Beranda > Keheningan > KOKI YANG ANEH

KOKI YANG ANEH

Di sepanjang jalan Likaliku di sebuah kota Harapan berjejer restaurant-restaurant, rumah makan-rumah makan dengan beraneka ragam masakan. Dan disana ada sebuah restaurant dengan seorang KOKI yang masakannya sangat aneh rasanya bagi kebanyakan orang, sehingga restaurant itu sepi pengunjung.

Walau demikian manager restaurant tidak juga mengganti KOKInya. Dari segi bisnis tentu hal ini tidak menguntungkan. Tetapi berita tentang KOKI yang aneh ini tersebar dari mulut kemulut, sehingga ada saja orang-orang yang mengunjungi restaurant itu sekedar ingin tahu; namun rata-rata pengunjung mengercitkan hidung, bibirnya dan mencibir karena rasa masakan itu sungguh tidak sedap. Tak jarang ada yang langsung muntah-muntah, atau menyumpah-nyumpah oleh rasa muak dan jengkel. Apakah kita adalah salah satu dari pengunjung yang merasa muak dan jengkel itu….? Dapatkah kita melihat kedalam diri kita, kenapa kita mesti jengkel…? Bila kita tidak suka dengan masakan si-KOKI yang aneh itu…., ya kita tak usah datang kesana, bukan?

Saya teringat dengan suatu pengalaman tahun 80an, ketika pergi bersama teman-teman Bali sebagai perwakilan pemuda Hindu, untuk menyambut kedatangan seorang Guru Agung dari sebuah pertapaan di-kaki Himalaya. Setelah lagu Guru dan Arathi sebagai prosesi penyambutan selesai, kami dipersilakan untuk menikmati prasadam. Hidangan pertama adalah bubur kacang-hijo…., waw kelihatannya sedap, kami berempat selalu bersama-sama, karena tak biasa bergaul dikalangan komunitas India. Kami ber-empat mengambil bubur kacang-hijo secukupnya…., dan ketika kami menyantap sesendok…, kqeekh…, saya terkejut dan teman-teman yang lain langsung memuntahkan bubur-bubur itu. Namun saya tak bisa berbuat demikian, disamping karena etika, pada saat itu TG Kezin yang sekarang dikenal sebagai Anand Krishna telah mendekati kami. Dia menyapa dan kami lanjut ngobrol-ngobrol sambil menikmati bubur kacang-hijo yang rasanya sangat aneh di-lidah kami orang-orang Bali yang telah terkondisi dengan babi-guling, lawar atau masakan Indonesia umumnya.

Namun pengalaman ini sangat berharga bagi saya dengan menyantap habis bubur kacang-hijo itu. Dan ketika hidangan utama disuguhkan saya tidak menolak, walau teman-teman yang lain tak bersedia. Setiap suap dari semua masakan india ini, saya coba dengan sungguh-sungguh merasakan, rasa bumbunya yang mirip dengan parem yang terasa sangat aneh bagi lidah saya. Ternyata ini menjadi pembelajaran yang luar biasa. Saya melihat penolakan dari kesan-kesan diri. Dari pergolakan rasa dalam diri ini, saya melihat sumber keterkondisian rasa yang melekat pada pengalaman-pengalaman nikmat yang pernah diterima pada masa-masa yang lalu. Inilah suatu kebersediaan diri untuk terbuka dan menghadapi apa adanya sebagai fakta, dan ini mengantar pada pemahaman diri tentang rasa yang menjebak diri kita selama ini. Sejak saat itu saya dapat menyantap masakan apa saja tanpa ada complain, malah saya sungguh-sungguh dapat melihat dimana kenikmatan itu berada tanpa melekatinya. Ini adalah salah satu bentuk kebebasan yang menjadi landasan bagi saya untuk menyelami hal-hal selanjutnya.

Demikian juga halnya dengan kondisi yang lainnya. Pada saat kita merasa keberatan, complain, jengkel atau tersinggung dengan apa-pun, termasuk makanan, pernyataan, penunjukan, status-status, note, dogtrin, suasana sekitar dan sebaginya…, apa maknanya? Bukankah ini pertanda kita terkondisi, berpegang, melekat pada sesuatu yaitu kenikmatan, kenyamanan, keamanan yang kita dambakan, yang bisa berupa simbol-simbol, konsep-konsep, ayat-ayat, yang mungkin saja kita jadikan PUJAAN, KEYAKINAN, dan HARAPAN.

Suatu hari seorang Dokter bertamu kerumah seorang petani dan disuguhi secangkir kopi oleh istrinya. “Hidangan apa ini….!” sang Dokter berteriak lantang. “Tidakkah kalian tahu kopi ini mengandung racun, hidangan ini absurd tak ada manfaatnya”, berkata demikian seraya dia membuang kopi didalam cangkir itu. Disamping sebagai Dokter dia juga terkenal di daerah itu sebagai seorang Guru spirituil yang telah banyak memberi wejangan tentang kesadaran, kebebasan dan runtuhnya pikiran. Sungguh eronis bukan?

Dan ini kisah lain tentang seorang public speaker, yang membabarkan KEBENARAN sedang manggung dan didengarkan oleh banyak pendengarnya. Seorang pendengar yang karena terseret arus juga ada disitu duduk paling depan berhadapan langsung dengan si-penceramah. Si Pembicara mulai ceramahnya, dan pada jedah-jedah tertentu dia meminta hadirin….., “TEPUK TANGAN DONG”… dan semua hadirin bertepuk tangan kecuali si pendengar yang terseret arus itu. Setelah beberapa kali si Pembicara meminta hadirin tepuk-tangan, namun si pendengar yang terseret arus itu tetap tidak mengikuti, sehingga membuat si Pembicara jengkel. Diapun mulai menyindir si pendengar yang tak mau tepuk-tangan itu. “Jika kamu merasa tidak cocok mendengar ceramah seorang Guru, sebaiknya kamu keluar dan mencari Guru yang lain! Kamu mestilah menghargai orang yang berbicara didepan kamu! Jika kamu menganggap orang yang bicara didepan kamu seorang Guru, maka kamu akan mendapat berkah Guru. Jika kamu menganggap orang yang bicara didepan kamu seorang dewa, maka kamu akan mendapat berkah dewa.” Ceramahnya berapi-api….. “Kalian adalah ibarat domba-domba yang terjepit, kalian mesti dapat membebaskan diri dari jepitan, dan untuk itu kalian membutuhkan OTORITAS seorang Guru yang dapat membantu kalian terbebas. Sungguh suatu lelucon yang menarik bukan…., si Pengembala domba yang terjepit kambing hitam batinnya yang digelapkan oleh predikat Guru. Kemudian seseorang mendekati si pendengar yang tak pernah ikut bertepuk tangan itu, menyentuh pundaknya dan memberi bahasa isyarat dengan tangannya…..; ternyata dia adalah seorang gagu yang tuli……

Bila kita sejenak diam menyimak kedalam diri, tentu kita akan melihat keterkondisian diri kita. Saya yang lahir di-lingkungan orang-orang Bali tentu akan terkondisi dengan makanan khas Bali, seperti babi-guling, lawar, komooh dan yang lainnya. Betapa sulitnya bagi lidah saya untuk menikmati makanan yang lain. Syukurlah jika saya selalu berada di lingkungan Bali, sehingga akan dengan mudah memperoleh makanan kesukaan diriku. Namun bila saya berada jauh, dirantau orang mau tak mau saya akan bersentuhan dengan makanan yang lain. Dan saya merasa tidak nyaman, tak nikmat; dari kondisi ini saya merasa tersiksa dan mungkin akan menyumpah-nyumpah, menyalahkan hal-hal yang diluar diriku. Padahal sumber masalah berawal dari dalam diriku sendiri.

Anda datang dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan……, “tidakkah engkau dapat belajar dari fakta apa adanya yang terjadi dalam dirimu atau disekitar…? Mestikah hidup engkau yang sesaat ini kau isi dengan segala komplaim? Apakah sumber yang membuat engkau merasa berkeberatan…?” Apabila aku tak mampu menjawab pertanyaan Anda, aku merasa malu. Malu kalau aku diketahui bodoh, tak berpendidikan. Ini artinya aku malu mengakui kondisi diriKu. Sebaliknya jika Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku karena Anda memang pintar, aku-pun merasa dikalahkan, aku tak bisa terima kenyataan ini. Aku terus berusaha mencari-cari kelemahan Anda, agar aku dapat memojokan lawan bicaraku. Aku mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang bersifat memancing, dengan dilandasi oleh ketidak tulusan hatiku yang tidak dapat menerima fakta diriku yang bodoh. Dan yang lebih celaka lagi aku berasumsi bahwa Anda lebih bodoh dari diriku.

Kenapa aku bertindak seperti ini? Dengan kelakuan seperti ini jelas aku tak dapat belajar, menyimak apa-pun. Karena aku sibuk dengan asumsi, praduga2, intrik2, tipu-daya untuk mendapatkan kemenangan dan kepuasan. Inilah ilusi dari kesenangan yang terus dikejar oleh pikiran. Pikiranku bagaikan karat yang menempel pada besi, secara perlahan dia menggerogoti batinku menjadi kropos. Inilah masalah diriku; fakta diriku.

Apa yang mesti kulakukan…? Mestikah aku menerima kondisi diriku ini? Atau bagaimana caranya aku menolak atau membuang hal-hal yang buruk ini…? Seluruh masalah umat manusia berada dalam diriku. Artinya masalah diriku juga merupakan masalah orang-orang dimanapun dibelahan bumi ini; hanya dengan motif yang berbeda. Namun masalah adalah masalah.

Dapatkah Anda atau Guru Agung, SADHU, atau sebuah OTORITAS menuntaskan masalah diriku? Jika kita jujur melihat, bukankah tiada siapa-pun yang dapat menyeselaikan masalah-masalah diri kita? Karena masalah yang terjadi dicipta oleh diri kita sendiri, maka masing-masing dari kitalah yang mesti menyelesaikan. Bila kita amati permasalahan diri seperti rasa jengkel, tersinggung, benci, sedih, kesepian, kecemburuan, kecemasan, keraguan dan lain-lain yang muncul dalam batin kita adalah terbentuk oleh pikiran kita bukan…? Fakta ini telah berulang kali kita ungkap. Jadi hal ini semestinya telah kita ketahui. Nah, dapatkah sebuah OTORITAS menuntaskan kondisi batin kita dari masalah-masalah? Saya melihat, tak ada OTORITAS yang dapat menyelesaikan masalah-masalah diri kita, justru batin kita bertambah terbebani. Saya tak meminta anda sepakat dengan pernyataan saya, karena saya bukan siapa-siapa, saya tidak sedang mencari pengikut atau berusaha memperngaruhi; namun saya hanyalah pohon mengkudu yg kebetulan tumbuh dan berbuah. Setelah kita mengetahui bahwa sumber segala masalah adalah pikiran, maka kita mesti mengungkap apakah pikiran itu….?

Kategori:Keheningan
  1. 23 Mei 2013 pukul 7:54 am

    Hi, this weekend is fastidious in favor of me, since this occasion
    i am reading this wonderful informative article here at my house.

    • 24 Mei 2013 pukul 8:08 am

      Thanks for your appreciation my Best Steak

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: