Beranda > Keheningan > SEMBUNYI-SEMBUNYI

SEMBUNYI-SEMBUNYI

Kenapa kita sembunyi-sembunyi? Kalau kita masih kanak-kanak, dan sedang bermain ‘pitak-umpet’, memang mesti bersembunyi; namun saat ini kita tidak sedang bermain ‘pitak-umpet’, bukan? Apa maknanya kalau kita sembunyi atau menyembunyikan sesuatu…? Secara logika tentu ada sesuatu yang dirahasiakan, bukan? Didalam rahasia yang sembunyi-sembunyi ini, tidak ada keterbukaan atau ada ketidak-jujuran. Namun kita semua menganggap atau berpendapat bahwa hal ini wajar, sah-sah saja.

Sikap rahasia, sembunyi-sembunyi ini ada dalam diri kita maupun disekitar. Bila kita ada perhatian, dalam selayang-pandang kita dapat melihatnya. Lihatlah kasus-kasus yang tak terselesaikan yang terjadi di Negeri kita; ini semua bersumber dari sikap sembunyi-sembunyi, ketidak-jujuran para aparatur pemerintah dan penegak hukum bangsa kita, bukan? Lain lagi halnya dengan teman-teman kita di FB yang menyembunyikan identitas dirinya; dengan nama samaran, wajah samaran, alamat samaran. Hal ini dilakukan tentu dengan alasan tersendiri. Namun apa-pun alasannya, kerahasiaan ini tetap mengandung unsur ketidak-jujuran, tidak adanya keterbukaan. Saya tidak mengatakan hal ini baik atau buruk; namun hanya menunjuk bahwa sembunyi-sembunyi ini mengandung ketidak-jujuran. Seberapa-pun kecil rahasia yang disimpan didalam hati, hal ini pasti menghalangi kejujuran bersemi dalam diri kita.

Pernahkah Anda mengalami ketika ABG dulu….? Ketika pertama kali anda mulai merasa tertarik dengan lawan jenis Anda? Tentu pengalaman setiap orang berbeda, namun ada perasaan yang terpendam, rasa tertarik/suka yang tak berani kita ungkap, bukan? Rasa tertarik yang terpendam ini sering melayang menjadi khayalan yang melambung tinggi keawang-awang. Kita terseret…., seberapa jauh kita hanyut oleh perasaan tertarik yang tersembunyi ini tergantung dari seberapa kuat kita berimaginasi. Demikianlah alur, lika-liku sebuah rahasia terpendam, yang tersembunyi menimbulkan bermacam-macam perasaan dan permasalahan dalam kehidupan kita.

Jika ada suatu pengalaman yang berkesan yang mesti disembunyikan; kesan ini selamanya akan menjadi tembok, sekat penghalang untuk hadirnya sebuah keterbukaan batin. Bila hal ini ada dalam diri kita, maka adalah mustahil kita dapat terbuka kepada hal yang maha-luas /tuhan jika anda suka memakai kata ini.

Nah…; kenapa kita bermain ‘pitak-umpet’, sembunyi-sembunyi, merahasiakan…? Untuk apa kita menaruh penghalang didalam diri…? Mungkin selama ini kita tidak menyadari, atau kita memiliki alasan-alasan yang kuat untuk terus menyembunyikan; namun fakta ini cepat atau lambat akan merugikan diri sendiri, (bagai menyembunyikan ‘kentut’, walau tak nampak, namun zzsiit.., waw bauunya… pasti menyengat sedaaap). Kita tentulah telah pernah merasakan, mengalami akibat-akibat dari sebuah rahasia yang disembunyikan, tanpa sadar terbongkar…, betapa tidak menyenangkan hal ini, bukan? Namun dari sekian banyak pengalaman, sepertinya kita tak jera-jera jatuh kembali kedalam lubang yang sama. Ini terbukti betapa tak bosan-bosannya para pejabat Bangsa kita sembunyi-sembunyi, ber-kelit ke-kiri dan ke-kanan, menutupi, lempar tanggung-jawab, cuci-tangan, bagaikan anak-anak bermain ‘pitak-umpet’, sehingga permasalahan bangsa ini semakin ribet dan berjubel.

Tahukah Anda, kenapa kita sembunyisembunyi…? Kita merasa malu diketahui. “Aku merasa malu, jika orang-orang mengetahui diriKU yang jutek, malas, dungu, jelek, miskin dan lain-lain keburukan diriKU.” Inilah salah satu alasan kenapa aku sembunyi-sembunyi. Barangkali juga aku malu jika orang tahu aku ini seorang anak koruptor atau si-koruptor itu sendiri. Aku malu kehilangan MARTABAT, HARGA-DIRI. Jadi kejelekan-diriKU-lah yang membuat aku sembunyi-sembunyi. Cobalah kita cermati. Ketika aku merasa malu dengan keadaan diriKU, artinya apa…? Artinya aku tak suka dengan diriKU. Betapa aneh, membingungkan dan lucunya sikapKu…., pada kesempatan yang sama aku bangga-diri sekaligus tak-suka, malu pada diriku.

Semestinya masa kanak-kanak bermain ‘pitak-umpet’ telah lama berlalu. Dan kenapa kita tak pernah menjadi dewasa; dengan mengakui dan menerima apa adanya diri kita. “Bila aku brengsek, tolol, jelek dan miskin…ya inilah diriKU. Aku mesti belajar dari semua keburukan diriKu.” Hanya dengan demikian ada keterbukaan, kejujuran; hal inilah yang membawa kebaikan demi kebaikan pada kehidupan pribadi kita maupun kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: