Beranda > Keheningan > HINDU BUKANLAH HINDU

HINDU BUKANLAH HINDU

Anda tentu bingung membaca judul diatas. Kenapa Hindu bukan Hindu. Kekita Anda berkata bahwa anda seorang hindu maka anda bukanlah seorang hindu. Ketika anda berkata “saya adalah seorang hindu” tepat pada saat ini anda mengenakan sebuah “label” hindu, dan ini bukanlah hindu. Pahamkah Anda…?

Seorang yang menganggap dirinya sebagai hindu, tentu mempunyai gambaran tentang kehinduan, kreteria seorang hindu. Dan hindu yang dikenal adalah hindu yang penuh dengan assesoris, penuh hiasan, hanyalah kulit-kulit luar yang dangkal dan ramai. Inilah yang Anda banggakan, yang anda imani, yang anda puja-puja. Sedangkan hindu yang sejati bukanlah hindu assesoris yang dikenal oleh masyarakat.

Apabila seseorang sungguh-sungguh paham apa itu ‘acintya’, apa itu ‘mokshatam’ maka dia berada dalam hindu sejati, dan dia tentu telah bebas dari semua assesoris, dari semua label; karena itu dia tak’an pernah merasa atau menyebut dirinya sebagai seorang hindu. Sama halnya dengan orang-orang yang berteriak atas nama tuhan dan menjadi teroris, siap membunuh sesama manusia. Orang-orang yang berteriak ‘TUHAN MAHA BESAR…., sesungguhnya tak pernah bersama tuhan. Bila mereka sungguh-sungguh berada dalam tuhan, di-dalam kasih tuhan; mereka tak’an berteriak, dan mereka tak’an menyebut dirinya sebagai orang-orang bertuhan, sehingga mereka tak’an mengenakan atribut atau label tuhan.

Pada saat orang merasa dirinya beriman, bertuhan, apalagi berteriak-teriak; apakah yang sedang terjadi di-dalam dirinya…? Tepat pada saat ini, sepenuhnya si-EGO berkuasa dalam dirinya. Bila kita terperangkap dalam si-EGO, konflik-pun mengikuti. Dimana ada konflik maka kedamaian adalah harapan yang sia-sia; apalagi untuk merasakan, mengalami apa itu kasih tuhan….., apa itu mokshatam?, ini bagaikan sebuah rencana untuk melakukan perjalanan melintasi kutub utara, yang tak’an pernah kita lakukan.

Dalam suatu dialog di FB, seseorang yang sangat FANATIK merasa takut dengan pengaruh dari luar, yang dapat memperngaruhi hal-hal yang bersifat substansi, yang hakiki dalam dirinya. Apakah hal yang hakiki dalam diri Anda….? Tahukan Anda….? Mungkinkah hal yang hakiki ini bisa terpengaruh….? Kebanyakan orang telah lama melupakan, dan tak pernah berjumpa lagi dengan hal yang hakiki ini? Seandainya sekali waktu Anda bertemu dengan hal yang hakiki ini, barangkali Anda tak’an mengenalnya lagi. Dalam artikel LAHIR KEMBALI https://wayanwindra.wordpress.com/2009/12/11/lahir-kembali-rebirth/ ………, disampaikan bahwa di Bali dalam kepercayaan Hindu ada upacara yang disebut ‘Dwijati atau Diksa’, dimana inti dari upacara ini adalah kembali kepada yang HAKIKI, yaitu kembali kepada KEMURNIAN diri. Jadi yang substansi dalam diri kita adalah KEMURNIAN, bukan KEIMANAN atau KEYAKINAN. Dan kemurnian ini adalah mokshatam, yaitu kebebasan batin dari segala keterkondisiannya. Kemurnian ini juga bersifat acintya, tak terpikirkan. Bila kemurnian ini dapat Anda pikiran, maka ini bukanlah kemurnian. Didalam kemurnian tak ada unsur pikiran. Demikianlah para ‘sulinggih’ para pendeta telah melakukan upacara dwijati, untuk kembali berada di-dalam kemurnian ini. Namun perlu dipertanyakan, apakah sebuah upacara yang hanyalah simbol-simbol, sungguh-sungguh dapat mengantar orang kepada kemurnian ini….? Bila seorang sungguh berada dalam kemurnian dia tak’an terjerat dalam label, dalam assesoris, dalam predikat sebagai IMAM, pendeta, ‘sulinggih’ dan sebutan apa-pun yang lainnya.

Jadi kemurnian adalah mokshatam adalah hindu, dan apabila Anda benar-benar paham akan hal ini; maka mau tak mau segala atribut, simbol-simbol, assesoris, dewa-dewa dengan segala ritual dan sublimasinya tanggal, terlepas secara jawar; dan juga Anda terbebas dari kata-kata ‘KEMURNIAN’, ‘MOKSHATAM’, ‘HINDU’ itu sendiri.

Kategori:Keheningan
  1. 10 Desember 2012 pukul 8:47 am

    Dunia yg sama dan tetap, yg tiada laij adl Tuhan, dipahami oleh 3 jenis orang yg berbeda y.i orang biasa, orang pintar dan orang bijaksana.
    Bagi orang biasa, ia hanya melihat dunia ini sbg bentuk luarnya saja, ia tidak memahami hal-2 yg mulia dan luhur pd dunia. Padahal Tuhan ada di dlm dunia dan ada di dlm dirinya, tp dia tdk menyadarinya.
    Sedangkan bagi org pintar, walaupun ia telah bisa memahami hal-2 yg mulia dan luhur pd dunia, tp ia belum bisa menyadari hakekat dunia yg sebenarnya. Padahal dunia dan dirinya itu tiada lain adl Tuhan. Ia sdh memahami, tp belum menyadari dgn sempurna.
    Orang bijaksana, ia telah menyadari hakekat dunia dgn sebenar-benarnya, bhw dunia dgn segala isinya, baik itu fisika maupun metafisika, baik itu bukan dr kedua-duanya, semuanya adl Tuhan.
    Dari ketiga tipe manusia dgn tingkat kesadaran yg berbeda mk utk manusia yg masih masuk dlm kategori orang biasa dan orang pintar tentunya mereka belum memiliki ”mata advaita” di dlm memandang kehidupan ini, shg kemana-mana selalu membawa assesories, label, dll. Berbeda dgn mereka yg masuk dlm golongan orang bijaksana, dlm memandang selalu menggunakan mata advaita, melindungi dirinya dengan pakaian kesabaran dan bila terpaksa harus mengeluarkan senjata mk senjata kebijaksanaan yg mereka keluarkan…..maaf agak ngelantur niki, sukseme atas notenya yg sangat menggugah, rahayu.

    memandang dunia ini mknya gak bisa disalahkan juga bila kemana-2 mereka membawa banyak beban, banyak atribut, banyak

    segalaisinya, baik itu fisika maupuj metafisika

    • windra
      10 Desember 2012 pukul 11:03 am

      Terima kasih banyak Gung Gheg Sby atas sharingnya yg sangat bagus.
      Kita semua hanya berbagi batu asah, utk mengasah senjata pasupati, agar dpt menggali lebih dalam kepada inti-sari.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: