Beranda > Keheningan > CINTA KASIH

CINTA KASIH

Kucing tetangga si Belang mengintai mangsanya dengan sikap hati-hati. Dia bergerak perlahan…, namun tiba-tiba perhatiannya di-alihkan oleh gerakan burung Crukcuk yang terbang rendah mendekat dengan sengaja untuk memancing si Belang agar tidak menerkam anaknya yang sedang belajar terbang. Si Belang melompat mencoba menerkam induk burung Crukcuk…, namun usahanya gagal karena induk Crukcuk sudah siap untuk mengindar. Si Belang menerkam lagi…, dan gagal lagi, dia semakin penasaran. Induk burung Crukcuk tidak terbang jauh-jauh dan si Belang terus mengikutinya sehingga dia semakin jauh dari anak burung yang masih terengah-engah dibawah kembang kaca-piring. Demikianlah usaha Ibu-Bapa (induk) burung Crukcuk untuk menyelamatkan anaknya dari terkaman si Belang kucing tetangga kami. Sementara induk yang satunya terus berkicau sambil mengepak-ngepak sayap mengitari anaknya…., seperti melindungi atau memperingati anak-anaknya akan bahaya agar segera terbang. Namun anak-anak yang baru meninggalkan sarang ini kelihatan sangat lemah, jangankan terbang untuk berdiri-pun belum bisa. Setelah agak lama induk yang memancing si Belang sampai jauh, tiba-tiba kembali dengan se-ekor ulat di paruhnya. Dia melepas ulat itu disamping anaknya sambil mematuk-matuk dan si-anak-pun mematuk ulat itu…, walau dengan susah payah akhirnya ulat itu-pun tertelan. Sementara itu induk yang satunya-pun datang membawa se-ekor cengcorang muda dan memberikan kepada anaknya yang mendekam dipinggir pager. Setelah menelan ulat dan cengcorang, istirahat sekitar lima menit, dan hangatnya tanah memberi tenaga kepada anak-anak burung Crukcuk dan mereka mulai melompat berusaha untuk terbang…; namun tetap saja anak-anak Crukcuk ini jatuh kembali disekitar halaman rumah kami. Hampir setengah harian anak-anak burung ini latihan terbang dari ranting kaca-piring ke ranting kembang soka, kembang kenanga dan kemudian ke pohon sawo. Akhirnya keluarga burung Crukcuk ini menginap di-ranting pohon sawo dibawah daunnya yang rimbun. Kami dapat mengamati dengan sangat baik karena burung ini tidur pada ranting yang tingginya hanya sekitar tiga meter. Kami melihat kasih-sayang induk burung ini kepada anak-anaknya. Ke-esokan harinya latihan terbang terus berlanjut. Anak-anak burung sudah semakin kuat; induknya selalu menemani dan membantu mencarikan makanan. Pagi tadi adalah hari ke-empat, mereka masih berada disekitar rumah kami di ranting pohon mangga dan mengkudu yang tinggi. Empat hari terakhir ini setiap pagi kami selalu dibangunkan oleh suara kicau Crukcuk yang lembut dan merdu berbeda dengan suara Cieklaar yang melengking nyaring…..

Bila kita mengamati kerukunan keluarga burung Crukcuk ini…., melihat bagaimana si-induk merawat, menjaga, mencarikan makan, mengeloni anak-anaknya tidur…… oh, betapa indahnya hidup ini. Pernahkah kita menemukan keindahan ini di dalam kehidupan diri kita…? Keindahan sebuah kasih yang tulus apa adanya. Disekitar kita ada begitu banyak kehidupan yang penuh dengan cinta-kasih apa adanya….., namun mungkin sangatlah sedikit diantara kita yang memperhatikan. Jika kita melihat kehidupan diri kita, orang-orang disekitar…., tiadalah banyak yang merasakan indahnya cinta-kasih. Kita barangkali sangat sering mendengar atau mengucapkan kata-kata kasih, sayang, cinta, welas-asih dan yang sejenisnya. Kita merayakan hari Valentin, dan kita banyak mengarang lagu atau menyanyikan lagu yang berceritra tentang kasih, cinta, sayang….; namun adakah kita sungguh menghayati hal ini….? Kata cinta-kasih ini sedemikian mubazir sehingga maknanya menjadi kabur. Kita menulis demikian banyak konsep-konsep, bahwa cinta-kasih mesti iklas, kasih ibu itu mesti tulus bagai matahari yang hanya memberi dan tak mengharap balasan. Kita sepakat dengan pandangan atau penggambaran umum bahwa cinta-kasih sejati itu mulya, indah, luhur, tulus dan akan mengasilkan kebahagiaan, kemesraan, kerukunan, kedamaian…; demikianlah konsep dan rumusan kita tentang cinta-kasih. Mungkin hal ini baik bila ini sungguh terjadi dalam kehidupan kita. Namun fakta yang terjadi tidak sedikit yang tidak sesuai dengan konsep, penggambaran atau rumusan kita tentang cinta-kasih, bukan…? Kenapa…? Pernahkah kita bertanya-tanya dan menyelidiki….? Kenapa fakta yang ada tidak sesuai dengan rumusan itu…? Dimana letak salahnya…? Atau barangkali rumusan, penggambaran itu yang salah…, ataukah kita yang menjalani yang salah….? Apakah sesungguhnya cinta kasih itu…?

Coba amati disekitar…, sedemikian banyaknya kasus cinta-kasih yang berakhir fatal. Cinta-kasih diantara remaja banyak yang mengalami masalah, bahkan hampir semua kisah cinta tidak ada yang berjalan mulus. Masalah dan rintangan datang dari mana-mana…; baik dari diri masing-masing orang yang menjalankan, maupun dari orang-orang disekitar mereka, dari status sosial, dari kasta, pendidikan, ekonomi, martabat, beda agama dan sebagainya. Seorang remaja putri ningrat mengalami stress karena hubungan cintanya ditentang oleh orang tua mereka, ini karena kasta. Ada lagi yang tidak direstui oleh orang tua mereka karena status sosial atau karena perbedaan kepercayaan. Betapa banyaknya kisah kasih yang berujung derita.

Aku sering bertanya-tanya dalam hati, adakah itu sungguh-sungguh cinta-kasih….? Katakan cinta kasih orang tua kepada anak-anak mereka, yang diharapkan lebih mulya…; seperti kata-kata dalam lagu bahwa kasih ibu bagaikan sang surya yang selalu memberi dengan tulus. Namun dari fakta tidak sedikit orang tua yang merasa kecewa manakala anaknya tidak patuh pada kehendak atau perintahnya. Dan tak sedikit orang tua yang kecewa jika anaknya tidak berhasil dalam hidupnya. Adakah hal ini cinta-kasih…? Kenapa cinta-kasih yang luhur, indah ini bisa berbuah kecewa atau bahkan kemarahan atau penderitaan? Demikian juga, adakah cinta-kasih diantara manusia, rasa kemanusiaan, persaudaraan umat manusia….? Tidakah kita saling membenci…? Ketika kita meng-kelompokan diri dalam partai, dalam agama, dalam sekte, dalam organisasi, dalam suku…., apa yang terjadi…? Lihatlah kebencian ada dimana-mana; peperangan, permusuhan, persaingan, pertikaian antara bangsa, antara kelompok, partai, antara suku, dan konflik didalam diri kita sendiri.

Demikian juga halnya akan cinta-kasih dan bakti manusia pada tuhan. Kita sedemikian rupa membuat pernyataan bahwa kita sangat amat sungguh-sungguh mencinta dan meng-imani tuhan berikut sabdanya yang berupa kitab suci. Bila ada yang mempertanyakan hal ini, kita tak’an mau memikir jawabannya, kita tak bergeming pada ke-imanan kita, dan kadang kita merasa berhak untuk tersinggung, membenci, curiga bahkan membunuh dengan dalih cinta-kasih. Cobalah kita perlahan….; untuk mencinta sesuatu yang nyata saja, seperti mencinta anak-anak, saudara, teman, kerabat, pohon-pohon, alam-lingkungan dan lain-lainnya sangatlah sulit dilakukan apalagi mencinta sesuatu yang abstrak…? Adakah ke-imanan kita yang solid merupakan bukti cinta-kasih kita kepada tuhan yang abstrak….? Dan dari ke-imanan yang solid ini kita menjadi keras dan fanatik…, siap untuk membenci…? Adakah ini cinta-kasih…? Jika kita mau perlahan menyimak…, alam disekitar kita banyak berceritra tentang kasih yang indah dan luhur. Kita tentu dapat belajar banyak dari alam, dari si burung Crukcuk…., bila kita bersedia menyimak.

Lain lagi halnya cinta antara seorang pria dan wanita yang pada umumnya selalu melibatkan unsur sexual dan rasa cemburu. Apakah cinta kasih identik dengan sexual dan rasa cemburu? Cinta-kasih bukanlah hal demikian. Cinta-kasih tidak akan berbuah, rasa cemburu, kekecewaan, kebencian, penderitaan, permusuhan dan lain-lainnya itu. Bila dia berbuah demikian, kita mesti mempertanyakan, meragukan bahwa apa yang kita anggap sebagai cinta-kasih tentu keliru, ada yang salah, bukan…? Hal ini tidaklah muda…., kita tak dapat begitu saja menarik kesimpulan, krn setiap kesimpulan akan menghalangi kita menyimak. Pada-hal menyimak, menyelidik ke-dalam tindakan diri sendiri adalah hal yang mutlak dilakukan, karena hanya dengan demikian kita akan melihat dan memahami.

Apabila kita mau diam menyimak, tiada-lah sulit untuk melihat tindakan diri-sendiri bukan….? Namun kita tak mampu menyimak, melihat dengan kejujuran apa adanya diri kita. Reaksi kita terlalu cepat membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

Kenapa saya kecewa, marah manakala anak-anak saya membantah; bila anak-anak saya gagal jadi orang…? Kenapa saya kecewa, marah….? Bila saya jujur menyimak, tentu saya melihat penyebab dari kekecewaan, kemarahan saya. “Saya ingin berkuasa, berwibawa, maka itu semua orang…, anak-anak, istri, adik-adik dan yang lainnya harus tunduk pada perintah, pada kata-kataku. Aku ingin anak-anaku berhasil, karena dari keberhasilan mereka, martabatku bertambah, popularitasku naik, aku dianggap berhasil mendidik anak-anak-ku, disamping itu aku berharap jaminan hidup di-hari tuaku, berlimpah, uenak, dan nyaman.” Kekecewaan dan kemarahan-ku adalah rasa-takut-ku yang tersamar. Aku takut kehilangan wibawa, takut kehilangan martabat, takut miskin, sengsara di hari tua nanti…, takut pada masa yang akan datang, takut kepada ketidak-pastian…, maka itu aku menginginkan kepastian, kenyamanan hari esok. Demikian juga hal-nya dengan yang lainnya, kenapa aku membenci, tersinggung, cemburu, berperang, curiga, bersaing…., ini semua berawal dari rasa takut-ku yang terselubung, yang berada jauh dilubuk hatiku. Hal ini tak teramati. Rasa-takut ini tertutup dan menyatu dalam ke-IMANanku, hal ini memang sangat sulit untuk dilihat, dipahami. Dari sinilah sumber semua reaksi tindakan diri-ku. Boleh jadi aku adalah orang yang sangat patuh beragama dan mengganggap tindakanku dilandasi cinta-kasih, namun SENYATAnya tindakanku hanyalah reaksi dari rasa-takut…., dan ini bukanlah cinta-kasih. Untuk menguji hal ini sangat mudah, asal aku jujur kepada diri sendiri. Apabila sebuah tindakan mengasilkan, kekecewaan, kebencian, kesedihan, kebanggaan, cemburu, konflik, penderitaan dan lain-lain, maka ini dapat dipastikan bukan bersumber dari cinta-kasih. Si burung Crukcuk tidak kecewa, tidak benci, tidak sedih manakala anak-anak belum bisa terbang, namun dia terus melindungi dan menyemangati agar anak-anak belajar dan berusaha. Demikian juga dia tidak berbangga manakala anak-anaknya telah mampu terbang tinggi. Jadi cinta-kasih bukanlah kebanggaan, bukan kekecewaan, kesedihan atau-pun kebencian. Cinta kasih bukanlah rasa-takut, bukan kepercayaan, doa, harapan maupun cemas. Apakah cinta kasih itu…? Pahami dan buang rasa-takut, harapan, kebanggaan, kekecewaan, kesedihan, kebencian, cemburu, keserakahan, dan yang lainnya, maka sisanya ada di dalam situ…. Kata-kata tak memadai untuk mengurai…, termasuk kata cinta-kasih ini bukanlah faktanya.

 

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: