Beranda > Keheningan > MENYIMAK KATA-KATA

MENYIMAK KATA-KATA

Apakah arti kata menyimak? Bukankah maknanya mendengarkan dengan penuh perhatian, meneliti dan menyelidik secara seksama? Apabila kita sungguh mampu menyimak setiap rangkaian kata-kata sehingga kita sampai pada pemahaman senyatanya, secara actual, maka kita dapat melampaui kata-kata.

Dalam tulisan SI BURUNG BEO, pada paragrap terakhir disebutkan: “Apa-pun yang dikatakan oleh seorang peng-kotbah, publik speaker, Guru Suci, tak’an mampu menghilangkan kegelapan (avidya) dalam batin Anda, alih-alih Anda ikut menjadi si burung Beo. Maka itu tiada jalan; hanyalah apabila Anda bersedia menyimak kata-kata dikedalaman diri Anda, kata-kata pada setangkai bunga, dalam tetesan air hujan, dalam sehelai daun kering yang jatuh melayang ke-tanah……., dan seterusnya. Bila Anda menyimak kata-kata semesta yang bersifat original ini, maka Anda bebas dari kepalsuan si-Beo.”

Seorang teman bertanya, “bagaimana caranya menyimak kata-kata dikedalaman diri Pak?” Pernahkah Anda menyimak? Termasuk menyimak kata-kata didalam diri kita, ataupun kata-kata yang berserakkan disekeliling, dalam buku-buku, Koran-koran, majalah-majalah, atau pada alam sekitar? Pernahkah Anda menyimak, sehingga Anda sungguh melihat kata-kata ini adalah pikiran? Apabila kita tidak sungguh menyimak, saya ragu…., apakah kata-kata yang kita ucapkan sungguh bersifat original atau hanyalah sekedar copy-paste yang mem-beo…?

Kata-kata tentu bermanfaat sebagai sarana berkomunikasi, untuk sampai pada suatu pengertian, sehingga kita sungguh-sungguh melihat apa yang ditunjukkan oleh kata-kata ini. Sang Buddha berkata, “lihatlah itu sekuntum bunga yang sedang mekar”…, hal mendasar adalah saya mestilah sungguh melihat ‘bunga’ ini; bukan percaya bahwa itu sekuntum bunga yang sedang mekar, dan menceritrakan pada orang lain, bahwa karena itu dikatakan oleh Sang Buddha. Ketika saya tidak sungguh melihat, maka ceritra/kata-kata saya hanyalah copy-paste yang bersifat palsu bagai si-beo. Disinilah pentingnya menyimak agar kata-kata ini tidak bersifat palsu, karena kita senyatanya mengucapkan hal-hal yang sungguh kita lihat; walaupun kita mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha, Krishnamurti, Vivekananda atau siapa-pun yang lainnya. Karena apa-pun yang dikatakan oleh Sang Buddha, Krishnamurti maupun yang lainnya, hanyalah kata-kata, yang barangkali bersifat original. Jika Anda atau saya merangkai kata-kata semesta yang bersifat original ini, tentu memiliki ke-aslian yang sama, sehingga pada intinya tentu memiliki makna yang sama, hanya pengungkapannya bisa jadi berbeda.

Dapatkah kita melihat bahwa kata-kata ini adalah pikiran? Sekuntum bunga dapat berceritra banyak tentang dirinya, manakala pikiran Anda mampu menemukan kata-kata pada bunga itu, bukan? Tentang warnanya, bentuknya, harumnya, daun mahkota, tepung sarinya, tangkainya dan seterusnya. Dan semua kata-kata ini bersumber dari pikiran. Jadi bila kita menyimak kata-kata pada kedalaman diri kita, adalah kita menyimak si-pikiran, si-sumber kata-kata; artinya pikiran menyimak kedalam dirinya sendiri. Pernahkah kita sungguh menyimak kedalam diri? Manakala Anda mengatakan saya si-dungu, apa reaksi saya? Saya sangat tersinggung, dan saya langsung marah besar dengan balik memaki Anda, “anjing tahi lho”….; bila hal ini terjadi apa maknanya? https://wayanwindra.wordpress.com/2009/12/02/ketersinggungan/ Adakah saya menyimak kata-kata yang terucap dari ketersinggungan diriku? Bila saya sungguh menyimak; sebelum kata-kata itu sempat keluar saya telah melihat semua rangkaiannya; bagaimana awal terbentuknya kata-kata ini. Dapatkah Anda melihat, dari mana sumber kata-kata “anjing tahi lho?” Bukankah hal ini bersumber dari perasaan diriku yang tak mau direndahkan, yang merasa diri pintar, dari harga-diriKu. Inilah si-aku yang merasa memiliki harga-diri, merasa pintar sendiri. Semua kepemilikkan si-aku ini telah menjadikan kepalaKu besar, dan yang juga membuat diriku terbakar. Bila aku sungguh menyimak rangkaian hal ini, maka saya-pun melihat dan memahami. Dan saya semestinya tak terbakar.

Banyak sekali kata-kata yang dapat disimak pada kedalaman diri kita. Dalam setiap permasalahan kehidupan terdapat banyak sekali kata-kata. Kata-kata ini adalah pikiran, dari sinilah sumber segala masalah tanpa disadari, apabila kita tak mampu menyimak. Sehingga semua kata-kata hanyalah teori. https://wayanwindra.wordpress.com/2009/10/13/teori-lagi-teori-lagi/

Namun kata-kata menjadi berfaedah, bila kita mampu menyimak, menyelami, sehingga kita sungguh melihat apa yang ditunjuk oleh kata ini. Saya selalu berharap dapat menuliskan kata-kata setajam mata pedang, https://wayanwindra.wordpress.com/2009/10/01/pendekar-pedang/….., sehingga kata-kata yang tajam ini mampu membedah kedalam diri kita sedalam-dalamnya. Hanya dengan demikian kemungkinan kita mampu menyimak kata-kata. Inilah sesungguhnya landasan kita dalam berbagi. Bila kita mampu menyimak kedalam diri, maka kata-kata yang terucap bukanlah kebanggaan diri, bukanlah kata-kata untuk menggurui, pamer-diri, atau copy-paste yang membeo, namun kata-kata yang terucap adalah realita yang juga diperuntukan bagi diri-sendiri yang selamanya terus belajar dan menyimak.

Ketika mentari mulai bersinar se-ekor burung “cicklar” berkicau nyaring. Dia hinggap pada pucuk kembang “soka” didepan jendela seraya mematuk-matuk kaca jendela dengan paruhnya yang panjang, sambil terus berbunyi melengking nyaring, seolah-olah memberitahu teman-temannya bahwa ada ruang didalam sana, namun tak dapat ditembusi. Namun setelah lima menit dia mulai capai atau barangkali bosan, karena ternyata semua usahanya tak dapat membawa dia menembus kedalam ruangan. https://wayanwindra.wordpress.com/2010/05/07/bosan/ Pernahkah kita menyimak perasaan bosan dalam diri kita? Banyak sekali kata-kata dan faktor yang terkait didalam kebosanan ini, namun kita tak berminat untuk menyimak, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk memahaminya.

Ketika kita memandang remeh kepada orang lain, karena kita adalah seorang dokter, seorang sarjana, S1, S2, atau seorang Guru spirituil….., apa yang terjadi dalam diri kita? https://wayanwindra.wordpress.com/2009/09/29/kesadaran-diri/ Ketika kita meremehkan orang, bukankah kita sedang berbangga dan melekati martabat, identitas diri kita dengan jumawan? Apabila pada saat ini kita menyimak kata-kata dari perasaan bangga-diri, martabat dan kejumawanan ini, semestinya kita akan melihat sumber munculnya sikap meremehkan orang lain. Persoalannya kita tidak bersedia menyimak kedalam diri, karena merasa pintar sendiri.

Betapa banyaknya kata-kata yang dapat disimak dari segala kehidupan ini; namun baik kata-kata itu banyak atau hanyalah satu; ini tetap bersumber dari si-aku (pikiran). Apakah kata-kata ini dalam bentuk tulisan seperti tulisan ini, dalam ayat-ayat kitab suci, dalam Koran; dalam semesta-raya seperti gunung-gunung, awan-awan, sawah, samudera, taman bunga; dalam nyanyian atau tangisan anak-anak, dalam wajah-wajah pucat para gelandangan, dalam tetesan keringat para kuli pabrik, dalam dasi para koruptor, dan sebagainya, namun semuanya adalah wujud pikiran.

Jadi menyimak kata-kata dikedalaman diri adalah menyimak pikiran. Pikiran menyimak kedalam dirinya. Apabila pikiran sungguh memahami dirinya, maka dia menjadi bebas, karena dia melihat senyatanya seluruh rangkai dan gerak dirinya. Namun bila dia belum memahami gerak dirinya, maka tanpa sadar dia (pikiran) akan berpegang, melekati objek/hal-hal diluar dirinya. Amati dan simak dengan seksama…! Bagaimana pikiran berpegang pada sesuatu, apa-pun itu seperti: materi, martabat, kehormatan, kenikmatan, kepercayaan, keyakinan, dogma, tuhan, kitab-suci, dan sebagainya. Didalam berpegang dan melekati sesuatu ini ada motif dari kepentingan si-aku (pikiran). Motif, kepentingan si-aku ini adalah harapan sekaligus kecemasan dirinya.

Menyimak kedalam diri adalah melihat, memahami seluruh rangkaian gerak, motif dari si-aku (pikiran). Bila sungguh ada pemahaman total, maka kata-kata terlampaui….., dan adalah alam cahaya dibalik tabir-gelap dari bathin yang kebingungan.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: