Beranda > Keheningan > BILL GATES

BILL GATES

Diantara yang sudah biasa menggunakan komputer tentu nama Bill Gates tidak asing. Dia adalah penemu perangkat Mikrosoft yang dipakai dalam menjalankan computer umumnya. Dan secara umum mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana ada seorang manusia dengan kecerdasan seperti Bill Gates. Apabila pertanyaan ini datang dari sebuah kejujuran hati, ini akan menjadi suatu pembelajaran yang sangat berharga. Namun kalau pertanyaan ini merupakan sebuah motif dari pembandingan-diri, ini bisa berkembang menjadi hal yang merusak.

Apabila aku hanyalah seorang staf Kantor Kecamatan, atau seorang pedagang kaki-lima, atau seorang guru, saat aku membandingkan diri dengan seorang Bill Gates, maka akan muncul banyak motif-motif berikutnya sebagai alasan-alasan berupa pertanyaan-pertanyaan, keluhan, angan-angan atau harapan dan lain-lain. “Kenapa aku tidak diberkahi otak cerdas seperti Bill Gates? Seandainya aku atau anaku secerdas dia…, waw, betapa bangganya Aku. Tentu saat ini aku sudah kaya-raya. Aku akan dapat menikmati hidup lebih indah, nikmat dan bahagia….” Demikianlah secara umum kita tanpa sadar suka membanding.

Jika aku seorang pengusaha sukses atau seorang pejabat yang dapat mengumpulkan uang dengan korup, aku selalu merasa bangga-diri saat membanding dengan orang yang kuanggap kurang dari diri-Ku. Perasaan bangga ini memberi rasa nikmat tertentu dan terekam dalam otaku; dari sini aku selalu berusaha memupuknya dengan mengejar kebanggaan-kebanggaan sebanyak mungkin. Namun saat seorang tetangga membeli mobil mewah terbaru dengan harga 10 milyard, aku langsung merasa rendah-diri karena mobilku hanya seharga 100 juta. Demikianlah pembandingan membuat diri melambung tinggi atau terperosok kedalam perasaan minder.

Walau Bill Gates seorang yang cerdas dan kaya-raya, apabila dia memanfaatkan semua fasilitas dirinya untuk membanding guna mengejar kebanggaan-kebanggaan, tiadalah jauh berbeda dengan seorang staf Kantor Kecamatan. Atau seorang Abang Becak yang dengan bangga dapat memberi LIMA RIBU rupiah kepada tetangganya, dari rata-rata penghasilannya yang hanya DUA PULUH RIBU rupiah sehari. Jika dihitung secara persentase apa yang dilakukan oleh si Abang Becak mungkin lebih berharga dibandingkan dengan Bill Gates. Adakah Bill Gates berani menyumbangkan dua puluh lima persen dari kekayaannya seperti si Abang Becak…?

Saat ini katanya Bill Gates adalah orang ke-dua terkaya di-dunia. Seandainya dia membanding dirinya dalam bidang kekayaan dia hanya kalah dari orang nomor satu terkaya yaitu Carlos Slim Helu, dari Meksiko. Dan dalam bidang kepintaran intelektual, sangatlah banyak orang-orang pintar, sehingga ini menjadi relatif. Suatu hal yang perlu kita pertanyakan, adakah kecerdasan, saat kita mengejar kebanggaan dengan membanding…? Saat seseorang menggunakan kekayaannya, kepintarannya, kepopulerannya, atau jabatannya yang merupakan identitas-diri untuk membanding, untuk memperoleh kebanggaan, memupuk kepuasan-diri; maka pengejaran ini telah menjadikan dirinya seorang budak.

Tetapi bagaimana-pun juga Bill Gates telah banyak menyumbangkan kekayaannya untuk masalah-masalah kemanusiaan, lewat Bill &
Melinda Gates Foundation. Ini adalah keluhuran sebuah hati, yang bukan hanya harus ada didalam hati keluarga Bill Gates, namun mesti ada didalam diri setiap orang. Tahun 2007, Bill & Melinda Gates Foundation mendapat gelar filantropi, paling dermawan nomor dua di Amerika. Dan mendapat berbagai penghargaan dari mana-mana, karena kegiatan yang dilakukan yayasannya sungguh-sungguh menyentuh kemanusiaan. Ini adalah pekerjaan mulya dari Bill & Melinda Gates Foundation. Dan hal ini dapat dilakukan oleh siapa-pun. Bukan semata diukur dari besarnya materi yang disumbangkan, namun nilai ketulusan dan kesungguhan yang datang dari sebuah hati yang penuh kasih.

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kita suka membanding? Hal ini mungkin tidak pernah teramati karena tidak menarik hati. Bila kita diam sejenak dan mengamati, kita tentu melihatnya…, yaitu karena kita menginginkan “perasaan lebih.” Kenapa kita ingin “merasa lebih?” Selama membanding kita akan melihat Bill Gates lebih pintar dan lebih kaya. Atau sebaliknya si Gembel lebih bodoh dan lebih miskin. Apabila kita berada disini maka mau tak mau kita kadang merasa melambung kadang merasa terperosok. Disini kita tidak dapat belajar mengamati secara bebas apa-apa yang ada disekitar maupun yang ada didalam diri. Dengan demikian kecerdasan dalam diri tidak memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Dan tanpa kecerdasan, kita tidak akan dapat melihat hakekat kehidupan apa adanya.

Adakah sesuatu yang lebih atau yang kurang dalam kehidupan ini? Pikiranlah yang menilai demikian. Faktanya semua berjalan harmonis, sewajarnya. Aneka kehidupan bertumbuh-kembang sesuai dengan kodrat masing-masing. Evolusi semesta adalah kuasa Adi-kodrati, yang terus bergerak, merupakan misteri kehidupan. Hanyalah sebagian kecil dapat dimengerti oleh otak manusia yang terbatas. Otak Bill Gates yang cerdas-pun tidak mampu memahami misteri semesta. Memahami keterbatasan diri menempatkan kita sebagai agnostik. Realita ini tak dapat disangkal. Melihat hal ini dengan jernih, setidaknya dapat membebaskan kita dari argumentasi ilusi pikiran, dari pembandingan-diri. Dan ini barangkali dapat me-maksimal-kan fungsi otak, logika untuk meningkatkan kecerdasan, sehingga kita semua bisa secerdas Bill Gates.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: