Beranda > Keheningan > SiAKU ADALAH PUSAT

SiAKU ADALAH PUSAT

Dalam tulisan terdahulu kita telah menemukan bahwa semua tindakan kita bersumber dari si-AKU/pikiran yang memenuhi ruang-batin; demikian juga semua masalah diri kita bermula dari si-AKU. Dapatkah kita melihat hal ini senyatanya bagi diri kita masing-masing…? Kita tak butuh jawaban verbal, namun hanyalah sebuah fakta bahwa kita sungguh melihat, sungguh memahami, bagaimana proses terbentuknya ‘DIRI-KU’ yang merasa memiliki.

Dapatkah kita sejenak diam mengamati dan mempertanyakan? Kenapa kita memperlakukan si-AKU ini sedemikian ekslusif, sangat-penting sehingga begitu dominan menguasai diri kita? Bila kita renungkan dia…si-AKU ini hanyalah kumpulan dari berkas-berkas ingatan masa lalu. Dia terbentuk oleh kombinasi dari berbagai berkas-berkas ingatan masa silam yang mungkin sudah sangat basi. Inilah sebabnya kenapa tanpa disadari kita kadang bahkan sering merasa bosan. Motif perasaan bosan ini seolah bersumber dari objek-objek diluar, namun senyatanya perasaan bosan ini bersumber dari dalam diri sendiri yaitu dari si-AKU (kumpulan masa silam yang basi). Tindakan-tindakan si-AKU yang basi inilah yang membuat kita merasa bosan. Pernahkah anda ngobrol dengan seorang kaya mendadak (OKB), yang menjadi kaya karena kesandung rejeki…? Ceritanya hanya itu-itu, seperti kaset yang diputer ulang, sehingga anda atau dia sendiri menjadi bosan mendengarkannya. Untuk menyimak, menyelam kedalam diri memang bukan hal yang mudah, karena kebiasaan kita selama ini adalah melihat objek-objek diluar diri.

Karena si-AKU sangat ekslusif maka apa-apa yang menjadi miliknya juga bersifat istimewa. Apa saja kepemilikan si-AKU…? Yang paling istimewa dan luhur tentulah tuhan dan agama termasuk para rasul, kitab suci, imam dan para pendetanya. Kepemilikan yang bersifat pengikat pribadi tentu keluargaKU, anakKU, istriKU, saudaraKU, orang-tuaKU, mobilKU, rumahKU, hartaKU dan lain sebagainya. Sedangkan kepemilikan sebagai pembentuk si-AKU untuk menjadi semakin solid adalah perasaan cinta, kehormatan, jabatan, martabat, kebanggaan, prestasi, kepintaran, pengetahuan, gelar, predikat dan sebagainya. Semua kepemilikan inilah yang mengokohkan kedudukan si-AKU didalam diri kita, yang mungkin lepas dari pengamatan.

Seorang teman bertanya, “kalau si-AKU ini adalah sumber masalah, apa yang dapat kita perbuat dengan si-AKU…? Dapatkah kita menghilangkan atau mengendalikan si-AKU…?

Menghilangkan si-AKU…, mungkinkah kita dapat menghilangkannya…? Menurut hematku hal ini kecil kemungkinannya. Dapatkah kita hidup seperti seekor burung atau seekor keledai…? Kita tak perlu berandai-andai atau berspekulasi tentang hal yang belum jelas bagi kita. Selanjutnya dapatkah si-AKU dikendalikan…?

AGAMA DAN TUHANNYA

Barangkali tujuan pokok dari agama-agama didunia adalah PENGENDALIAN DIRI…. yaitu untuk mengendalikan si-AKU. Dan diciptalah konsep-konsep, metode, kaidah-kaidah sesuai dengan pikiran (si-AKU); dan ini tak membawa perubahan yang berarti. Penyesuaian diri memberi warna pada permukaan yang dangkal sebagai etika, sopan-santun dan toleransi. Inilah kesepakatan umum dari moral masyarakat yang merasa telah cukup dengan menjalankan kaidah-kaidah ajaran agama. Namun jauh didalam hati-sanubari, kita masih hampa, bingung dan dahaga.

Cobalah kita perlahan…., semua metode, kaidah-kaidah, ayat-ayat yang dituangkan dalam bentuk kitab-kitab seberapa-pun sucinya tetaplah produk pikiran. Semua itu dicipta oleh si-AKU (pikiran) yang bingung, hampa dan resah dalam rangka menanggulangi masalah-masalah dirinya. Jadi ini adalah reaksi dari kehampaan, kecemasan, kebingungan si-AKU (pikiran). Maka hasil akhir dari semua reaksi, usaha-usaha si-AKU tak bisa lain adalah DIRInya SENDIRI yaitu berkas-berkas masa-lalu yang basi. Bila kita menganggap bahwa reaksi, usaha pikiran ini sebagai suatu keberhasilan…, ya boleh-boleh saja. Namun faktanya kita tetap hampa, bosan, bingung, cemas, gelisah, serakah, bersaing atau hidup dalam khayalan, penipuan diri, karena inilah yang selama ini dirajut oleh si-AKU/pikiran.

Dapatkah kita menyimak uraian diatas…., semata menyimak? Hal ini tidak mudah memang, karena kecendrungan si-AKU (pikiran) adalah bereaksi, memberi tanggapan, menilai sesuai dengan keterkodisiannya, sehingga penunjukan yang semata menunjuk ini jadi absurd. Penunjukan ini bukanlah ajaran, dogtrin atau hasutan. Ini bagaikan angin sepoi-sepoi yang sejuk yang memberi pertanda bahwa musim dingin akan tiba. Untuk dapat melihat dan tanggap dibutuhkan kepekaan diri. Kepekaan-diri ini hadir dalam kesederhanaan batin yang bebas dari timbunan berkas-berkas ingatan masa-lalu, sehingga dalam dirinya ada kematian dan kelahiran.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: