Beranda > Keheningan > SI-GAGAK MEMUJI-DIRI

SI-GAGAK MEMUJI-DIRI

Gaak…gaak..gak….gaaakk, demikianlah si-Gagak memuji-dirinya yg hitam manis dan mulus. Kita tertawa, mendengar bunyi si-Gagak yang memuji-dirinya, dan menganggapnya ‘pongah’.

Sudah lima puluhan tahun lebih aku tak pernah melihat burung Gagak lagi; mungkin dia telah punah seperti burung-burung yang lainnya: ‘gelatik’, ‘blatook’, ‘tbecica’, ‘sridee’ dan lain-lain yang tak pernah terdengar lagi bunyinya. Ketika umurku empat tahunan, pada Hari Raya Galungan dan Kuningan aku sering mendapat tugas untuk menjaga sesajen/persembahan di tempat pemujaan (merajan) agar tak dicuri oleh si-burung Gagak. Aku akan membawa sebuah tongkat yang agak panjang sampai menjangkau ke-posisi sesajen yang di-tempatkan agak tinggi. Aku mengacung-acungkan tongkat agar si-Gagak takut, tetapi si-Gagak yang lapar tak’an peduli dengan tongkatku. Dia tetap memaksa mematuk sesajen/persembahan yang dia suka, walau-pun kena digebuk, seolah-olah dia tak merasakan pukulan tongkat-ku. Bila yang datang ada tiga, empat ekor Gagak, wah…aku kewalahan, kadang dia marah, dan menyerang-ku. Mungkin dia tahu aku hanyalah kanak-kanak. Ah.., terpaksa aku berteriak minta tolong. Nenek-ku atau ibu-ku akan datang dengan tongkat yang lebih besar, sambil menyupah-nyumpah. “Dasar Gagak jelek yang pongah…, nich rasa-in”, neneku memutar tongkatnya sambil berteriak. Barulah si-Gagak kabur, tetapi dia tak’an pergi jauh-jauh, dia hanya hinggap diatas atap bale-bale, dan siap untuk kembali. Dia sangat pintar, kembali dengan sembunyi-sembunyi, tahu-tahu dia sudah ada diantara ‘sesajen’; dan yang paling dia suka adalah telur yang berada didalam daksana.

“Gaak…gaak…”, suara si-Gagak… dianggap menyebut/memuji-diri, demikianlah orang-orang yang berbangga-diri atau memuji-diri, di-ibaratkan bagai si-Gagak yang pongah.  Aku tidak begitu tertarik dengan etika tingkah-laku; dimana letak salahnya jika si-Gagak memuji-diri, yang senyatanya memang sesuai dengan apa adanya fakta dirinya…? Salahkah kita jika berbangga-diri atau memuji-diri? Tidakah kita selalu memuji diri, bangga akan diri, walau barangkali kita malu menyatakan secara terbuka; karena kita berpegang pada norma etika bertingkah-laku. Apa salahnya jika kita memuji diri secara terbuka? Walau barangkali sikap ini dianggap tidak baik oleh etika-tingkah-laku. Apabila Anda atau anak Anda meraih juara umum atau masuk ranking sepuluh besar pada sekolah unggulan; tidakah Anda berbangga…..? Ku-kira tiada yang salah jika Anda spontan berteriak memuji-diri…, “horee aku berhasil jadi juara umum satu.” Ini adalah PUJIAN-DIRI yang muncul dari SUKA-CITA dari KETULUSAN sebuah hati yang jujur dan terbuka, tidak mengandung kesombongan.

Apakah Bapak SBY tidak bangga dengan dirinya menjadi orang nomor satu di Indonesia…? Apakah si-Abang Becak, tidak bangga pada dirinya, setelah seharian tiada henti mengayooh becak dan memperoleh uang lebih, yang membuat istrinya senang..? Ketika si-PHT (praktisi healing touch) berhasil menyembuhkan seseorang yang telah menderita reumatik selama 20 tahun lebih, dan telah berobat kemana-mana dari dokter ahli sampai ke-dukun sakti; disini ada kebanggaan-diri yang bersifat tulus. https://wayanwindra.wordpress.com/2010/05/07/rheumatik/ Sekecil apa-pun keberhasilan seseorang, jika itu diraih dengan kejujuran, dengan kerja keras; bolehlah mereka berbangga-diri, memuji-diri dengan ketulusan dari fakta apa adanya.

Ada komentar…., “ha..haha.., lucu.., lucu sekali…anda memuji diri sendiri.” Orang-orang yang berpegang pada norma-norma etika, kadang menjadi sulit bersikap jujur untuk memuji-diri; karena MEMUJI-DIRI sendiri dipandang tidak baik, pongah, ta’kabur…; walau dalam hati mereka berbunga-bunga. Jadi secara umum pada faktanya kita sesungguhnya bangga-diri, suka memuji-diri; hanya…, ada yang berani dengan jujur secara terbuka mengungkap lewat kata-kata dan kebanyakan merasa malu hanya memendam didalam hati. Namun, bagaimana-pun juga, PUJIAN-DIRI, BANGGA-DIRI, telah terjadi/ada dalam diri, bila kita mau jujur mengakui. Apabila MEMUJI-DIRI sendiri dianggap lucu….,, ya kita semua mungkin sedang ‘melucu’…, hanya ada yang ‘melucu’ secara jujur, terbuka, dan ada yang ‘melucu’ sembunyi-sembunyi.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: