Beranda > Keheningan > RIAK-RIAK KEHIDUPAN

RIAK-RIAK KEHIDUPAN

Dunia ini penuh dengan orang-orang, beserta segala kisah dan ceritanya; namun kosong dari kehidupan. Mereka berlomba dan berlomba…., dan berlomba….., tak pernah puas dengan apa yang diperolehnya.

Sebagian dari mereka hidup penuh harta, kemewahan, dan makanan berlimpah…..; dan banyak yang miskin, melarat, kekurangan makan dan gizi.

Mereka yang bergelimang harta, jatuh dalam kejenuhan, rasa bosan, kebingungan, cemas-resah dan gelisah……., lalu mereka pergi kepesta, minum-minum dan memabukan diri…., sementara yang miskin hidup dalam kecemasan, kesedihan dan selalu berharap……

Mereka pergi kerumah tuhan bersembahyang, berdoa, dan menyanyikan lagu pujian…., berharap agar tuhan bermurah hati memberi mereka, rejeki, perlindungan dan sorga. Lagu di-iringi musik…, menyanyi dan menari; dan mereka hanyut terseret….. dalam berbagai perasaan.

Hujan dimusim kemarau turun membahasi tanah-tandus, rumput kuning-mengering tepi jalanan; bergerak menggeliat diterpa hujan……, tercuimlah bau tanah yang ranum menyerap air-hujan…., Alam penuh suka-cita…., terbuai kasih dan cinta.

Adakah mereka semua, melihat dan mendengar…..? Adakah mereka merasakan, sentuhan kasih alam yang meliputi semesta….? Mereka asyik….dan sibuk mencari…dan mencari dan… mencari apa? mereka tak tahu.

Struktur kehidupan masyarakat yang sedemikian komplek, dari lapisan paling atas sampai lapisan paling bawah membuat persaingan hidup seolah-olah merupakan hal yang tak terelakan. Dan hal ini mau tak mau membuat kita stress dan jatuh sakit. Persaingan ini membuat kita tak memiliki waktu sejenak-pun untuk diam merenungkan kehidupan atau mengamati segala sesuatu yang menimpa diri kita.

Bila kita memperhatikan segala sesuatu dalam kehidupan ini; semuanya berjalan sesuai dengan proses yang telah terkodratkan. Tanaman tumbuh berkembang kemudian berbunga-berbuah dan pada saatnya mati. Demikian juga halnya dengan binatang maupun manusia. Kita mengalami proses; lahir, tumbuh menjadi dewasa menuju tua dan akhirnya mati. Dan kita juga mengalami proses bio-ritmik; dari sehat menuju sakit dan sebaliknya dari sakit menuju sehat. Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan pola pikir, pola makan, sikap tubuh dan lingkungan dimana kita hidup.

Kalau boleh memilih, kita semua tentulah selalu ingin berada dalam keadaan sehat-walafiat. Namun kebanyakan orang tak tahu bagaimana caranya agar selalu sehat. Barangkali telah banyak diantara kita yang mendengar atau membaca lewat buku-buku tentang faktor-faktor yang menyebabkan kita jatuh sakit. Seperti: 70% faktor pikiran; 20% faktor makanan; dan sisanya10% adalah faktor sikap tubuh dalam bekerja dan faktor lingkungan—polusi asap, sampah, bising, suhu panas-dingin dan sebagainya. Analisa ini tidaklah tepat, namun kurang-lebih faktor-faktor diatas sangat dominan membuat kita jatuh sakit.

Sakit yang berkomplikasi dengan faktor pikiran akan sangat sulit disembuhkan. Dari beberapa kasus yang pernah saya tangani, sebagian besar mereka mengalami dipresi berkepanjangan dari tekanan kehidupan mereka. Kondisi ini akan membuat daya-tahan tubuh menurun sehingga mudah jatuh sakit. Dan celakanya, manakala mereka telah berobat, tetapi tak kunjung membaik; kecemasan dirinya akan memperburuk kondisi sakitnya. Apalagi setelah pindah-pindah dokter; dari dokterA-keB-keC, dan kemudian ke alternative “balian” (dukun); maka kecemasan dirinya akan membuat dipresi sekali-gus sakitnya meningkat.

Pikiran yang ribet, ruwet, menimbulkan rasa kesal, menambah kebingungan dan lama kelamaan menjadikan mental tertekan. Kondisi ini akan mempengaruhi kesehatan secara menyeluruh sehingga beberapa fungsi organ tubuh mengalami degradasi. Efek langsung adalah memperburuk fungsi lambung (sistem pencernaan) juga fungsi sirkulasi sex (gairah/semangat hidup). Dari sini berkembang menimbulkan efek-efek buruk pada organ tubuh yang lainnya. Inilah suatu drama-hidup yang mengobang-ambing kehidupan manusia yang bersumber dari pikiran mereka.

FAKTOR UTAMA ADALAH PIKIRAN— Kita tak pernah bertanya, apakah yang kita cari dalam hidup ini…? Kita sedemikian sibuk dengan segala kegiatan; dari pekerjaan untuk memperoleh nafkah, dilanjutkan dengan hobi kita, pengejaran pada kenikmatan, pelarian-pelarian kita pada berbagai bentuk-bentuk hiburan; termasuk hiburan spiritual dengan ritual, kepercayaan, sekte-sektenya dan lain sebagainya. Dan tanpa sadar, semua kegiatan ini justru menjerumuskan kita menuju sakit; baik sakit phisik maupun sakit psikis. Pernahkah kita mengamati hal ini terjadi dalam hidup, dalam diri kita….? Dan pernahkah kita bertanya; hal apakah yang paling berharga dalam hidup ini? Bukankah hidup ini sangat berharga? Ataukah hidup ini hanya mainan, hidup asal-asalan…? Bagi saya hidup ini sangat istimewa, karena itu saya suka memperhatikan kehidupan. Bila kita hidup dalam keadaan sehat lahir-batin, kita tentu akan dapat merasakan betapa indah dan istimewanya hidup ini. Manakala tak ada secuil-pun duka-nestapa, kesedihan ataupun kecemasan; apakah maknanya ini? Bukankah kita berada dalam sehat, segar, penuh rasa gembira dan vitalitas? Tidakkah hidup seperti ini adalah istimewa, penuh makna…?

Ketika saya mengamati diri saya dan orang-orang disekitar, saya melihat betapa kita terlalu banyak membuang-buang energi dengan berpikir atau memikirkan hal-hal yang semestinya tidak perlu dipikirkan. Pemborosan energi ini membuat daya-tahan tubuh menurun yang pada akhirnya berakibat kita jatuh sakit. Kebanyakan orang beranggapan bahwa orang hidup harus berpikir; benarkah demikian? Atau ada orang yang tak bisa mengelak untuk tidak memikirkan segala macam hal atau permasalahan yang menimpa dirinya. Dan bertanya, “bagaimana caranya agar pikiran saya bisa tenang Pakyan?”

Pernahkah kita menyimak lebih dalam; kenapa pikiran selalu bergerak….? Proses berpikir ini, berawal lewat sentuhan panca-indera kita. Ambil satu contoh; ketika siA berbisik kepada si-B sambil melirik kepada saya; maka mata saya yang melihat ini, langsung mengirim sinyal kepada otak-ku, dan terus mengolahnya. Sinyal ‘bisik-bisik dan lirikan’, di-interpretasikan oleh pikiran-ku (si-Ego) dan berkembang menjadi bermacam-macam praduga. Dari pengalaman bertahun-tahun, pikiran telah terlatih untuk berasumsi, ber-praduga; sembarang sentuhan lewat panca-indera, maka otomatis pikiran bergerak, memikir, menganalisa, berprasangka, menyimpulkan dan sebagainya. Dalam satu hari betapa banyaknya objek yang tertangkap oleh panca-indera; dan kita tak’an dapat menghitung berapa banyaknya gerak pikiran menghasilkan praduga, kesimpulan, kecemasan, rasa jengkel, kebencian, tipu-daya,  dan lain sebagainya. Demikianlah proses kerja pikiran tanpa pernah teramati; yang barangkali merupakan permulaan dari segala permasalahan dalam hidup kita.

Selanjutnya bolehlah kita menimang-nimang dan bertanya. Kenapa saya harus berpikir? Apakah faedahnya bagi diriku? Bila aku bersungguh-sungguh dan seksama, saya akan menemukan jawaban bagi diriku sendiri. Ini adalah, ‘kebiasaan kreatif-ku yang suka berasumsi, ber-prasangka, berandai-andai dan percaya’; tanpa sadar, pikiranku telah terpola secara otomatis bergerak sedemikian rupa. Apabila aku melihat, menyadari pola pikir yang otomatis ini sering menimbulkan permasalahan, seyogyanya aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada diriku, yang tentunya akan butuh keseriusan dalam menemukan jawabannya.

Adakah aku sungguh menyenangi kondisi diriku yang bagaikan baling-baling terus berputar tujuh-keliling? Bila tidak; aku memiliki kesempatan dan hak untuk menolak hal ini, bukan? Seperti halnya baling-baling, kita tinggal memutar atau menekan switnya, sehingga baling-baling berhenti berputar. Sederhana bukan? Namun masalahnya adalah saya telah terpola untuk berputar tiada henti; sehingga saya tak pernah ada perhatian untuk menghentikan baling-baling.

PERHATIAN ADALAH SWIT— Dari permasalahan yang kecil, ketika tersentuh oleh pikiran-ku (si-Ego), maka akan berkembang menjadi hal besar; bagaikan api kecil yang diberi minyak dan embusan angin baling-baling maka berkobar menjadi api besar yang kemungkinan bisa membakar diriku dalam kemarahan, rasa jengkel, kebencian dan seterusnya. Hal ini jelas adalah suatu petaka bagi diriku dan sekali-gus berdampak buruk pada orang-orang disekitar. Apabila saya melihat kebodohan cara hidup ini, karena tiada keuntungan apa-pun bagi diriku maupun orang lain, semestinya aku sepakat untuk membuang kebodohan ini, bukan? Keseluruhan proses ini membutuhkan perhatian. Apabila kita sungguh berada dalam perhatian yang terus-menerus, dari saat ke saat, maka kita akan melihat setiap gerak baling-baling pikiran. Semuanya, sepenuhnya, seutuhnya senanti-asa berada dalam perhatian. Bila ada perhatian, kita tak perlu mengendalikan, menekan, atau mengalihkan dengan metode, atau bentuk-bentuk disiplin apa-pun. Karena setiap pengendalian, penekanan, pengalihan, akan menutup perhatian seutuhnya; dengan demikian kita kehilangan kesempatan untuk memahami.

USAHA PIKIRAN— Yang umum dilakukan orang; baik lewat agama-agama, aliran, sekte-sekte, dan yang lain-lain adalah mengendalikan, menekan, mengontrol, mengalihkan dengan berbagai sistem, metode, bentuk-bentuk disiplin untuk dapat mengatasi gejolak pikiran. Apabila kita mencermati; bukankah semua usaha pikiran ini merupakan bagian dari gejolak pikiran kita? Dapatkah Anda melihat hal ini?

“Suatu kejadian membuat saya marah. Karena saya menyandang predikat seorang guru, maka saya menekan atau mengalihkan perasaan marah ini dengan menyebut nama tuhan, “ya allah”….dan seterusnya. Hal ini adalah konflik ganda; marah adalah konflik pertama, dan penekanan terhadap marah adalah konflik kedua. Atau marah adalah aksi, dan penekanan terhadap marah adalah reaksi. Aksi-reaksi ini adalah gejolak pikiran. Dan ini tak’an pernah mengakhiri konflik, tak’an pernah mengantar kita pada pemahaman.

Kategori:Keheningan
  1. edi
    6 Desember 2012 pukul 2:12 pm

    pikiran, intelek, hatinurani salam bahagia, rahajeng _/\_

    • 7 Desember 2012 pukul 12:34 pm

      Thanks…, rahayu….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: