Beranda > Keheningan > PULPEN KESAYANGAN

PULPEN KESAYANGAN


Tahun 1970 seorang ABG mendapat sebuah hadiah pulpen dari seorang dokter. Pulpen hadiah ini berwarna silver metalik yang menjadi pulpen kesayangan bagi si-ABG. Kenapa hanya sebuah pulpen, sedemikian berharganya bagi si-ABG….?

Tahun 1966 ketika dia duduk di bangku SMP, saking miskinnya, dia tak pernah memiliki polpen. Dia lebih sering mencacat dengan pensil, hanya kadang kalau ada temannya yang berbaik hati memberikan pinjaman pulpen, barulah ada tulisan tinta di bukunya. Waktu itu memang ada beberapa anak sekolah yang lainnya miskin, namun barangkali si-ABG-lah yang termiskin. Dia hanya mempunyai satu stel pakian sekolah dari kwalitas yang termurah. Dan berangkat sekolah selalu “nyeker” alias tanpa alas kaki, dengan jarak tempuh kurang-lebih lima kilometer dengan menyeberangi semak-belukar, persawahan dan sungai.

Inilah latar belakang, kenapa hadiah itu menjadi pulpen kesayangan. Dalam pandangan si-ABG pulpen hadiah ini sangat istimewa. Setiap setelah memakai pulpen itu dia akan selalu meletakannya ditempat yang aman agar tak sampai terjatuh. Pulpen kesayangan ini bagai sang kekasih hati bagi si-ABG. Kadang dia sering memandangi, membelai pulpen kesayangannya, dan hatinya terasa berbunga-bunga. Dalam kondisi sekarang, mungkin sikap si-ABG ini terlalu berlebihan, kita bisa bilang dia gila kale…..?

Beberapa hari kemudian pulpen kesayangan itu raib, menghilang dari tempatnya. Tentu ada yang mengambil, namun si-ABG tak mau menuduh sembarangan. Dia mencoba mengingat-ingat, barangkali dia salah taruh. Dia-pun mencari sana-sini, namun pulpen hadiah itu tetap tak ketemu. Si-ABG syok, bagai ditinggal pergi oleh kekasih-hatinya; Keesokannya dia coba mencari-cari, dia masih berharap terselip disuatu tempat dan menemukannya. Namun usahanya sia-sia dan harapannya mulai menipis untuk menemukan pulpen kesayangannya. Dia merasa sangat bersedih, tak enak makan dan tidur…..gila memang….

Malam harinya rasa sedih itu memenuhi dan menyesak hatinya. Dari kesedihan itu muncul sebuah hati dengan kesadaran diri dan mempertanyakan, “benarkah aku mesti bersedih seperti in?” Si-ABG sungguh-sungguh terdiam, menyimak pertanyaan yang tiba-tiba muncul dalam benaknya. Kesadarannya mulai mengamati dirinya. Dia tak bergeming oleh pertanyaan itu, dan berkali-kali dia hanya dapat menarik nafas dalam dan panjang. Tiba-tiba dia melihat terang yang ringan bergerak dan seketika kesedihannya menghilang. Apa yang terjadi dengan dirinya. Dari kemarin sampai seharian tadi dia dilanda kesedihan; namun malam itu semuanya menghilang. Ini bagaikan langit yang penuh awan hitam yang siap untuk menumpahkan hujan-badai, dan tiba-tiba seketika langit menjadi biru dan cerah.

Dari kejadian ini si-ABG melihat kesedihan maupun masalah-masalah yang lainnya berawal dari kemelekatan (tresna) yang menjerat manusia. Tanpa disadari kejadian ini mendorong dia tersentuh oleh vibrasi dari SANATANA DHARMA (eternal cosmic law).

Apa yang dia alami juga terjadi dalam kehidupan disekitar. Sejak saat itu si-ABG sering mengamati kejadian-kejadian dari kemelekatan yang menimbulkan banyak permasalahan dalam kehidupan manusia. Si-ABG menemukan, kenapa manusia terjerat dalam kemelekatan…, dan tak bisa membebaskan diri mereka? Siapa-pun mereka tentu dapat menemukan hal ini di dalam dirinya. Orang tak perlu mencari jawaban lewat kitab suci, dari sang Buddha, atau Guru-guru Agung yang lainnya. Permasalahan dan jawabannya ada didalam diri setiap orang. Jawabannya ada didalam permasalahan itu sendiri. Dan orang pasti menemukannya, apabila dia ada kesungguhan hati mempertanyakannya.

Selama ini orang tak pernah sungguh mempertanyakan; dia lebih suka mencari jawaban pada kitab suci atau dari seorang Guru dan mempercayai. Ketika orang mempercayai; sesungguhnya dia tak berbuat apa-pun, bukan? Setetes-pun dia tak mengeluarkan keringat. Orang yang hidup dalam kepercayaan adalah orang yang mau gampangnya. Bila orang percaya, dia-pun hanya menerima; ini sudah cukup dan dia-pun boleh berpuas diri. Namun senyatanya permasalahan hidupnya, kemelekatannya, pengejaran kesenangan yang berlanjut dengan keserakahan, tak pernah berakhir dari dalam dirinya. Dan ini akan menimbulkan konflik yang semakin meluas dengan kehidupan sekitar.

Bila orang sungguh mempertanyakan, disini ada integritas belajar dan intensitas kemurnian dirinya akan tersentuh. Hal ini menimbulkan terang, yang menghapus kegelapan, keraguan, kebingungan seketika sehingga permasalah hidup seperti menguap.

Kategori:Keheningan
  1. 13 Oktober 2010 pukul 6:36 am

    Very helpful🙂 Thanks and all the best.

  2. windra
    13 Oktober 2010 pukul 10:53 am

    Is this article really helpful George….? We just sharing the reality.
    If I were good at english, I would like write down in english…but I don’t.
    Thanks for your apprising.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: