Beranda > Uncategorized > TUMBUH DALAM BADAI

TUMBUH DALAM BADAI

Film dokumenter “Tumbuh Dalam Badai” karya sutradara IGP Wiranegara, beberapa tahun yang lalu telah diluncurkan di Jakarta. Film ini menjadi istimewa dan menyentuh karena menampilkan kesaksian dan perihnya perjalanan hidup anak-anak yang orang tuanya menjadi korban Tragedi Kemanusiaan 1965/1966.

“Tumbuh Dalam Badai” yang berdurasi 45 menit bercerita tentang beberapa anak yang berjuang hidup dalam tekanan diskriminasi secara struktural karena orang tua mereka diduga anggota Partai Komunis Indonesia (PKI).

Diantara mereka adalah seorang dalang dan penari wanita, Wangi Indrya, seniman ketoprak Bondan Nusantara, praktisi Healing Touch SiPHT, dan seniman dengan nama samaran Nyoman.

“Sejak kecil saya sudah biasa dikucilkan dan dicemooh, awalnya memang sakit sekali hati ini. Tapi ayah saya bilang harus sabar dan bisa menerima keadaan ini,” ujar Wangi dalam diskusi usai pemutaran film di Goethe Haus.  Pengakuan tragis diungkap si-PHT yang saat itu baru SMP, tentang ayahnya yang diseret keluar dari pura dan di bantai ber-ramai-ramai oleh massa.

Jauh sebelum pembuatan film ini, semasih rezim Soeharto berkuasa si-PHT  telah diwawancarai oleh seorang wartawan kemanusian dan hak-hak asasi dari AS. Si-PHT menceritrakan semua kesaksian dia tentang terjadinya pembunuhan-pembunuhan massal semasa itu; sampai si-wartawan bertanya, “apakah anda tidak merasa takut menceritrakan semua hal ini?” Si-PHT balik bertanya, “kenapa mesti takut; haruskah kita takut untuk mengungkap kebenaran apa adanya?” Menurut si-wartawan bahwa tidak ada orang yang mau membuat testimony tentang kejahatan sejarah kemanusiaan yg terjadi apalagi rezim itu masih berkuasa.

Aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimana sejarah dan peradaban manusia selanjutnya di-muka planet bumi ini? Ketika manusia mulai mengingkari hati-nuraninya yaitu kejujuran dan cinta-kasih; mau tak mau mereka akan terjebak dalam kebohongan, pembodohan, kelicikan, kekejaman, dan kebencian. Sungguh sangat memprihatinkan.

Bila kita membandingkan dengan standard umum apalagi dengan standard berkecukupan empat sehat-lima sempurna; dengan apa yang dialami oleh keluarga korban pasca pembantaian besar-besaran itu, memang membuat hati terasa trenyuh dan pilu. Kesengsaraan kekurangan pakan, atau makan sekenanya membuat hati pilu, jangan bicara soal papan dan sandang. Mereka tidur dihalaman terbuka, disemak-belukar, dalam udara malam yang dingin tanpa selimut.

Si-PHT yang baru duduk di bangku SMP terpaksa berhenti sekolah. Setelah kemarin malam penguburan dadurat jasad ayah dan pamannya yang hancur-lembur; pagi-pagi dia menengok rumahnya yang telah menjadi puing-puing. Disana-sini bara api masih mengepulkan asap. Padi dan kedelai yang tak habis dibakar api, ada yang menjadi “mpuk-mpink” yang enak dimakan. Namun saat itu sorot matanya kosong menatap pecahan genteng, kaca, dan “batu paras” berserakan. Pada waktu itu di-desa tidak banyak orang yang memiliki rumah gedung. Sangat menyedihkan, dari harapan yang berbintang-bintang musnah dalam sekejam dan yang tersisa hanyalah puing-puing duka yang mendalam yang tak dapat digambarkan. Penderitaan phisik bukanlah apa-apa, namun yang lebih parah adalah tekanan spikologis, dari terror yang terus-menerus dan berlanjut pada stigma yang dijatuhkan pemerintah dan masyarakat, sungguh membuat para anggota keluarga korban menjadi trauma. Tidak sedikit trauma ini akhirnya sampai dibawa keliang-lahat. Sungguh suatu tragedy kemanusiaan yang sangat mengerikan dan menyedihkan.

Tekanan yang dialami keluarga Si-PHT, membuat kakek dan neneknya jatuh sakit karena kesedihan atas meninggalnya putera-putera mereka dan tak lama kemudian akhirnya meninggal dunia. Kemudian disusul oleh Pakdenya yang bersedih hati kehilangan adik-adiknya. Stigma yg diberikan bahwa dia adalah manusia kotor, anak seorang penghkianat bangsa, tak diambil hati oleh si-PHT. Setiap manusia yang dilahirkan dimuka bumi, berhak untuk hidup…., ‘inilah yang selalu ada dalam benak si-PHT’. Sehingga dia terus hidup dan hidup…., dan dia terdampar ke ibu-kota Negara, dimana dia pernah menjadi bagian dari para gelandangan dan tukang ojek disekitar Pademangan dipinggir rel KA…., jurusan Kota-Ancol. https://wayanwindra.wordpress.com/apakah-itu-2/

Apabila Bangsa ini tidak berani jujur, mengakui sejarah hitam dari tragedy kemanusiaan ini, maka selamanya hal ini akan menghantui kehidupan kita berbangsa dan ber-negara. Didalam diri hantu-hitam ini ada bermacam-macam hal: pembodohan, kebohongan, ketakutan, dosa-dosa, dan lain-lain. Hal inilah memenuhi nurani bangsa kita, sehingga kejujuran dan kasih-sayang terkubur dalam. Lihatlah pemimpin-pemimpin bangsa ini mereka selalu berkelit, lempar batu sembunyi tangan, saling-tuding, penuh kelicikan, menutu-nutupi, mengalihkan permasalahan, agar mereka dapat lalu-asa; maka terpupuklah keserakahan mereka; dan negeri ini menjadi negeri kaya-raya koruptor-koruptor, manusia-manusia rakus yang tak bertanggung-jawab.

Apakah ini sudah kehendak Allah…..?

Si-PHT yg dijuluki sang-Kaffir yang melebihi komunis hanya bisa tersenyum mendengar orang-orang dungu yang sok tahu kehendak Allah.

Kategori:Uncategorized
  1. Bagus
    7 Januari 2013 pukul 10:58 pm

    Menganalisa dan mengamati…
    Tragedi tersebut merupakan satu dari banyak upaya pemusnahan satu etnis di nusantara. Yaitu etnis Bali… Dirongrong dari dalam…diadu domba sanak saudara…kerabat dan sahabat… Semata-mata untuk meluluskan dan memuluskan politik kejam para elit dan cendikiawan agama mayoritas saat itu…

    Saya turut prihatin…setelah diamati dan dianalisa… Sungguh tragedi yang sistemik, berjamaah dan berhasil…tapi gagal memusnahkan etnis dimaksud…

    Merupakan PR besar pemimpin negeri ini kedepan…meluruskan sejarah dengan jujur dan legawa tanpa dalih politik sesaat…

    Merupakan PR besar penerus bangsa ini…

    Astungkara… Pulau kecil ini akan menjadi lentera bangsa melalui orang2 (yang katanya) kafir seperti kita…

    • 8 Januari 2013 pukul 1:39 pm

      Thanks Bapak Bagus sdh mampir, maaf saya terlambat menyalami, ini pinjam Laptop anak saya…, biasa ngenet cuma pake HP…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: