Beranda > Uncategorized > TIKUS-TIKUS

TIKUS-TIKUS

Kemarin menjemput anak pulang dari MOS…., eh pulangnya agak terlambat karena hari terakhir. Kita ketemu dengan ortu-ortu murid yang lain, dan biasa….., waktu senggang diisi obrolan ngalor-ngidul berkisar biaya sekolah yang terasa semakin mahal. Uang pakaian plus perlengkapan yang lainnya… 680 ribu rupiah, ya dibilang mahal…., relative. Bagi rakyat kebanyakan seperti kami yang penghasilannya pas-pasan, tentu angka ini terasa berat. Namun yang punya penghasilan lebih, apalagi hasil dari korupt yang sama sekali tak mengeluarkan keringat…., tentu angka ini tak ada nilainya. Belum lagi uang pembangunan yang akan dikenakan nanti, biasanya setelah beberapa bulan sekolah. Beberapa ortu murid mempertanyakan; kenapa bangunan gedung sekolah dibebankan ke ortu murid? Bukankah sudah ada anggaran dana dari pemerintah untuk pembangunan gedung-gedung sekolah?

Salah seorang nyeletuk…., “ah nggak usah ngomongan hal-hal seperti ini; semua dari kita tak tahu persis tentang segala rencana, anggaran dan program sekolah atau pemerintah. Pokoknya kalau ingin anak kita sekolah, ya….duit. Jika tak punya uang….ya tak usah sekolah.”

Pembicaraan kita beralih; salah satu penyebab semakin sulitnya kehidupan yaitu oleh karena adanya hama tikus menyerang. “Sudah tiga kali ini panen kami gagal; masih untung saya ada seekor sapi dijual untuk biaya anakku ke-SMP dan kakaknya ke-SMA”, kata salah seorang ortu murid. Yang lainnya bertanya; apakah ‘PENEMBAHAN’ tidak ‘lunge’…? (“penembahan”= para ‘dewa’ seperti ‘ratu gede’, ratu niang’, ‘ratu alit’/barong-rangda, dan lain-lain). Ini berkaitan dengan kepercayaan umat setempat. Bila terjadi hama, maka para dewa/barong-rangda ini akan diusung berkeliling desa dan persawahan; dan mereka percaya dengan berbuat demikian maka semua hama dapat dibasmi atau diusir. “Sudah dilakukan namun hamanya tak berkurang, malah semakin parah”, jawab yang ditanya. “Mungkin ini sudah kehendak langit…..?”

Orang-orang yang terjerat dalam kepercayaan cenderung mandah dengan kehendak langit, sehingga membiarkan padinya digerogoti tikus-tikus. Sementara itu negara kita terus digerogoti tikus-tikus berdasi; yaitu para tikus-tikus markus, para koruptor yang tak pernah kenyang bagaikan tikus-tikus yang terus menggerogoti keuangan negara. Untuk memenuhi kerakusan tikus-tikus berdasi, maka bangsa ini terus menambah hutang luar-negeri dan memeras rakyat lewat pajak-pajak yang semakin mencekik leher. Sementara wakil-wakil rakyat terus menghambur-hamburkan uang negara dengan dalih study banding….ke USA lah…, ke Paris lah…, ke-London lah…, asyik’kan?

Ini Negeri, bagaikan negeri antah-berantah yang kena sihir si-nenek penyihir.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: