Beranda > Keheningan > KEPALA ADALAH EKORNYA

KEPALA ADALAH EKORNYA

PERUBAHAN….

*KEPALA jadi EKOR…, dan EKOR jadi KEPALA…., apakah itu?

Setelah jadi penganggur kelas kakap, aku punya banyak waktu…., seharian hanya bengong…, eeh ahkir2 ini aku melihat tanpa sengaja terjadinya proses ulat menjadi kepompong. Dan aku lanjut mengamati kepompong yang netas jadi kupu2…. Nah, perubahan ulat menjadi kupu-kupu inilah dia…., ternyata KEPALA ULAT berubah jadi EKOR/BUNTUTnya KUPU-KUPU. Coba aja amati….!

Dari sini aku berpikir-pikir, apa yg terjadi dgn KEPALA/mulut ULAT yg sangat rakus selama dia masih bewujud ULAT. Hanya kurang lebih seminggu dari ulat kecil dia tahu-tahu sudah gendoot jadi ULAT DEWASA. Dan kedewasaanNya menuntun dia pada KESADARAN-DIRI untuk sebuah PERUBAHAN. Dia memutuskan untuk berhenti rakus/makan dan BERSEMADHI dengan cara “ngalong” spt ‘Sang Subali’ si raja kera dari Gua Kiskenda. Buntutnya melekat pada bagian tengah dari urat selembar daun kembang Medori dan kepalanya terayun-ayun kebawah. Hanya kurang lebih dua hari bersemadhi ngalong, si-ULAT telah sampai pada langkah awal dari PERUBAHAN itu. Dari bagian belakang batook kepalanya keluar sejenis cairan-kulit yang berwarna hijau. Cairan-kulit ini tumbuh dan bergerak melapisi sekaligus mengupas kulit luar ULAT. Cairan-kulit ini bergerak dari bawah keatas hanya dalam hitungan kurang-lebih sepuluh detik dan tubuh ULAT itu telah berubah menjadi KEPOMPONG hijau. Menjelang akhir dari proses pembungkusan, kepompong ini bergerak dan berputar-putar untuk melepas kulit ulat yg telah terkumpul dibagian buntut yg melekat pada urat-daun. Dan kulit ulat berikut cangkang kepalanya yg agak keras menjadi satu dan terlepas yang akhirnya jatuh ke tanah. Aku sempat memungut dan mengamati kulit ulat dan cangkang kepalanya yang se-olah2 telah mongering dan lapuk.

Waw… aku terkesima tanpa kata menyaksikan proses dan ke-indahan mahluk KEPOMPONG kecil itu hanya sekitar satu sentimeter panjangnya sangat berbeda dari tubuh ulatnya yang gendoot sepanjang tiga sentimeter. Setiap hari aku sempatkan diri menengok dua buah KEPOMPONG yang bergantung berdekatan pada bagian atas dari daun-daun kembang Medori. Untuk menuju langkah terakhir dari PERUBAHANnya, ulat yang sekarang telah berwujud KEPOMPONG ini membutuhkan waktu agak lama. Pada hari kedelapan kepompong yang berwarna hijau itu berubah menjadi coklat tua kehitam-hitaman. Titik-titik kuning atau putih terang pada kulit kepompong itu kelihatan berkilauan. Dan…. preiss…, kulit punggung kepompong itu pecah…, menjelma menjadi kupu-kupu kecil berwarna coklat muda dengan lukisan ornament yang sangat mempesona. Waw… kupu-kupu yang mungil dan cantik.  Sayapnya masih kuncup, namun secara perlahan oksigen dan angin memberi nutrisi kehidupan dan sayap-sayap itu bertambah panjang dan lebar. Pada saat itu aku baru sadar…, lha KEPALA kupu-kupu berada diatas…, bukankah yang melekat pada urat daun itu adalah buntutnya ULAT…?

Kalau diamati siklus kehidupan ulat hingga jadi kupu-kupu mungkin fifty fifty…..; yaitu masa makan/rakus setengah umurnya. Berubah menjadi ‘pertapa’ kepompong…., meninggalkan kemewahan (‘wanaprasta’) dan akhirnya menjadi kupu-kupu terbang bebas (‘moksa’) juga separoh umurnya. Mungkin melihat fakta kehidupan kupu-kupu ini ada ungkapan yang berkata life begin at forty. Ini diambil rata-rata kehidupan manusia adalah delapan puluh tahun. Empat puluh tahun pertama manusia bolehlah berpoya-poya, makan dengan rakus seperti ulat. Untuk ini dia mesti bekerja keras agar memperoleh segala materi. Namun setelah empat puluh tahun dia mestilah menjadi DEWASA sehingga ada KESADARAN-DIRI untuk berubah, dan meninggalkan kemewahan hidup. Kalau dalam konsep Hindu disebut sebagai ‘wanaprasta’ (pergi kehutan) meninggalkan kemewahan, iruk-pikuknya kehidupan. Namun dari fakta kehidupan manusia sangatlah berbeda. Manusia sampai tua tetap, malahan bertambah serakah/rakus. Coba lihat para koruptor itu…., mereka tiada bosan-bosannya serakah, demikian juga kehidupan masyarakat secara umum, walau mereka telah sangat berumur. Dimana-mana terjadi pertengkaran, persaingan, yang berlanjut dengan kebencian dan permusuhan…., baik yang bersifat vulgar ataupun yang samar, tersembunyi hanya didalam hati masing-masing.

Kalau kita melihat fakta ini…., walau manusia telah menghabisan separoh dari umurnya, tetapi mereka tidak segera menjadi DEWASA seperti si-ulat…, ada apakah gerangan…? Jadi saat ini ada sedemikian banyaknya manusia-manusia tua secara umur, namun tidak pernah DEWASA. Kalau kita mau mengamati disekitar…, dan yang paling jelas tersorot tentulah kehidupan para politikus kita saat ini. Dari usia mereka rata-rata sudah berumur, dari segi pendidikan mereka rata-rata manusia jebolan sekolah tinggi. Namun kalau dilihat dari tingkah laku, mereka seperti anak-anak. Mereka suka bertengkar, berebut, bersaing, main umpet-umpetan; mereka bagaikan bermain dagelan…, lucu, menggemasan dan menyedihkan.

Dan sesuatu yang misteri bagiku kenapa buntut/ekor si-ulat menjadi kepala kupu-kupu. Ketika terjadi perubahan si-ulat menjadi kepompong disini sudah kelihatan yang melekat/tergantung itu adalah kepala kepompong yang tadinya adalah buntut/ekor si-ulat. Bila diamati proses perubahan yang radikal ini terjadi manakala si-ulat menjadi DEWASA. Dan kedesawaan ini menumbuhkan KESADARAN-DIRI untuk berubah. Ini terjadi apabila kepala menjadi ekor atau ekor menjadi kepala. Idea dari sistem demokrasi mungkin terinspirasi dari perubahan ulat menjadi kepompong…, yaitu ekor (rakyat) sebagai pemimpin. Semestinya memang kedautan tertinggi itu berada ditangan rakyat ini teorinya, namun prakteknya melenceng jauh. Tetap saja pemimpin (kepala ulat) rakus/serakah…, inilah yang terjadi khususnya di Negara kita. Ini mungkin akan berakhir jika para ULAT (koruptors) menjadi DEWASA, sadar sehingga mereka berubah menjadi kupu-kupu (kepala/pemimpin) yang berasal dari ekor yang mengerti tentang si-ekor/rakyatnya. Hanya pemimpin seperti kupu-kupu (berasal dari ekor) yang dapat memberi keindahan dan kedamaian bagi kehidupan kita berbangsa. Tapi sampai saat ini para ULAT itu tidak pernah menjadi DEWASA…., mereka tetap rakus dan gembool walau secara umur mereka telah lewat dari forty….., kapankah EKOR JADI KEPALA….?

By si Khakool Puyung <Windra W.>

Kategori:Keheningan
  1. 27 April 2014 pukul 12:28 pm

    Suatu keindahan yang teramati secara sistematis akan melahirkan keindahan2 yang baru (perubahan) dalam diri pribadi, salam

    • windra
      1 Mei 2014 pukul 4:40 am

      Semoga keindahan2 itu berkembang memenuhi kehidupan, thanks.

  2. arief wicaksono
    18 Mei 2015 pukul 9:39 pm

    Saya takjub atas tulisan di atas.
    Atas pengamatan dan penghayatan dari kehidupan si ulat menjadi kupu-kupu dengan memperbandingkan kehidupan kita sehari-hari di Indonesia ini.
    Terimakasih atas pencerahannya.

    • windra
      19 Mei 2015 pukul 3:39 am

      Terima kasih atas apresiasi anda pak Arief.
      Alam disekitar sangat berbudi memberi kita pelajaran, hanya sayangnya kita tdk ada perhatian Spt dlm artikel cinta kasih, bgmn seekor ‘burung crucuk’ menjaga dan merawat anak2nya…

      https://wayanwindra.wordpress.com/2012/02/22/cinta-kasih/

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: