Beranda > Keheningan > KECERDASAN

KECERDASAN

Apa yang ditulis dalam Blog ini adalah hal-hal yang sangat sahaja. Untuk dapat memahami hal ini dibutuhkan batin yang sederhana dan bebas. Dan menjadi sulit, karena kita terlanjur rumit. Kita telah menciptakan kesulitan-kesulitan, keruwetan bagi diri sendiri. Sadarkah kita akan hal ini….?

Cobalah amati….; dari mana datangnya kesulitan ini….? Semua kesulitan ini terjadi karena batin Anda tidak bebas dan sahaja. Apabila batin Anda berpegang dan melekat pada sesuatu, apa-pun itu: kepercayaan, keyakinan, keimanan, kenikmatan, dogma-dogma, otoritas, konsep-konsep, ide-ide, citra, tahkayul, khayalan, figur, sorga dan lain sebagainya, maka batin Anda sudahlah pasti tidak bebas. Dan batin yang berpegang dengan segala sesuatu itu, jelas tidak sederhana. Pengumpulan segala sesuatu itu, baik pengetahuan, konsep-konsep pun ayat-ayat dari kitab suci dan sebagainya merupakan beban pengaruh bagi batin. Semua hal itu diolah, disesuaikan, dihubung-hubungkan satu sama yang lainnya, maka terbentuklah suatu pengkondisian baru dari kombinasi bermacam-macam hal yang telah terkumpul selama ini. Tanpa disadari ini menjadi hak milik yang paten dan laten sebagai pembentuk sang-Diri/si-Ego. Milik ini bisa sebagai pendapat, prinsip, keyakinan, yang lebih bersifat solid, mengakar didalam batin. Demikianlah si-Aku merajut jaring-jaring diri dari segala hal yang dikumpulkannya, untuk memperkuat eksistensi dirinya.

Janganlah cepat membantah atau menyetujui tulisan diatas…! Amati, simak dengan tulus dan jujur, bahwa fakta ini ada didalam diri kita. Nah hal inilah yang menghalangi kecerdasan itu hadir.

“Wah…, sederhana sekali, kalau begitu aku mesti membebaskan batinku dari pengkondisian…..”—KEINGINAN kita untuk MEMBEBASKAN BATIN, adalah reaksi dari keterkondisian itu. Dan reaksi ini adalah bagian tak terpisahkan dari kondisi yang eksis saat ini. Semua usaha pikiran tentu memiliki motif; motif itu adalah harapan dan sekali-gus kecemasan/rasa takut. Dapatkah Anda melihat hal ini….?

Untuk dapat sungguh melihat, dibutuhkan kesungguhan yang amat sungguh-sungguh; ANDA mesti SUNGGUH DIAM MENYIMAK. Menyimak dalam DIAM ini adalah KEBEBASAN batin dari pengkondisian yang menumbuhkan KECERDASAN. Batin yang cerdas adalah batin yang ringan, riang, segar, sehat, peka, hening dan indah. Kita tak dapat membayangkan kondisi batin seperti ini, namun kita mesti mengalaminya. Apabila batin selalu berada dalam kondisi demikian, maka semua permasalah hidup kita yang kerdil sirna.

Iklan
Kategori:Keheningan
  1. 5 Oktober 2010 pukul 2:17 am

    Hal yg terpenting adalah setiap saat kita mempunyai tujuan hidup yang ingin dicapai. Setidaknya kita tahu ke mana kita akan berjalan dan strategi apa yang harus diambil untuk mengejar ketertinggalan meraih kesejahteraan.

  2. windra
    5 Oktober 2010 pukul 9:31 am

    Thanks komennya. Memiliki tujuan hidup sah2 saja. Dan disinilah hampir semua orang berada. Cita2 yg harus/ingin dicapai, membuat system, strategi untuk meraih apa yg diharapkan. Disinilah seluruh hidup orang umumnya, dalam gerak pikiran yg terus memenuhi batin. Perjuangan ini penuh suka dan duka. Pengejaran, persaingan, menjerat batin pd kesenangan2/ hiburan2. Dan disini tak pernah Keheningan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: