Beranda > Keheningan > Si-PUNGUK dan REMBULAN

Si-PUNGUK dan REMBULAN

Sesuatu yang sia-sia atau harapan yang tak’an pernah terwujud di-ibaratkan ‘bagai si-punguk yang merindukan rembulan’. Walau si-punguk tak pernah meraih rembulan, namun kerinduannya pada rembulan adalah abadi.

Diantara kita tak sedikit orang bagaikan si-punguk yang merindukan rembulan ini, yaitu yang selalu barharap, merindukan sesuatu yang sama sekali kita tak ketahui. Karena itu kita tanpa sadar suka membaca, mendengar, atau menuliskan cerita-cerita tentang sesuatu yang mulya, yang luhur, yang agung, yang menjadi cita-cita, harapan dan kerinduan kita. Dari harapan dan kerinduan ini, kita pun menjerat diri dalam kepercayaan. Kita percaya bahwa si-Bahiya, Sidarta, Krishnamurti, Sankara atau siapa-pun lagi, para Rasull, Guru-Guru Agung, bahwa mereka telah mencapai pencerahan atau telah mencapai Nibana. Apakah maknanya ini….? Bila kita jujur, kita akan melihat motifnya.

Namun demikian; sungguhkah kerinduan dan kepercayaan kita pada cerita-cerita ini membawa manfaat…? “Aku mesti diam menyimak…., sungguhkah mereka si-Bahiya dan yang lain-lainnya itu telah tercerahkan….? Sekali-pun seandainya memang benar demikian, apa manfaatnya bagiku mempercayai dan merindukannya? Mereka atau barangkali ANDA boleh jadi telah tercerahkan, namun diriku adalah si-Punguk dan selamanya adalah si-Punguk. Anda tercerahkan artinya Anda mungkin telah sampai dipulau seberang, namun diriku masih disini, ditanah tandus hatiku yang penuh harap dan kerinduan. Seberapa besar-pun aku mempercayai, memuja-muja diri Anda atau Guru-guru Agung yang telah tercerahkan ini, tak’an merubah realita diriku yaitu si-Punguk yang selalu merindu……; bila aku sungguh melihat dan paham akan hal ini, akan ada gerakan spontan meninggalkan kepercayaan, pemujaan terhadap siapa-pun, terhadap apa-pun. Ketika ini terjadi si-Punguk yang merindu-pun berakhir.

DAN APA YANG TERJADI SELANJUTNYA….? Silakah menemukan jawaban bagi diri masing-masing. Karena jawabanku, jawaban Anda atau jawaban Sidarta, Krishnamurti, para Guru-guru Agung hanyalah teori, hanyalah kata-kata, yang tiada gunanya.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: