanya. Barangkali yg aku tangkap masih sebagian kecil saja , buku 2 itu baru aku baca sekali barangkali kalau sdh baca beberapa kali baru mampu memahami secara utuh.
    Trimakasih Mas Windra , rupanya masih banyak hasil karya dari jari jemari Mas Windra yg bisa menambah wawasan pemahamanku ttg hidup ini.
    Okey selamat berkarya .

    • 11 April 2015 pukul 8:11 am

      Terima kasih sdh mampir.
      Tdk banyak orang tertarik dgn buku2 Krishnamurti, dan anda sdh mampu menangkap intisarinya. Tinggal penerapan nya dlm kehidupan. Selamat…!!

  1. 5 Juni 2011 pukul 8:00 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: