Beranda > Keheningan > MARTABAT

MARTABAT

“Dimana harga-diriKu, kehormatanKU, martabatKU…., jika aku tak bisa berbuat, melakukan sesuatu yang menjadi kaedah, norma-norma umum dan agama kita….?” , hardik si-Bapak kepada anaknya. Dari desakan MARTABAT si-Bapak akhirnya si-anak setuju meminjam sejumlah dana untuk membuat altar (merajan) tempat pemujaan bagi keluarganya.

Keluarga ini telah belasan tahun tinggal pada sebuah lahan baru. Karena mereka dari golongan ekonomi lemah, maka sampai sekian lama tak jua bisa membangun altar (merajan). Hal ini menimbulkan perasaan tak enak, tertekan, merasa bersalah; karena seolah sudah merupakan kewajiban bagi setiap umat untuk membangun altar (merajan) masing-masing. Sehingga hampir disetiap rumah umat selalu mesti ada sebuah altarnya (merajan).

Pembangunan sebuah altar (merajan) yang paling sederhana-pun tentu menghabiskan puluhan juta, bahkan bagi yang berduit tak segan-segan menghabiskan dana sampai ratusan juta atau milyard untuk pembangunan tempat pemujaan (merajan) ini. Namun bagi kalangan ekonomi lemah, untuk membuat yang paling sederhana dengan anggaran puluhan juta rupiah juga sangat sulit, dan terpaksa ngutang seperti halnya keluarga diatas.

Akhirnya altar (merajan)-pun selesai juga dengan menekan/mengurangi sana-sini; dari makan 3x sehari menjadi 2x sehari; dari lauk tempe menjadi hanya krupuk; dari nasi beras menjadi nasi jagung/gamplek. Ini semua dilakukan hanya demi sebuah MARTABAT.

Belum setahun altar (merajan) selesai, dan selama ini hidup dengan cara serba dihemat, karena tekanan hutang, membuat kondisi kesehatannya terus merosot. Akhirnya si-Bapak-pun meninggal dunia dalam usia 56th. Untuk upacara “ngaben” (kremasi) dibutuhkan dana minimal belasan juta atau lebih; hal ini menambah hutang dan menjadi beban bagi si-anak yang ditinggalkan. Untuk sebuah MARTABAT si-anak mesti melanjutkan cara hidup serba hemat dalam ketertekanan hutang. Inilah warisan MARTABAT dari sebuah tradisi kepercayaan.

Kita boleh saja berkata, “siapa suruh datang Jakarta”……?, Tuhan tak pernah meminta umatnya untuk berbuat demikian…! Namun senyatanya itulah yang terjadi. Apakah ini sudah kehendak Allah, atau kehendak siapa…? Sungguhkah ada orang yang paham/tahu tentang kehendak Allah….? Karena terlalu sering kita mendengar, dalam suatu kejadian atau musibah yang menimpa…., ada pernyataan…, “ya ini sudah kehendak Allah!” Adakah sebuah penderitaan, stress yang dihasilkan oleh tekanan sebuah MARTABAT dari kepercayaan ini sudah menjadi kehendakNya….?

Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah manfaatnya kita mempertahankan MARTABAT, harga-diri…? Kenapa diri kita mesti dipasangi label harga…? Tidakkah kita melihat betapa MARTABAT, kehormatan, harga-diri ini hanyalah menimbulkan beban, dan masalah bagi diri kita…..? Sungguhkah MARTABAT ini merupakan hal yang mulya, luhur…? Sehingga kita mesti ber-MARTABAT…? Apa bedanya MARTABAT dengan GENGSI….?

Seandainya kita hidup tanpa MARTABAT, kita merasa rendah, hina, tak berdaya, bukan…? Dari sini kita berasumsi, “orang-orang tentu mencibir pada-Ku”, dari perasaan ini kita akan bereaksi; dan reaksi kita hanya ada dua: kiri atau kanan, positif atau negatif. Baik reaksi kita positif atau-pun negatif; tindakkan ini tetap adalah reaksi dari pikiran yang bermotif. Disinilah kita pada umumnya berada. Dan kita akan suka/ membenarkan jika reaksi tindakan itu positif atau sebaliknya kita taksuka/ menyalahkan jika reaksi tindakan itu negatif. Dan ini menjadi relative…., karena ini masih berada sebatas gerak pikiran didalam dualitas yang suka MENILAI. Dan ini di-nilai wajar, sah-sah saja. Namun untuk membuktikan bahwa di-palung terdalam lautan Banda adalah sebuah mutiara-hitam yang dijaga oleh se-ekor Gurita raksasa, kita mestilah terjun menyelam. Tiada gunanya kita hanya mempercayai beritanya, bukan?

Apabila kita melihat gerak pikiran; dari perasaan rendah, hina kemudian bereaksi mengejar MARTABAT, terus berusaha mempertahankan; selanjutnya memupuk agar lebih ber-MARTABAT, dan kemudian melekati MARTABAT karena hal ini memberi perasaan bangga dan puas…; selanjutnya merasa cemas atau tersinggung jika ada orang yang tidak memandang sebelah mata pada MARTABAT kita…., apakah yang terjadi? Bila kita sungguh melihat/paham gerak pikiran dari reaksi ke-reaksi ini yang pada akhirnya hanyalah menimbulkan kekecewaan, dukha, derita bagi diri kita….?; disitu ada gerak murni dari pemahaman yang bebas dari reaksi pikiran yang mengejar MARTABAT. Dan disini ada kebebasan…., hidup hanyalah hidup.

Tulisan berikutnya si-Gagak memuji-diri

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: