Beranda > Keheningan > INGATAN PERTAMA–deja’vu

INGATAN PERTAMA–deja’vu

Masihkah anda ingat pada ingatan pertama anda? Si-PHT (Praktisi Healing Touch) mengatakan bahwa sebuah ingatan yang sulit dipercaya sampai saat kini masih membekas didalam benaknya. Karena apa yang teringat itu sungguh tak masuk akal. Ingatan ini adalah, “dia digendong diantara banyak orang, dan melihat permainan opera disebuah panggung terbuka.” Belakangan dia mengetahui opera ini ada kesamaan seperti opera china yang sering ditayangkan oleh TV. Hanya dandanannya tidak semeriah opera china yang ditayangkan TV, namun gerakan-gerakannya ada kemiripan, dengan bahasa yang tidak dia pahami. Dia tak tahu persis kapan ingatan ini muncul dalam benaknya. Sepertinya ingatan ini muncul jauh sebelum dia menyadari dirinya sebagai makhluk hidup yang berada diantara sanak keluarganya. Ingatan ini bagai sebuah mimpi yang aneh; karena adalah tidak mungkin dia pernah menonton opera atau opera china sebelumnya, walau saat bayi sekali-pun. Karena dia dilahirkan dari keluarga petani miskin disebuah desa di Bali yang tak ada totonan opera seperti itu. Mungkinkah ini ingatan dari kehidupannya yang lalu….?

Belakangan ini banyak orang bicara tentang spiritual, tentang kesadaran, pikiran, batin, perasaan, jati diri, diri-jati, hati-nurani, si-ego dan sebagainya. Apakah sungguhnya yang dimaksud dengan semua itu? Adakah mereka tahu senyatanya tentang semua ini, tidak hanya semata kata-kata? Dimanakah semua hal ini berada dalam diri kita? Adakah semua hal ini terpisah-pisah? Bila kita tidak terlanjur pintar, tentu kita dapat melihat dengan kesederhaan; ketika kita masih seorang bayi kita masih murni, bukan? Pada kondisi normal dalam diri kita telah ada benih. Benih ini mengandung unsur: kesadaran, pikiran, perasaan, batin, memori dan yang lainnya. Seiring dengan pertumbuhan, evolusi kehidupan benih ini-pun bertumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan dimana dia tumbuh. Dan jadilah diri kita seperti sekarang.

Setiap orang terkondisi sesuai dengan lingkungan masing-masing. Kita memiliki pendapat, paham, kepercayaan, pengetahuan dan kepentingan yang berbeda-beda. Semua hal inilah yang memberi kesempatan kepada kita untuk saling bertentangan berlanjut dengan rasa tidak senang dan kebencian; dan bila kebencian ini bersifat kolektif jadilah permusuhan, peperangan seperti perang Israel-Palestina umpamanya.

Dapatkah kita mencermati hal ini. Ini ada dalam diri kita masing-masing. Bila kita melihat senyatanya, hampir semua dari kita terkondisi tanpa kita sadari; karena hal ini terjadi sejak dalam kandungan, dalam embrio. Kita terkondisi oleh bermacam-macam hal, dari pakaian, makanan, bahasa, adat-istiadat, kepercayaan, ilmu pengetahuan dan sebagainya. Karena percaya kita menerima sebuah otoritas seorang Guru-Agung umpamanya; nah, bagian-mana dari diri kita yang menerima otoritas ini? Bagian mana yang terkondisi dalam diri kita? Apakah hanya pikiran, atau hanya batin, atau hanya perasaan, atau hati-nurani kita? Bila kita terdogtrinisasi oleh suatu paham, tidakkah ada kesadaran dalam diri kita? Tidakkah kita menerima dogtrin, otoritas itu dalam keadaan sadar?

Dapatkah kita mengamati secara perlahan? Ketika kita menerima suatu dogtrin, hal pertama yang bersentuhan dengan dogtrin ini tentulah pikiran kita bukan? Pikiran kita menilai dogtrin ini baik atau buruk. Ketika pikiran menilai bahwa ini baik, maka dogtrin ini masuk lewat pikiran dan memenuhi diri kita. Manakala kita melaksanakan, mempraktekkannya kita merasakan dan menyadari dogtrin ini sangat sesuai dengan perasaan hati kita. Demikianlah kita menerima dogtrin ini dengan keseluruhan diri kita. Keseluruhan ini adalah batin, adalah pikiran, adalah kesadaran, adalah nurani, adalah perasaan, bukan? Dari keseluruhan kondisi diri inilah kita bertindak.  Dan tindakan kita sudahlah tentu sesuai dengan kondisi diri kita; sesuai dengan pendapat, pandangan atau kecendrungan diri kita.

Melihat persoalan ini senyatanya adalah unsur mendasar, bukan uraian panjang-lebar, yang hanyalah menjadi hiasan bahasa, semata terjerat dalam kata-kata. Si-PHT yang melihat ingatan pertamanya, dan menjadikannya sejenis destinasi dalam menyelam ke-kedalaman dirinya; melihat semua hal-hal diatas; bagaimana keterkondisian diri terbentuk. Cobalah amati, bagaimana pikiran menerima suatu paham, idea atau dogtrin, dan menanamkan itu kedalam memori, kemudian secara otomatis menjadikan sebuah file ingatan. Demikianlah hari demi hari kita membuat file-file semakin banyak dalam diri kita. Selanjutnya setiap tindakan adalah reaksi dari kombinasi file-file ingatan ini…? Hal ini sangat jarang teramati.

Bila kita tak mampu mengamati file-file ini sudahlah tentu kita juga tak pernah memahaminya, bukan? Maka tindakan dari ketidak-pahaman ini akan selalu menimbulkan konflik, membuat permasalahan hidup. Amatilah, hal ini ada dalam diri dan disekitar Anda.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: