Beranda > Keheningan > DIMANA MASALAHNYA?

DIMANA MASALAHNYA?

Bila kita membaca tulisan-tulisan, pernyataan-pernyataan, status-status; kelihatannya sangat mengesankan; seolah-olah si-penulis, si-pembuat pernyataan, status dan yang lain-lainnya, sungguh-sungguh telah melangkah sampai pada tahapan tertentu. Namun ketika ditelusuri, ternyata itu hanyalah copy-paste. Atau pemahaman barulah sebatas intelek. Disinilah permasalahan itu mandeg.

Ada pernyataan: “HANYA PIKIRAN TANPA GERAK DALAM DIRINYA, TANPA PROJEKSI-DIRI DAN SETELAH ITU BARULAH YANG ABADI DAN TIDAK TERPIKIRKAN DIALAMI”.  Apa maksudnya pernyataan ini…..? Sungguhkah si-penulis pernyataan ini memahami senyatanya, secara actual, apa yang ditulisnya….? Atau pernyataan diatas semata copy-paste…..? Untuk sampai pada  PIKIRAN TANPA GERAK DALAM DIRINYA, TANPA PROJEKSI-DIRI……, orang mestilah sungguh-sungguh memahami GERAK PIKIRAN dan PROJEKSI-DIRINYA  secara total, senyatanya. Orang tak mungkin sampai pada PIKIRAN TANPA GERAK, TANPA PROJEKSI-DIRI, apabila dia belum sungguh-sungguh memahami GERAK-PIKIRAN, PROJEKSI DIRINYA.

Untuk memahami DIRINYA, pikiran sama sekali tidak membutuhkan metode apa-pun. Namun dalam suatu dialog; bahwa metode, konsep sangat diperlukan bagi para pemula katanya. Seperti juga halnya tulisan ini, jika anda tidak cermat, boleh saja anda menganggap sebagai sebuah konsep; namun tulisan ini senyatanya hanyalah kata-kata; dan diharapkan kata-kata ini setajam mata pedang untuk membedah kedalam SANG DIRI. Dan tulisan ini hanyalah mengungkap realita tentang kondisi PIKIRAN/sangDIRI. Hampir semua tulisan dalam Blog ini hanyalah mengungkap realita apa-adanya, untuk menggugah agar kita terjaga dari mimpi, dari ilusi, khayalan dan kepercayaan yang adalah rasa takut terselubung.

Saya melihat, kesulitan kita untuk memahami adalah karena KETIDAK BERSEDIAAN KITA UNTUK BELAJAR. Dapatkah kita menyadari ketidak-bersediaan kita untuk belajar? Tahukah anda apa yang menyebabkan kita tidak siap untuk belajar? Ada banyak sekali penghalang yang membuat orang sulit belajar. Namun hal yang mendasar adalah tidak adanya KETERBUKAAN, KEBEBASAN berpikir. Manakala saya berpegang pada suatu kepercayaan, keyakinan, prinsip, dogma, system, konsep, ide dan lain sebagainya, tanpa saya sadari saya telah merintangi diri saya untuk belajar. Diri saya telah penuh sesak, sehingga tak ada sedikitpun celah, ruang untuk melihat dan menyimak. Setiap ada lontaran yang berbeda dengan keyakinanKU, kepercayaanKU, prinsipKU, aku akan menolak dan barangkali juga menentangnya; baik secara terbuka maupun hanya didalam hati. Walau hanya didalam hati, tetap saja hal ini menutup kesempatan belajar bagi diriku. Jadi KETERKONDISIAN diriKU-lah merupakan penghalang utama bagi diriku untuk belajar.

Dapatkah aku melihat hal ini senyatanya bagi diriku….? Atau dapatkah anda melihat senyatanya hal ini bagi diri Anda….? Kita tak perlu memproklamirkan jawabannya dalam tulisan atau kata-kata. Bila Anda sungguh melihat, Andapun melihat. Dan apa tindakan kita selajutnya…..?

Proses belajar hanya terjadi bila batin bebas dari keterkondisian. Dapatkah kita melihat keterkondisian ini? Dapatkah batin bebas dari keterkondisian? Pikiranlah yang mengumpulkan segala macam hal, kemudian  merangkai, menyusun dan mencipta segala sesuatunya yang memenuhi batin kita, bukan? Cobalah amati…! Bagaimana akumulasi segala pengetahuan, kenangan, rasa takut, keyakinan, ide-ide, cita-cita, khayalan, harapan, kepercayaan, gambar-diri dan lain sebagainya memenuhi batin? Dan kemudian kesemuanya  ini mewujud, dan menyebut dirinya sebagai si-Aku/sang-Diri. Untuk melihat ini kita mesti sungguh-sungguh mengamati dalam diam.

Selanjutnya….., lihatlah semua tindakkan kita bersumber dari pusat  ini (si-Aku). Kita mesti sungguh menginsyafi si-Aku/sang-Diri, yang terbentuk dari berbagai macam akumulasi masa lalu; dan selanjutnya bagaimana si-Aku dengan segala kepentingannya, ambisinya, keyakinannya, prinsipnya— mengejar, bersaing, melekati, berpegang, menjadi kaku, keras, fanatik dan kejam. Inilah tindakan si-Aku/sang-Diri yang merupakan GERAK PIKIRAN yang terus-menerus yang luput dari pengamatan kita. Bila kita tak mampu memahami semua ini, senyatanya; maka pernyataan “PIKIRAN TANPA GERAK DALAM DIRINYA”, hanyalah semata kata-kata, copy-paste.

Ketika kita mengatakan bahwa konsep, metode diperlukan bagi para pemula; apa alasannya…..? Semestinya dari sejak awal, kita harus bebas dari segala konsep, dogma dan metode, karena semua itu adalah bagian dari GERAK PIKIRAN. Bila kita melihat realita disekitar maupun dalam diri kita; konsep, metode ini telah dilakukan sejak ratusan, ribuan tahun; dan apa hasilnya…..? Lihatlah orang-orang akhirnya melekat dan terjerat dalam konsep-konsep, dogma-dogma dan metode-metode. Mereka terjerat dalam sampan-sampan, perahu-perahu, label-label, dan menjadikannya sebagai kebanggaan untuk saling bersaing. https://wayanwindra.wordpress.com/2009/08/11/dewa-di-deweke…-di-dalam-diri/

Dapatkah kita melihat realita ini ada didalam diri kita? Melihat, mendengar, menyimak bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan keseriusan yang sungguh, kemauan yang besar, energy yang berlimpah. Untuk ini….., marilah kita diam….., tarik nafas panjang dan halus…..! Didalam sunyinya diam adalah kemurnian diri dan keheningan, anda akan mendengar suara-suara disekitar; anda akan melihat gerak-pikiran dalam dirinya. Mampukah anda melihat, memahami senyatanya, betapa sia-sianya segala pikiran itu….? Jika Anda sungguh melihat; artinya si-Aku/sang-Diri telah melihat KEBODOHAN DIRINYA. Disini pikiran telah menyentuh INTI PENGGERAK DIRINYA, dan pikiran ditransform jadi PERHATIAN. Pikiran/otak bekerja sangat efisien, secara langsung dengan hal-hal yang bersifat tekhnis. Dan selebihnya—kepercayaan, harapan, rasa-takut, pengejaran, citra, segala permasalahan dan lain sebagainya sirna dari kehidupan. Disini ada inteligensi yang mampu mengungkap hal-hal yang lebih dalam yang selama ini tak pernah tersentuh.

Kategori:Keheningan
  1. distiant balfas
    21 Maret 2013 pukul 2:59 pm

    Pmikiran yg sempit adalah mengatakan sesuatu tanpa mengkaji sesuatu yg d bicarakaannya itu trlbih dahulu. Kepercayaan, keyakinan, prinsip, dogma, system, konsep, ide dan smcamny bknlah sesuatu yg merintangi pmikiran kita membatasi keterbukaan pmikirn kita. Krna kpercayaan yg saya pegang dengan jelas menganjurkn saya untuk terus belajar dn mmbuktikn kbenaran isi kitab yg saya imani. Apakh anda sudah benar2 mendalami smua itu? Jwbnya pasti belum krna sungguh anda bnar2 tdk memahami apa yg anda bicarakan!

    • 30 Maret 2013 pukul 9:15 am

      Terima kasih atas apresiasi dan masukan anda sdr balfas….
      Kritis dari orang yg berpikiran luas spt anda tentunya sangat berharga.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: