Beranda > Uncategorized > GEJOLAK dan GEJOLAK

GEJOLAK dan GEJOLAK

“Anggap saja Anda sedang menonton penggalan sebuah film dokumenter yang merupakan refleksi kehidupan disebuah kota di India.”

GEJOLAK dan GEJOLAK

“Ehh…, bayi siapa yang kamu bawa pulang Dayu….?” teriak seorang Brahmin kepada putri bungsunya. Si-Dayu yang masih duduk di-kelas lima SD itu hanya terdiam mendengar teriakan Bapaknya.

“Kamu mesti membawa keluar bayi itu sekarang, atau ku-buang dia; dia tentu anak haram yang hanya akan mengotori vibrasi rumahku” sambung Bapaknya berang. Si-Dayu mendekap erat bayi itu dalam gendongannya.

Bayi itu ditemukannya begitu saja tergeletak dibawah pohon ketika dia dalam perjalanan pulang dari sekolah. Rasa iba dalam diri si-Dayu akan bayi itu, menggerakan hatinya untuk mengambil, menggendong dan membawanya pulang. Dan tak pernah disangka, ayahnya akan menjadi marah besar, yang membuat seluruh tubuhnya menggigil ketakutan. Dia beranjak ke-emperan dapurnya di-rumah bagian belakang yang di-ikuti oleh ibunya dengan pandangan cemas tanpa sepatah-pun kata.

Kakak-kakak si-Dayu semua telah menikah; kini keluarga Brahmin ini hanya tinggal suami-istri dan anak bungsunya. Keluarga ini termasuk keluarga kelas menengah yang hidup berkecukupan. Bapaknya adalah seorang Brahmana terpandang dan di-hormati sebagai seorang tokoh spiritual di kota itu. Sang Brahmin, sangat amat disiplin dalam menjalankan kaidah-kaidah agama. Dia adalah keluarga Brahmana pemuja Dev Siva, sehingga dirumahnya ada altar Siva dengan linggamnya. Setiap pagi Brahmin ini selalu melakukan puja. Istrinya setiap pagi akan selalu mempersiapkan segala peralatan dan perlengkapan, dan menemani pujanya.

Hari itu tak terjadi apa-pun. Malam harinya sang Brahmin dipinjat-pijat oleh istrinya menjelang tidurnya. Sang istri berusaha menyembunyikan rasa cemasnya dengan bersikap manis kepada suaminya. Sang Brahmin barangkali telah melupakan tentang bayi tadi siang yang membuat dia marah besar dan menebar suasana takut bagi si-Dayu dan istrinya. Keesokan harinya seperti biasa pagi-pagi si-Dayu mesti berangkat ke-sekolah, dan si-Ibu akan mencari segala perlengkapan untuk puja sang Brahmin. Ketika puja akan dimulai, si-istri duduk disamping sang Brahmin untuk melayani apa-apa yang perlu dilakukan. Tiba-tiba terdengar tangis si-bayi…., seketika sang Brahmin menatap tajam istrinya. Dari sorot matanya seolah keluar bara-api yang siap membakar segalanya. Si-istri tercekam rasa takut, dan ketika dia menaruh “asapan” (tempat api suci), tangannya gemetar dan “asapan” itu-pun terjatuh….? Meja altar menjadi berantakan….; dan seiring dengan semakin kerasnya tangis sijambang-bayi. Sang Brahmin tak dapat mengeluarkan teriakan apa-pun, hanya tubuhnya yang menggigil-gemetar adalah pertanda dia sedang terbakar oleh rasa marah yang luar biasa. Melihat suasana ini istrinya hanya tertunduk menggigil.

Puja pagi itu batal, sang Brahmin melangkah keluar dengan muka merah-padam langsung menuju sungai Gangga. Sesampainya di-sungai dia langsung menceburkan dirinya. Setelah beberapa kali dia membenamkan kepalanya kedalam air sungai Gangga sambil menyebut nama-nama Deva berulang-ulang, barulah gemetar tubuhnya berkurang. Dia menghembuskan nafas panjang berkali-kali sambil terus mengulang penyebutan nama-nama tuhan. Setelah hatinya betul-betul reda sang Brahmin melangkah pulang. Ketika sampai dirumah dia menemukan istrinya sedang ‘mengempengi’ si-bayi dengan sebotol susu. Dia sembunyi-sembunyi masuk ke-ruang puja dan duduk tepekur; barangkali dia sedang mengamati hatinya, sambil berkali-kali menghela nafas. Setelah siang si-Dayu pulang dari sekolah; dia ber-jingkat-jingkat dan berharap jangan sampai ketemu dengan sang Brahmin bapaknya. Rasa takut masih menyelimuti hatinya. Dia langsung ke-emperan dapur untuk menemui si-bayi yang berada dalam ‘ayunan’ kain darurat.

Malam harinya seperti biasa menjelang tidur sang Brahmin ditemani istrinya ngobrol sambil dipijat-pijat. Sang Brahmin seolah telah melupakan peristiwa di-pagi hari tadi. Istrinya merasa bersyukur suaminya tak menyinggung hal itu. Ke-esokan harinya, menjelang ‘puja’ si-istri kembali merasa was-was. Dia berusaha mempersiapkan segalanya lebih awal. Suaminya lewat dan berkata, “Bu, sebaiknya anak itu diberi susu dulu, biar dia tidak rewel.” Istrinya yang sejak tadi tertunduk takut menegok, dan dilihatnya wajah sang Brahmin penuh pengertian, “ya tuhan”, didalam hati dia berguman; dan segera bergegas kedapur membuatkan susu bagi si-bayi.

Setelah ‘puja’, sang Brahmin mengikuti istrinya ke-emperan dapur melongok si-bayi. Si-bayi yang perutnya telah penuh minum susu, barangkali merasa nyaman; dan menyapa kedatangan sang Brahmin dengan bahasa bayi yang tak kita mengerti. Mungkin si-bayi menyampaikan ucapan terima kasih dan juga  mengisahkan dirinya dengan panjang-lebar sambil tersenyum-senyum, berkata-kata…ouw.ahaa..ouw…. Sang Brahmin sejenak berbinar wajahnya dan dia-pun berlalu. Sekembalinya; dia telah membawa sebuah ‘ayunan’ yang lebih besar dan lebih bagus sebagai pengganti ‘ayunan kain’ yang darurat itu. Hal ini tentu saja membuat hati istrinya terasa nyaman. Demikian juga si-Dayu sangat gembira hatinya ketika pulang sekolah menemukan si-bayi dalam ayunan yang besar yang dibuatkan oleh Bapaknya sang Brahmin.

Malam harinya si-bayi boleh tidur sekamar dengan sang Brahmin. Dan istrinya berkata, “ini mungkin sudah kehendak dewata, yang telah mengirim anak ini untuk belajar kepada Bapak.” Demikianlah sejak saat itu keluarga sang Brahmin menemukan suatu kebahagiaan baru dengan hadirnya seorang bayi lelaki yang diberi nama Kartikee. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun Kartikee tumbuh menjadi seorang anak laki-laki yang sehat, tampan dan cerdas. Semua anggota keluarga sangat menyayangi. Lebih-lebih sang Brahmin percaya dengan kata-kata istrinya, bahwa dewata-lah yang mengirim anak ini untuknya; karena putera kandungnya tak ada yang lelaki. Anak ini memang sungguh sangat mengagumkan. Sejak usia dua tahunan dia telah ikut ‘puja’ setiap pagi menemani sang Brahmin. Dia selalu menyebut sang Brahmin “ayah”, demikian juga sang Brahmin sudah menjadikan anak ini sebagai puteranya. Si-Dayu boleh merasa iri dengan perlakukan ayahnya kepada Kartikee; namun senyatanya dia-pun amat sangat menyayangi, seperti adik-kandungnya.

Empat tahun telah berlalu sejak penemuan si-bayi; keluarga Brahmin ini hidup penuh kebahagiaan, aman, damai dan sentosa. Di hari minggu pagi yang cerah itu, setelah selesai melakukan ‘puja’, tiba-tiba datanglah dua orang tamu wanita ber-cadar, ini pertanda mereka adalah dua wanita muslim. Sang Brahmin mempersilahkan tamunya duduk dan sekalian menanyakan maksud kedatangannya yang mencurigakan. Adalah aneh memang seorang Muslim bertamu kerumah seorang Hindu; karena situasi di-kota itu, dimana telah terjadi konflik yang terus-menerus sejak bertahun-tahun antara dua kelompok yang berbeda ini. Dan betapa kagetnya hati seluruh keluarga Brahmin itu, ketika mengetahui maksud kedatangan tamu-tamu yang tak diundang ini adalah untuk menjemput si-Kartikee yang waktu lahirnya diberi nama Abdullah. Karena alasan ekonomi wanita yang melahirkan si-Abdullah terpaksa menitipkan puteranya secara sembunyi kepada keluarga sang Brahmin lewat tangan si-Dayu.

Kartikee-pun dibawa setengah terpaksa oleh dua orang wanita bercadar itu yang salah satunya adalah ibu-kandungnya.

Dapatkah Anda membayangkan apa yang terjadi dengan seluruh anggota keluarga sang Brahmin? Silakan Anda menggambarkan seperti apa derita dan kesedihan yang melandanya.

Sang Brahmin dengan tubuh lunglai pergi ke-sungai Gangga menceburkan dirinya, sambil terus menyebut nama-nama tuhan. Seharian dia tak pulang, sehingga istri, menantu, dan anak-anaknya menyusul dengan kecemasan dan kesedihan yang tak terperikan.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: