Beranda > Keheningan > BOLAK-BALIK SERAKAH

BOLAK-BALIK SERAKAH

Kadang otak kita sangat sulit untuk berpikir, untuk menemukan makna-makna dalam kehidupan ini; pada-hal dimana-mana, dalam setiap moment tentu mengandung makna. Dalam setiap masalah sekali-gus terkandung jawabannya, namun otak kita yang malas dan dangkal ini tak dapat menemukan, sehingga kita terjebak, stuck dan mumett. Yang terjadi justru sebaliknya; bukan otak ini mampu mencari solusi, tetapi otak ini malahan secara terus menerus membuat masalah-masalah bagi dirinya. Jika masalah ini berkepanjangan….stress jua jadinya.

Semua masalah yang terjadi yang langsung menimpa diri maupun menimpa orang-orang disekitar kita adalah saling terkait satu sama yang lainnya. Karena senyatanya kita adalah dunia; kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari segala kegiatan dunia ini. Dalam setiap dialog, urun pendapat dalam forum-forum kecil yang bersifat tidak resmi, yang bersifat langsung maupun forum tidak langsung seperti dalam dunia maya ini; tak ada habis-habisnya pembicaraan, dialog-dialog tentang bagaimana atau apa yang mesti dilakukan untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang terjadi baik secara individu maupun sebagai kelompok/berbangsa, berNegara.

Dalam berbagai dialog, berbagai pendapat dikemukakan, saling menyanggah, saling menunjang, dan semua ide-ide, gagasan, pernyataan, kritik, termasuk luapan rasa jengkel dengan keadaan yang terjadi….., semuanya sebatas retorika.

“Kita butuh pemimpin yang ber-kwalitas, JUJUR, PINTAR, MEMBELA RAKYAT dll.”….. “ini butuh ratusan tahun untuk mencetak SDM yang bermoral”

“Systemnya mesti diperbaiki”…, “biar dibuat system yang HUEBAT sekali-pun, jika manusianya tidak menjalankan dengan benar…?”…terus….

“Butuh pengawasan yang ketat untuk menjalankan systemnya”…., “SIAPA?”…, “jika pengawas, KPKnya, kejagung, kepolisian dapat disuap”…..,? mesti ada apa lagi…..?

Pembicaraan muter-muter tak ada habisnya…., sampai dunia ini kiamat, artinya masing-masing dari kita telah mampus…; tak jua ada perubahan/perbaikan dalam kehidupan berNegara, berBangsa atau kehidupan sebagai manusia.

Melihat kondisi ini, pembicaraan ini menjadi sangat melelahkan. Kadang timbul rasa bosan dan malas karena seolah-olah tak ada solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan manusia. Sungguhkah tak ada solusinya…? Bagi kebanyakan orang sepertinya tak ada jalan pemecahan, karena masalah ini saling terkait dan saling bergantung dgn keseluruhan struktur kehidupan, baik sebagai individu maupun kelompok masyarakat, sebagai suku-suku atau bangsa-bangsa.

Bila kita sejenak diam mengamati; maka masing-masing dari kita adalah bagian yang membentuk keluarga, dan keluarga kita membentuk masyarakat selanjutnya Negara dan Dunia ini. Apa-pun yang terjadi/ada saat ini tidak terlepas dari diri kita. Bila terjadi kebusukan, kebobrokan, kekacauan, bagaimana-pun jua, kita ikut andil walau secara tidak langsung. Dapatkah kita melihat bahwa kita adalah bagian tak terpisahkan dari kondisi dunia ini? Bila kita sungguh melihat, maka kita tak’an saling menyalahkan atau melempar kesalahan. Setiap orang mestilah bertanggung-jawab pada dirinya maupun pada keseluruhan kehidupan ini. Maka itu janganlah cepat mengeluh, berputus-asa; bagaimanapun kita mesti berbuat sesuatu untuk kebaikan bersama.

Ambil contoh kecil; dalam dunia pendidikan, ada pernyataan yang mengatakan bahwa, “pendidikan rendah ujung-ujungnya jadi maling, jadi copet” dan “pendidikan tinggi ujung-ujungnya jadi koruptor.” Pernyataan ini tidaklah benar 100%, namun pernyataan ini semata ungkapan rasa jengkel saking kesalnya hati seseorang melihat kebusukan, keserakahan manusia yang semakin menjadi-jadi.

Jangankan dengan pendidikan rendahan, yang berpendidikan tinggi-pun sangat sulit mendapat pekerjaan. Dengan tiada pekerjaan maka tak ada penghasilan; kebutuhan hidup yang terus meningkat memaksa orang menempuh segala cara untuk bertahan hidup….ya jadi maling kecil, copet, penipu, wanita penghibur, pemulung, pengamen, pengemis dan lain-lain. Sedangkan yang telah memperoleh penghasilan sebagai Guru, Pegawai, Karyawan, Pejabat, Menteri, Presiden, Jenderal, Tentara, Polisi dan lain-lain, tidak sedikit yang merasa tidak puas. Dari keserakahan mereka maka tercipta maling-maling atau koruptor-koruptor didalam tubuh birokrasi. Tak terhitung banyaknya kasus-kasus yang terjadi. Hampir diseluruh lampisan kehidupan terjadi kebobrokan. Di dunia pendidikan yang merupakan landasan sebagai pembentuk moral, karakter justru tidak jarang terjadi penyimpangan dan kebusukan. Praktek-praktek wajib les, wajib beli buku, wajib study tour dan lain-lain telah menjadi contoh buruk bagi para siswa. Masuk perguruan tinggi pada fak-fak yang di-unggulkan akan dikenakan sumbangan resmi dan tidak resmi; sehingga biaya pendidikan sangatlah mahal.

Jadi bolak-balik kita bicara…., INTI PERMASALAHAN terletak pada KESERAKAHAN diri kita.

Dapatkah kita melihat KESERAKAHAN diri kita…, dan menelusuri; kenapa kita menjadi SERAKAH…? Pada hematku, kita mesti mulai menyentuh yaitu menyimak, menyelidik, mempertanyakan secara tuntas, langsung pada sumbernya yaitu KESERAKAHAN yang ada pada diri kita masing-masing. Karena, jika kita hanya menyentuh pada level permukaan, sejenak seolah-olah masalah itu dapat diatasi atau diperbaiki, namun kemudian timbul lagi. Ini ibarat kita mencabuti rumput “teki” yang umbi-akarnya telah menjalar kemana-mana, tak’an pernah tuntas. Maka itu kita mesti menggali sedalam mungkin pada sumbernya yaitu KESERAKAHAN DIRI dan menyelesaikannya.

Jadi pertama-tama adalah melihat KESERAKAHAN yang ada dalam diri. Untuk melihat hal ini kita tidak membutuhkan konsep-konsep, metode, kepercayaan, dogtrin, guru, pemimpin atau-pun kitab suci. Yang dibutuhkan hanya kebersediaan diri untuk jujur, melihat apa adanya diri kita. Hal ini tidaklah sulit, bila kita jujur, kita akan melihat KESERAKAHAN ini adalah hal yang tidak baik, bukan…? Adakah agama-agama yang di-anut mengajar Anda untuk menjadi serakah..? Barangkali Anda atau kita semua sepakat bahwa keserakahan ini tidak baik; namun kenapa kita tidak dapat berhenti menjadi serakah? Tahukah Anda…?

Selama ini kita tak pernah mempertanyakan, menyelidik; kita cendrung dan terbiasa percaya dan melakoni saja, walau tindakkan kita terkadang kejam, tak berbelas-kasih. Kita sering berucap bahwa kita adalah orang-orang beriman, bermoral dan bertutur-kata tentang cinta-kasih. Tokoh-tokoh agama, pemuka masyarakat, Negarawan, berpidato tentang hal yang muluk-muluk; kita rajin sembahyang ke-rumah-rumah ibadah, mendengar atau berkotbah tentang ke-besaran Tuhan, tentang cinta-kasih, tentang dogtrin, kaidah-kaidah, tentang etika moral, tentang persaudara umat manusia, tentang toleransi, kebersamaan dan sebagainya-dan sebagainya….., namun kita tetap saja serakah….; apa maknanya ini? Adakah tindakkan kita bermanfaat?

Pernahkah kita mengamati hal ini. Kita telah melakukan berbagai hal: membangun rumah-rumah ibadah, membangun rumah-rumah sakit, sekolah-sekolah, GOR, pusat-pusat pelatihan, dan sebagainya yang kesemuanya bertujuan untuk memperbaiki kondisi kehidupan kita…., bukan? Namun semua keberhasilan kita dalam bidang phisik, tidak pernah membebaskan kita dari permasalahan hidup; dimana-mana terjadi kebusukan, kekerasan, penindasan, pemaksaan, kekejaman, persaingan, penipuan, yang semuanya bersumber dari KESERAKAHAN. Inilah wajah dunia kita, wajah kehidupan kita. Kita berada disini, ikut andil; apakah kita terlibat langsung atau-pun secara tidak langsung. Jika Presiden kita korup, dan kita sebagai rakyat mendiamkan tindakan korup itu, maka secara tidak langsung kita ikut memupuk tindakan korup itu bukan? Ini hanyalah suatu perumpamaan. Demikian juga sama halnya dalam kasus-kasus yang lainnya. Maka dari itu kita mesti secara terus menerus berbuat kebaikan demi kebaikan, memperingati diri kita mau-pun yang lainnya. Hal ini bukanlah gampang, namun demikian kesulitan ini adalah tantangan yang mesti dihadapi. Semangat ini mesti selalu hidup, ibarat si-tukang rakit yang menikmati perjalanan sekaligus memikul tanggung-jawab untuk mengayuh rakitnya ke-hulu menyeberangkan orang-orang.

Apakah yang membuat kita SERAKAH….? Kemelekatan kita pada kemewahan hiduplah yang membuat kita sulit melepas keserakahan, bukan? Apabila kita terjerat gaya hidup mewah, maka kita tak pernah merasa cukup. Dari pakaian mewah…., terus makanan mewah, rumah mewah, mobil mewah, villa mewah, simpanan mewah, jabatan mewah, martabat mewah, kapal mewah…dan mewah-mewah berikutnya yang ngantre tak habis-habisnya dari dalam keinginan-keinginan kita. Walau-pun telah banyak kemewahan-kemewahan yang dinimati, yang memberi banyak kesenangan dari rasa bangga; namun kegelisaan, kehampaan hidup tetap mencekam diri. Ini terjadi dimana-mana, khususnya dikalang masyarakat kelas atas di negeri mana-pun. Bila Anda kebetulan orang yang bergelimang kemewahan, coba amati…., apa yang terjadi dalam diri Anda?

Apabila kita melihat kemewahan ini memupuk KESERAKAHAN, dan secara tidak langsung menimbulkan ber-aneka permasalahan dalam kehidupan kita, baik sebagai individu maupun kehidupan berBangsa, apakah tindakkan kita selanjutnya…? Jika kita sungguh melihat, sungguh menginsyafi, maka akan ada tindakan spontan dari ke-insyafan-diri. Ini bagaikan kita tiba-tiba berhadapan dengan se-ekor king-kobra (keserakahan) yang siap mematuk, maka secara otomatis kita melompat menjauhinya.

Gerakan melompat ini mengantar kita pada kesederhanaan. https://wayanwindra.wordpress.com/2009/11/17/be-simple/

Dapatkah kita menjadi sederhana secara lahir dan batin….? Anda tak bisa berlatih untuk menjadi sederhana. Anda tak dapat menginginkan kesederhanaan itu; namun bila Anda melihat, memahami KESERAKAHAN dalam diri secara detail, maka tanpa disadari kuntum kesederhanaan itu bersemi. Apabila Anda berada didalam kesederhanaan, maka semua permasalah hidup sirna.

Hati terasa ringan tanpa khayalan.
Hati hening tanpa tradisi.
Hati damai tanpa kenangan.
Hati indah tanpa kepercayaan.
Ditanah ini akan tumbuh kuntum kesederhanaan batin.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: